Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80 di Desa Air Limau, Kecamatan Mentok, Bangka Barat, Jumat (12/6/2026), menghadirkan pesan yang berbeda dari sekadar seremoni tahunan.
Di tengah hamparan lahan terbuka yang berbatasan dengan perkebunan sawit, puluhan bibit pohon ditanam bersama oleh jajaran Polres Bangka Barat, Kodim 0431/Bangka Barat, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, PT Timah, Forkopimda dan masyarakat.
Namun perhatian tidak hanya tertuju pada pohon-pohon yang ditanam.
Kehadiran Wakil Bupati Bangka Barat H. Yus Derahman yang turun langsung ke lokasi dan ikut menanam bibit pohon menjadi simbol kuat tentang arah pembangunan yang ingin dibangun di Bangka Barat.
Di saat banyak daerah berlomba berbicara soal investasi dan pembangunan fisik, Yus justru mengingatkan bahwa masa depan daerah juga ditentukan oleh kemampuan menjaga lingkungan hidup.
“Kami sangat mengapresiasi aksi nyata Polres Bangka Barat dalam menyambut HUT Bhayangkara ke-80 ini. Penanaman pohon ini membuktikan bahwa Polri hadir tidak hanya menjaga keamanan masyarakat, tetapi juga peduli terhadap keberlangsungan lingkungan hidup,” kata Yus Derahman.
Menurutnya, pohon yang ditanam hari ini bukan sekadar tanaman biasa.
“Setiap bibit yang kita tanam merupakan investasi kehidupan bagi generasi mendatang. Ini bukan hanya seremonial, tetapi langkah konkret menjaga kelestarian alam, mencegah bencana, dan mendukung ekonomi hijau atau green economy,” ujarnya.
Banyak orang menganggap kegiatan menanam pohon hanya sebatas simbolis.
Padahal para ahli lingkungan menyebut pohon memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan alam.
Pohon mampu menyerap karbon dioksida yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global. Akar pohon membantu meningkatkan kemampuan tanah menyerap air sehingga dapat mengurangi risiko banjir dan erosi. Selain itu, pohon juga menjaga kualitas udara, menurunkan suhu lingkungan, serta menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup.
Dalam konteks Bangka Belitung yang selama puluhan tahun memiliki ketergantungan terhadap sektor ekstraktif, upaya penghijauan menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, penanaman pohon bukan sekadar kegiatan seremonial.
Ia merupakan investasi ekologis jangka panjang yang manfaatnya baru akan dirasakan bertahun-tahun kemudian.
Di sinilah pesan yang disampaikan Yus Derahman menjadi relevan.
Pembangunan daerah, menurutnya, tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga harus memikirkan keberlangsungan sumber daya alam yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di lokasi kegiatan, Yus Derahman tidak hanya berdiri memberikan sambutan.
Ia memilih ikut memegang bibit, berjalan ke titik penanaman dan menanam pohon bersama peserta lainnya.
Sikap tersebut memperlihatkan pendekatan kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat dan tidak berjarak dengan persoalan lingkungan.
Dalam dunia kepemimpinan modern, tindakan nyata sering kali lebih kuat dibanding pidato panjang.
Ketika seorang pemimpin turun langsung ke lapangan, pesan yang diterima masyarakat bukan hanya tentang program pemerintah, tetapi juga tentang komitmen dan keteladanan.
Melalui kegiatan di Air Limau, Yus Derahman secara tidak langsung membangun pesan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari agenda pembangunan daerah.
Citra ini menjadi penting di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap isu perubahan iklim, kerusakan lingkungan dan ancaman krisis sumber daya alam.
Pesan yang muncul sederhana namun kuat terhadap pembangunan harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan.
Peringatan HUT Bhayangkara ke-80 kali ini juga memperlihatkan bahwa menjaga keamanan tidak hanya berarti melindungi masyarakat dari tindak kriminalitas.
Menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari menjaga keamanan masa depan.
Lingkungan yang rusak dapat memicu bencana, konflik sumber daya, berkurangnya ketersediaan air, hingga menurunnya kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, kegiatan penanaman pohon di Air Limau memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding agenda seremonial tahunan.
Di balik setiap bibit yang ditanam terdapat harapan agar tanah tetap subur, udara tetap bersih dan sumber air tetap tersedia bagi generasi mendatang.
Yus Derahman juga menegaskan bahwa keberhasilan menjaga lingkungan tidak bisa dibebankan kepada pemerintah semata.
Menurutnya, diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, generasi muda hingga warga biasa.
Kolaborasi yang terlihat di Air Limau menjadi contoh bagaimana berbagai pihak dapat bersatu dalam satu tujuan yang sama.
Ketika acara selesai dan para peserta mulai meninggalkan lokasi, puluhan bibit muda masih berdiri tegak di atas tanah Air Limau.
Hari ini mereka mungkin tampak kecil.
Namun beberapa tahun mendatang, pohon-pohon itu akan menjadi saksi bahwa pada HUT Bhayangkara ke-80, masyarakat Bangka Barat tidak hanya merayakan usia institusi Polri.
Mereka sedang menanam masa depan.
Seperti yang disampaikan Yus Derahman, masa depan itu dimulai dari satu hal sederhana yang sering diabaikan banyak orang tentang sebatang bibit pohon. (BELVA)

