MASIH segar dalam ingatan publik, ketika Paiman Raharjo, tokoh sentral Relawan Sedulur Jokowi melontarkan ultimatum keras kepada para pemburu isu ijazah palsu Jokowi dan awak media. Dengan nada ancaman, ia berkata, “Kepada para awak media, untuk sementara jangan membahas isu ijazah Jokowi dicetak di Pasar Pramuka Pojok, karena terjadi gejolak di kalangan Relawan Sedulur Jokowi di beberapa wilayah Jakarta. Ini bisa meluas dan menimbulkan kegaduhan.”
Dari pilihan kata yang digunakan, jelas Paiman ingin menunjukkan bahwa militansi dan loyalitas relawan Jokowi tegak lurus tanpa goyah. Seakan-akan mereka adalah “mesin perang” yang siap mengorbankan jiwa raga demi Jokowi.
Namun, belum genap setahun pemerintahan Prabowo berjalan, politik nasional seakan dilanda pandemi baru: virus politik “kutu loncat”. Berdasarkan pantauan di lapangan, kubu Jokowi justru menjadi zona merah paling rentan. Beberapa tokoh relawan seperti Budi Arie, Maruarar Sirait, dan Maman Abdulrahman kini “dikarantina” karena terinfeksi varian paling berbahaya: varian PAPA (Pengkhianat), yang tingkat penularannya sangat agresif.
Fenomena ini melahirkan tontonan sinetron politik bertajuk “Pindah Majikan”, dengan pemeran utama Budi Arie, Maruarar Sirait, dan Maman Abdulrahman. Publik mulai mencium gejala kesepian yang dialami Jokowi, ditinggalkan relawan yang dulu menjadi tamengnya. Semua ini terjadi karena Jokowi sudah tak lagi memegang “ilmu kanuragan” pasca lengser dari kursi presiden.
Pelajaran yang bisa diambil, loyalitas yang dibangun antara relawan dan Jokowi ternyata hanya diikat oleh kepentingan pragmatis. Militansi dan kesetiaan tegak lurus hanyalah mitos. Sinetron politik “Pindah Majikan” menyuguhkan pesan moral pahit bahwa pengkhianatan semacam ini sama sekali tidak mencerminkan kultur “bangsa pemenang”.
Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)
Catatan : Tulisan berupa opini ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis

