BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Pagi itu, Masjid Agung Baitur Ridha di Kompleks Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Mentok, tidak hanya menjadi tempat ibadah. Pada Rabu (30/9/2026), masjid tersebut menjadi ruang bertemunya harapan puluhan keluarga yang sedang berjuang mempertahankan pendidikan anak-anak mereka.
Melalui Program Bangka Barat Cerdas, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bangka Barat menyalurkan bantuan biaya pendidikan kepada puluhan penerima manfaat dari berbagai jenjang pendidikan. Mereka berasal dari sekolah dasar, SMP dan sederajat, SMA/SMK dan madrasah, pondok pesantren hingga perguruan tinggi.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari distribusi bantuan mustahik Baznas Bangka Barat. Dalam surat undangan Nomor 070/BAZNAS-BB/IX/2026, tertanggal 30 September 2026, kegiatan dijadwalkan mulai pukul 09.00 WIB di Masjid Agung Baitur Ridha Mentok dengan agenda penyerahan bantuan biaya pendidikan.
Ketua Baznas Kabupaten Bangka Barat, Drs. Lili Suhendra Nato mengatakan, program tersebut berangkat dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan keluarga tentang biaya pendidikan yang harus dipenuhi ketika kemampuan ekonomi orang tua terbatas.
“Pada dasarnya meringankan beban orang tua,” kata Lili saat ditemui di sela kegiatan.
Beban itu, kata dia, tidak selalu berupa uang sekolah. Ketika tahun ajaran baru datang, orang tua kembali berhadapan dengan kebutuhan seragam, pakaian pramuka, pakaian batik, pakaian olahraga hingga sepatu.
“Setiap awal tahun itu kan harus membeli seragam baru, baju pramuka baru, baju batik baru, baju olahraga baru, sepatu baru,” ujarnya.
Bagi keluarga yang penghasilannya tidak tetap, kebutuhan tersebut dapat menjadi persoalan tersendiri.
“Masyarakat yang memang penghasilannya tidak tentu sulit pengadaan. Sementara sekolah menuntut. Mereka mengajukan bantuan kepada Baznas, tolong dibantu,” tutur Lili.
Persoalan yang ditangani Baznas ternyata lebih dalam daripada sekadar membantu membeli perlengkapan sekolah.
Ada anak-anak yang harus berhadapan dengan tunggakan biaya pendidikan karena orang tua mereka tidak lagi mampu membayar.
Lili mencontohkan pengajuan dari SMP Muhammadiyah Mentok. Ia menyebut sekitar belasan siswa di sekolah tersebut mengalami keterlambatan pembayaran dan kesulitan memenuhi biaya pendidikan.
“Mereka rata-rata terlambat, menunggak, kesulitan membayar uang sekolah. Nunggak, tidak bisa membayar lagi,” katanya.
Pihak sekolah kemudian mengajukan bantuan kepada Baznas agar biaya pendidikan siswa yang mengalami kesulitan tersebut dapat dibantu.
“Akhinya mereka mengajukan ke Baznas supaya anak-anak dibayarkan uang sekolahnya,” ujar Lili.
Persoalan serupa, menurut Lili, juga muncul di sejumlah lembaga pendidikan lain. Pengajuan bantuan datang dari sekolah Muhammadiyah, sekolah kejuruan, sekolah dasar, madrasah dan lembaga pendidikan lainnya.
Di sinilah bantuan pendidikan memiliki makna yang lebih panjang. Yang dibantu bukan hanya pembayaran hari ini, tetapi keberlanjutan seorang anak untuk tetap berada di lingkungan pendidikan.
Kebutuhan bantuan pendidikan juga tidak selalu datang pada waktu yang sama.
Menurut Lili, pengajuan umumnya meningkat ketika memasuki tahun ajaran baru, saat keluarga harus memenuhi berbagai perlengkapan sekolah. Pengajuan juga dapat muncul ketika siswa menghadapi ujian dan kewajiban administrasi pendidikan.
“Biasanya mereka minta ini pada saat tahun ajaran baru atau pada saat mau ujian,” katanya.
Dalam kondisi tertentu, siswa dapat mengalami persoalan administrasi akibat belum terpenuhinya kewajiban pembayaran.
“Kan tidak bisa membayar,” ujar Lili.
Karena itu, Baznas berupaya merespons pengajuan masyarakat sesuai dengan kemampuan dana yang tersedia.
“Selama kita ada duit, Bismillah selesai,” katanya.
Kalimat tersebut menggambarkan bagaimana kebutuhan pendidikan di lapangan sering kali hadir dalam bentuk yang sangat konkret ketika seorang anak membutuhkan seragam, sebuah keluarga memiliki tunggakan, atau seorang siswa membutuhkan bantuan agar proses pendidikannya dapat terus berjalan.
Dari SD, SMP, SMA hingga Mahasiswa
Daftar penerima manfaat memperlihatkan luasnya cakupan bantuan pendidikan Baznas Bangka Barat.
Pada jenjang SD, terdapat penerima dari:
SD Negeri 2 Mentok;
SD Muhammadiyah Mentok.
Pada jenjang SMP dan sederajat, bantuan diberikan kepada penerima dari:
SMP Muhammadiyah Mentok;
Madrasah Tsanawiyah Halimatussa’diyah/SMP;
SMP Negeri 1 Mentok;
SMP Negeri 5 Mentok;
SMP Negeri 2 Mentok;
SMP Negeri 1 dan MAN Mentok;
SMP Queen Al Falah Kediri, Jawa Timur.
Jika seluruh daftar individual yang diberikan dihitung, kelompok SMP dan sederajat mencapai belasan penerima.
Untuk jenjang SMA/SMK dan sederajat, penerima berasal dari:
SMA Negeri 1 Mentok;
MAN Mentok;
SMK Negeri 1 Mentok;
SMK Muhammadiyah Mentok;
SMK Bina Karya 1 Mentok;
Madrasah Aliyah Negeri 1 Mentok.
Total penerima pada kelompok SMA/SMK dan sederajat mencapai belasan orang.
Sementara itu, bantuan juga menjangkau para santri dari:
Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Zaid Bin Tsabit, Bekasi;
Pondok Pesantren Al-Islam, Desa Kemuja;
Pondok Pesantren Al Fatah Nibung, Kabupaten Bangka Tengah.
Tidak berhenti di bangku sekolah, Program Bangka Barat Cerdas juga menyentuh tiga mahasiswa, masing-masing dari Universitas Atma Luhur, Universitas Terbuka dan Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung.
Dengan demikian, total penerima manfaat pendidikan dalam daftar tersebut mencapai puluhan orang.
Angka puluhan mungkin terlihat sederhana jika hanya ditulis dalam sebuah laporan.
Namun setiap angka memiliki cerita berbeda.
Ada siswa SD yang membutuhkan perlengkapan sekolah. Ada pelajar SMP yang keluarganya kesulitan membayar biaya pendidikan. Ada siswa SMA dan SMK yang harus mempertahankan pendidikannya. Ada santri yang menempuh pendidikan agama jauh dari tempat tinggal. Ada mahasiswa yang masih membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan pendidikan tinggi.
Dalam konteks itulah zakat tidak berhenti sebagai angka penghimpunan dan penyaluran.
Ia berubah menjadi kesempatan.
Kesempatan seorang anak untuk tetap mengenakan seragam. Kesempatan seorang siswa untuk menyelesaikan sekolah. Kesempatan seorang santri untuk melanjutkan pendidikan. Kesempatan seorang mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan tingginya.
Program tersebut juga menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya berbicara mengenai pembangunan ruang kelas, fasilitas sekolah atau sarana pembelajaran.
Ada persoalan ekonomi keluarga yang juga harus diperhatikan.
Ketika keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan, dukungan sosial menjadi salah satu mata rantai yang dapat membantu anak tetap berada dalam sistem pendidikan.
Dalam daftar penyaluran yang sama, Baznas Bangka Barat juga mencantumkan satu penerima bantuan modal usaha laundry.
Artinya, pola bantuan yang dijalankan tidak hanya menyentuh kebutuhan pendidikan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Bantuan modal usaha tersebut memiliki dimensi berbeda dengan bantuan pendidikan. Jika bantuan pendidikan diarahkan untuk menopang keberlanjutan proses belajar, bantuan modal usaha diarahkan untuk membantu penerima membangun aktivitas ekonomi.
Keduanya bertemu pada satu tujuan sosial untuk membantu mustahik menghadapi keterbatasan ekonomi dengan bentuk dukungan yang sesuai kebutuhan.
Lili juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam memperkuat pelaksanaan program Baznas.
Menurutnya, organisasi perangkat daerah (OPD) dan pihak terkait perlu mengetahui berbagai kegiatan Baznas agar koordinasi dan mobilitas program di lapangan semakin mudah.
“Sebetulnya lintas sektor itu mereka harus tahu bahwa inilah kegiatan Baznas. Selain memberikan kepada umum, juga memberikan bantuan kepada pendidikan,” katanya.
Bagi Baznas, sinergi tersebut penting karena persoalan sosial dan pendidikan tidak berdiri sendiri.
Sekolah mengetahui persoalan siswanya. Pemerintah memiliki perangkat pelayanan masyarakat. Sementara Baznas memiliki mekanisme pengelolaan dan penyaluran zakat kepada mustahik.
Jika ketiganya terhubung, informasi mengenai masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat lebih mudah ditindaklanjuti.
“Harapan kami, mudah-mudahan ke depan langkah kerja samanya tetap. Ada kerja sama antara Baznas dengan beberapa OPD terkait,” ujar Lili.
Pada akhirnya, cerita tentang bantuan pendidikan Baznas Bangka Barat bukan hanya cerita tentang uang yang diserahkan pada sebuah pagi di Masjid Agung Baitur Ridha.
Ini menjadi cerita tentang keluarga yang harus memilih di tengah kebutuhan.
Tentang seragam yang harus dibeli ketika penghasilan belum tentu datang setiap bulan. Tentang uang sekolah yang menunggak. Tentang siswa yang tetap ingin belajar meski kemampuan ekonomi keluarganya terbatas. Tentang orang tua yang berusaha mempertahankan pendidikan anaknya.
Tentang sebuah lembaga zakat yang berusaha hadir di celah persoalan tersebut.
Sebanyak puluhan penerima manfaat pendidikan menjadi bagian dari ikhtiar Baznas Bangka Barat melalui Program Bangka Barat Cerdas.Dari SD hingga perguruan tinggi, dari sekolah umum hingga madrasah dan pesantren, bantuan itu membawa pesan yang sama bahwa pendidikan bukan hanya tentang siapa yang mampu membayar, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memastikan kesempatan belajar tetap terbuka bagi mereka yang sedang kesulitan.
Sebab ketika seorang anak tetap bersekolah hari ini, yang sesungguhnya sedang dijaga bukan hanya satu semester pendidikan.
Yang sedang dijaga kemungkinan masa depannya.
Penulis: Belva Al Akhab


