BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Wakil Bupati Bangka Barat H Yus Derahman turun langsung menanam bibit mangrove di Pantai Telbi Bozem, Kampung Teluk Rubiah, Kecamatan Mentok, Bangka Barat, Rabu (2/9/2026). Kegiatan tersebut digelar Kodim Bangka Barat dalam rangkaian HUT ke-81 TNI.
Yus Derahman mengikuti penanaman bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran Kodim Bangka Barat, pelajar dan masyarakat.
Kegiatan berlangsung secara gotong royong. Yus tampak ikut menanam bibit mangrove di kawasan pesisir tersebut.
Bagi Yus, kegiatan penanaman mangrove bukan sekadar agenda memperingati HUT TNI. Menurutnya, menjaga ekosistem pesisir merupakan bagian penting dari pembangunan daerah.
“Menanam mangrove bukan hanya menanam pohon, tetapi menanam harapan bagi masa depan pesisir kita. Apa yang kita tanam hari ini mungkin belum langsung kita rasakan manfaatnya, tetapi kelak dapat menjadi pelindung bagi masyarakat, habitat bagi kehidupan laut, sekaligus warisan lingkungan bagi anak cucu kita,” ujar Yus Derahman, Selasa (2/9/2026).
Ia menilai pembangunan daerah harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan. Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, kata dia, tidak boleh mengorbankan ekosistem yang menjadi ruang hidup masyarakat.
“Bagi kami, pembangunan harus berjalan seimbang. Ekonomi tumbuh, masyarakat sejahtera, tetapi lingkungan juga harus tetap kita jaga. Jangan sampai kita membangun hari ini dengan mengorbankan kehidupan generasi yang akan datang,” katanya.
Penanaman mangrove di Teluk Rubiah juga melibatkan pelajar. Mereka tidak hanya hadir menyaksikan kegiatan, tetapi ikut menanam bibit bersama aparat dan masyarakat.
Yus menilai keterlibatan generasi muda penting untuk membangun kesadaran lingkungan sejak dini.
“Anak-anak kita perlu melihat dan merasakan langsung bahwa menjaga lingkungan menjadi bagian dari kehidupan. Ketika mereka ikut menanam, merawat dan melihat pohon itu tumbuh, sesungguhnya kita sedang menanam kesadaran di dalam diri mereka,” tuturnya.
Menurutnya, pendidikan lingkungan tidak cukup dilakukan melalui teori. Pengalaman langsung di lapangan dapat membuat generasi muda memahami bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama.
Mangrove sendiri memiliki sejumlah fungsi ekologis. Ekosistem ini dapat membantu melindungi garis pantai, menjadi habitat berbagai biota, mendukung kehidupan perikanan dan menyimpan karbon.
Karena itu, keberadaan mangrove memiliki kaitan langsung dengan keberlanjutan kawasan pesisir dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.
Yus mengingatkan penanaman mangrove tidak boleh berhenti setelah bibit ditanam. Menurutnya, keberhasilan kegiatan lingkungan justru ditentukan oleh keberlanjutan perawatan setelah kegiatan selesai.
“Menanam itu mudah, tetapi merawatnya membutuhkan komitmen. Karena itu, setelah kegiatan ini selesai, tanggung jawab kita belum selesai. Justru di situlah pekerjaan sesungguhnya dimulai,” tegasnya.
Ia mengatakan kawasan mangrove membutuhkan perhatian bersama. Pemerintah, TNI, dunia pendidikan dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
“Lingkungan menjadi rumah bersama. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. TNI tidak mungkin bekerja sendiri, masyarakat juga tidak mungkin berjalan sendiri. Kalau semua bergerak bersama, saya yakin kita bisa menjaga Bangka Barat bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang akan datang,” pungkas Yus.
Kegiatan di Teluk Rubiah menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi pemerintah, TNI dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Di kawasan pesisir, mangrove memiliki fungsi sebagai pelindung alami sekaligus bagian dari habitat berbagai organisme. Karena itu, rehabilitasi mangrove membutuhkan lebih dari sekadar penanaman.
Bibit yang telah ditanam perlu dirawat, kawasan perlu dipantau, sementara faktor yang berpotensi merusak ekosistem harus dikendalikan.
FAO menyebut mangrove memiliki jasa ekosistem penting, termasuk perlindungan pesisir, habitat keanekaragaman hayati, dukungan terhadap perikanan dan penyimpanan karbon. UNEP juga menempatkan mangrove sebagai ekosistem penting dalam menghadapi perubahan iklim dan menjaga masyarakat pesisir.
Bagi Bangka Barat, pesan yang muncul dari Teluk Rubiah cukup sederhana bahwa pembangunan tidak hanya tentang apa yang berhasil dibangun hari ini, tetapi juga tentang apa yang mampu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab jalan dan bangunan dapat diperbaiki ketika rusak.
Namun ekosistem yang telah kehilangan fungsi membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.
Karena itu, di Teluk Rubiah, Yus Derahman memilih menanam.
Satu bibit mungkin belum berarti banyak hari ini.
Tetapi jika dirawat, ia dapat tumbuh menjadi bagian dari benteng alami pesisir.
Dari akar-akar kecil itulah, sebuah pesan pembangunan sedang ditegakkan. Bangka Barat harus tumbuh bersama lingkungannya, bukan dengan mengorbankannya. (Belva)


