Penulis: Belva Al Akhab dan Tim Investigasi
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Pelabuhan Tanjung Kalian di Mentok, Bangka Barat, kembali menjadi sorotan publik setelah rentetan kasus penyelundupan barang ilegal terus berulang dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari timah, solar ilegal, hingga narkotika jenis sabu, semuanya pernah digagalkan aparat saat hendak keluar maupun masuk melalui pelabuhan utama penghubung Bangka dan Sumatera itu.
Di tengah arus kendaraan dan penumpang yang terus meningkat setiap hari, masyarakat kini mulai mempertanyakan keseriusan sistem keamanan di pelabuhan tersebut. Desakan terhadap PT ASDP Indonesia Ferry sebagai pengelola pelabuhan pun menguat, terutama terkait belum adanya alat pemindai X-Ray untuk pemeriksaan kendaraan dan barang.
“Kalau bandara bisa pakai X-Ray, kenapa pelabuhan sebesar ini tidak?” kata Ali (60), warga Mentok yang meminta namanya disamarkan, Rabu (27/05/2026).
Pernyataan itu muncul bukan tanpa alasan. Dalam kurun 2019 hingga 2026, aparat penegak hukum berkali-kali mengungkap penyelundupan besar di kawasan Pelabuhan Tanjung Kalian.
Pada Maret 2019, Polres Bangka Barat menggagalkan penyelundupan 80 ton solar ilegal. Kemudian pada Maret 2024, aparat kembali mengamankan dua kurir narkoba dengan barang bukti 35 kilogram sabu.
Kasus lain terus bermunculan.
Pada Juni 2024, sebuah truk yang membawa empat ton pasir dan balok timah tanpa dokumen terjaring razia rutin di area pelabuhan. Agustus 2024, Dit Polairud Polda Bangka Belitung menangkap seorang pria asal Palembang dengan satu kilogram sabu.
Desember 2024, aparat menemukan 14 fiber berisi 40 keping timah. Sementara pada Juni 2025, BNN Provinsi Bangka Belitung menggagalkan penyelundupan 15 kilogram sabu senilai Rp 15 miliar yang disembunyikan di jok mobil modifikasi.
Awal 2026, aparat kembali menemukan 10 ton timah senilai Rp 5 miliar yang disamarkan di dalam fiber berisi udang. Terbaru, Mei 2026, Satlap Tri Cakti bersama Intelrem 045/Garuda Jaya kembali menggagalkan pengiriman 1,2 ton timah balok.
Rentetan kasus itu memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: berapa banyak barang ilegal yang berhasil lolos tanpa terdeteksi?
Pelabuhan Tanjung Kalian selama ini dikenal sebagai pintu utama keluar masuk barang dan penumpang dari Bangka menuju Palembang maupun sebaliknya. Setiap hari, ratusan kendaraan logistik, truk angkutan, mobil pribadi hingga bus penumpang memadati kawasan dermaga.
Namun tingginya mobilitas itu dinilai belum diimbangi sistem pengawasan yang memadai.
Modus penyelundupan pun semakin berkembang. Ada timah yang disembunyikan dalam fiber udang, sabu di jok kendaraan modifikasi, hingga barang tanpa dokumen yang bercampur dengan kendaraan umum.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat menilai pengawasan di pelabuhan masih memiliki banyak celah.
“Yang tertangkap mungkin ada. Tapi masyarakat juga percaya ada yang lolos,” ujar Sandi (35) nama di samarkan, seorang tokoh masyarakat di Mentok
Sorotan terhadap sistem keamanan semakin kuat setelah muncul rencana pembangunan dermaga baru di Pelabuhan Tanjung Kalian. Pembangunan itu disebut bertujuan mengurangi antrean kendaraan dan meningkatkan kapasitas pelayanan penyeberangan.
Namun warga menilai pembangunan fisik pelabuhan seharusnya dibarengi pembenahan sistem keamanan secara menyeluruh.
Sebab tanpa pengawasan yang kuat, perluasan dermaga justru dikhawatirkan memperbesar ruang gerak praktik penyelundupan.
Masyarakat kini mulai mendorong agar ASDP dan pihak terkait tidak hanya fokus pada peningkatan infrastruktur, tetapi juga memperkuat sistem kontrol keamanan modern seperti penggunaan alat X-Ray kendaraan, pengawasan digital terpadu, hingga pemeriksaan logistik yang lebih ketat.
Menurut warga, Pelabuhan Tanjung Kalian bukan sekadar lokasi penyeberangan, tetapi gerbang utama Bangka Belitung yang menyangkut keamanan distribusi barang, ekonomi daerah, hingga masa depan generasi muda dari ancaman narkotika.
“Jangan sampai pelabuhan hanya ramai oleh kendaraan, tapi lemah dalam pengawasan,” kata warga lainnya.
Di tengah padatnya arus penyeberangan, kritik terhadap Tanjung Kalian kini tidak lagi sekadar soal antrean panjang atau pelayanan kapal. Yang mulai dipersoalkan masyarakat tentang bagaimana sebuah pelabuhan strategis bisa berkali-kali muncul dalam kasus penyelundupan dengan modus yang terus berkembang.
Selama sistem keamanan belum dibenahi secara serius, Tanjung Kalian akan terus dibayangi pertanyaan yang sama: apakah pelabuhan ini benar-benar sudah aman, atau justru masih menjadi jalur yang terlalu mudah ditembus jaringan ilegal? (BELVA)


