BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Di balik satu kantong darah yang terkumpul, ada kemungkinan sebuah kehidupan terselamatkan.
Karena itu, bagi Palang Merah Indonesia (PMI) Bangka Barat, membangun ketersediaan darah tidak cukup hanya dengan menggelar kegiatan donor sesekali. Dibutuhkan kesadaran, pendonor sukarela, serta kemitraan yang mampu menjaga gerakan kemanusiaan tersebut tetap berjalan secara berkelanjutan.
Upaya itu salah satunya dibangun bersama PT Timah. Perusahaan tersebut mendorong karyawannya untuk menjadi bagian dari basis pendonor sukarela PMI Bangka Barat melalui kegiatan donor darah yang direncanakan berlangsung secara rutin.
Division Head Processing and Refinery PT Timah, Sofian Simagusong, mengatakan perusahaan selama ini memiliki hubungan dekat dengan PMI Bangka Barat. Dalam berbagai kegiatan besar perusahaan, PMI kerap diundang untuk membuka layanan donor darah.
“Selama ini kami punya hubungan dekat dengan PMI, khusus PMI Bangka Barat. Setiap kita ada kegiatan besar, kita selalu mengundang PMI untuk melakukan donor darah,” kata Sofian saat ditemui di Kantor PMI Bangka Barat, Selasa (22/9/2026) dalam kegiatan pemberian penghargaan bagi pendonor sukarela yang telah mendonorkan darah sebanyak 25 kali.
Menurut Sofian, keterlibatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sosial tempat PT Timah menjalankan aktivitasnya.
PT Timah, kata dia, tidak hanya memandang masyarakat sebagai pihak di luar perusahaan. Para karyawan juga merupakan bagian dari masyarakat Bangka Barat sehingga memiliki tanggung jawab yang sama untuk mengambil bagian dalam persoalan kemanusiaan.
“Kami merasa kami berusaha di area Bangka Barat, tentu kami harus harmonis dengan masyarakat di sini. Salah satunya juga dengan PMI,” ujarnya.
Sofian mengatakan salah satu tantangan dalam meningkatkan jumlah pendonor bukan semata-mata persoalan kemampuan seseorang untuk mendonorkan darah, melainkan kesadaran mengenai arti penting donor darah.
Menurut dia, masih ada masyarakat, termasuk karyawan perusahaan, yang belum sepenuhnya memahami bahwa darah yang mereka sumbangkan dapat menjadi pertolongan bagi orang lain.
“Masih banyak belum memahami pentingnya donor sukarela ini. Walaupun sebenarnya mereka mampu, cuma kadang tidak begitu memahami pentingnya, setelah disalurkan kita bisa menyelamatkan nyawa orang,” katanya.
Karena itu, sosialisasi menjadi bagian penting dari kerja sama PT Timah dengan PMI Bangka Barat.
Kesadaran tersebut tidak dibangun hanya ketika kegiatan donor darah berlangsung. PT Timah ingin memberikan pemahaman kepada karyawan secara terus-menerus agar donor darah tumbuh sebagai kebiasaan sosial, bukan sekadar partisipasi dalam sebuah agenda perusahaan.
“Kami selalu terus-menerus dengan PMI untuk kesadaran,” kata Sofian.
Bagi PMI, keberadaan pendonor sukarela merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan kemanusiaan. Sementara bagi perusahaan, membangun kesadaran di lingkungan kerja menjadi salah satu bentuk kontribusi sosial yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Dengan jumlah karyawan yang cukup besar di Bangka Barat, PT Timah melihat lingkungan internal perusahaan memiliki potensi untuk menjadi salah satu sumber pendonor bagi PMI.
“Kami ingin karyawan kami yang populasinya cukup banyak di sini bisa sebagai sumber pendonor utama ke PMI Bangka Barat,” ujar Sofian.
Untuk mewujudkan hal tersebut, PT Timah bersama PMI Bangka Barat telah merencanakan kegiatan donor darah secara rutin.
Donor darah ditargetkan berlangsung sedikitnya tiga kali dalam setahun dan dilakukan secara terkoordinasi.
“Kami dengan PMI sudah merencanakan akan melakukan donor rutin minimal tiga kali setahun yang akan terkoordinir,” katanya.
Menurut Sofian, pola tersebut memungkinkan perusahaan melakukan sosialisasi lebih awal kepada karyawan. Dengan perencanaan yang lebih matang, calon pendonor memiliki waktu untuk mempersiapkan diri dan mengetahui jadwal kegiatan donor darah.
“Dengan perencanaan yang matang, kami bisa mencoba sosialisasi dengan jauh-jauh hari ke karyawan kami sendiri sehingga harapannya jumlah pendonor setiap kegiatan itu akan bisa semakin besar,” ujarnya.
Komitmen tersebut telah terlihat dalam kegiatan donor darah yang dilakukan PT Timah sekitar Agustus 2026.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 80 kantong darah berhasil dikumpulkan.
“Di kegiatan terakhir kami cukup banyak, sekitar bulan Agustus kemarin kami bisa sekitar 80 kantong,” kata Sofian.
Jumlah tersebut menjadi pijakan bagi PT Timah untuk meningkatkan partisipasi karyawan pada kegiatan-kegiatan berikutnya.
“Jadi ke depan kami ingin itu semakin banyak, semakin meningkat,” ujarnya.
Target tersebut bukan hanya tentang bertambahnya angka kantong darah. Di balik setiap kantong terdapat manusia yang memilih untuk memberikan sebagian dari dirinya kepada orang yang bahkan mungkin tidak pernah dikenalnya.
Seorang pendonor tidak selalu mengetahui siapa yang kelak menerima darahnya. Darah itu dapat berpindah dari ruang donor menuju fasilitas kesehatan, kemudian menjadi bagian dari ikhtiar medis untuk membantu pasien yang membutuhkan.
Di situlah donor darah menemukan maknanya sebagai aksi kemanusiaan.
Pembangunan PMI di tingkat daerah pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang gedung, fasilitas atau kegiatan organisasi. Ia juga menyangkut kemampuan membangun jaringan manusia yang bersedia hadir ketika kebutuhan kemanusiaan datang.
Pendonor sukarela merupakan bagian dari jaringan tersebut.
Kemitraan dengan dunia usaha seperti PT Timah dapat memperluas ruang bagi PMI untuk menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki potensi menjadi pendonor. Lingkungan perusahaan dengan jumlah karyawan yang besar menjadi salah satu ruang sosial yang dapat dikembangkan menjadi komunitas donor darah.
Kerja sama itu sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan daerah memiliki dimensi yang lebih luas daripada pembangunan fisik.
Ada pembangunan yang tidak selalu terlihat dalam bentuk jalan, gedung atau fasilitas baru. Pembangunan itu tumbuh melalui kesadaran manusia untuk saling membantu.
Di ruang donor darah, jarak antara perusahaan dan masyarakat menjadi lebih sederhana. Tidak ada jabatan, status sosial maupun kepentingan yang menjadi pembeda.
Yang ada hanya seseorang yang bersedia duduk, mengulurkan lengannya, lalu memberikan sebagian dari darahnya untuk orang lain.
Bagi PT Timah, langkah tersebut menjadi bagian dari kontribusi sosial perusahaan di Bangka Barat.
Bagi PMI, dukungan itu dapat memperkuat gerakan donor sukarela.
Bagi seseorang yang suatu hari membutuhkan darah, satu kantong yang dikumpulkan hari ini bisa menjadi harapan yang datang pada saat paling genting.
Sebab dalam kerja kemanusiaan, bantuan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Kadang ia hanya berupa darah yang mengalir perlahan dari tubuh seorang pendonor ke sebuah kantong kecil kemudian menjadi kesempatan hidup bagi orang lain.
Penulis: Belva Al Akhab


