Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM – Tidak semua pembangunan meninggalkan debu. Tidak semua pembangunan membutuhkan alat berat. Sebagian justru dimulai dari sesuatu yang sangat kecil: seorang anak yang membuka buku, mendengarkan gurunya, kemudian mulai bertanya tentang kehidupan yang bahkan belum ia jalani.
Di SMP Negeri 3 Mentok, Bangka Barat, Senin (10/8/2026), proses semacam itu sedang diupayakan melalui Sekolah Siaga Kependudukan (SSK).
Program ini membawa persoalan kependudukan ke ruang yang paling dekat dengan masa depan tentang sekolah.
Anak-anak diperkenalkan pada pembangunan keluarga, kesehatan, pendidikan, gizi, persoalan pernikahan dini, stunting, hingga pentingnya merencanakan kehidupan.
Sebab ketika seorang anak memahami bagaimana kehidupan seharusnya dibangun, sesungguhnya sebuah daerah sedang menyiapkan manusia yang kelak akan mengisi masa depannya.
Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Fazar Supriadi Sentosa, S.H., mengatakan SSK diharapkan membuat sekolah memahami persoalan kependudukan, terutama pembangunan keluarga.
“Sekolah Siaga Kependudukan ini diharapkan nantinya sekolah-sekolah itu mengerti tentang kependudukan, terutama tentang pembangunan keluarga,” kata Fazar.
Menurutnya, pembangunan keluarga tidak dapat dipisahkan dari persoalan pertumbuhan penduduk.
Salah satu indikator yang digunakan dalam melihat tingkat fertilitas adalah total fertility rate (TFR). Ia menyebut angka sekitar 2,1 sebagai tingkat fertilitas pengganti.
Namun angka tersebut pada akhirnya kembali kepada manusia.
Di balik angka kelahiran ada keluarga. Di balik keluarga ada anak-anak. Di balik anak-anak terdapat generasi yang akan menentukan masa depan sebuah daerah.
“Kalau sudah itu dibangun di sana, nanti baru meningkatkan kualitas SDM-nya,” ujar Fazar.
Ia menilai pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali akan membuat upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia menjadi lebih sulit.
“Kalau dia tidak terkendali penduduknya itu, susah untuk meningkatkan kualitas SDM-nya,” katanya.
Karena itu, pemahaman mengenai kependudukan menurutnya perlu diberikan sejak dini.
Bukan untuk membuat anak-anak menghafal angka.
Tetapi agar mereka memahami bahwa kehidupan keluarga dan masa depan membutuhkan perencanaan.
Fazar melihat pembangunan manusia sebagai sebuah rangkaian yang saling berkaitan.
Pertumbuhan penduduk yang seimbang menjadi salah satu fondasi. Setelah itu kualitas manusia harus diperkuat melalui pendidikan.
Barulah kesejahteraan menjadi tujuan yang hendak dicapai.
“Kalau itu sudah tertata, baru ditekan dengan kualitas. Pendidikan kita ini masih rendah,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia.
“Kalau itu bisa dicapai, makanya itu dibangun kualitas. Kemudian baru bisa akan meningkatkan yang terakhir, kesejahteraannya,” kata Fazar.
Karena itu, ia berharap program SSK tidak berhenti pada satu sekolah.
Bangka Barat diharapkan dapat memiliki SSK di seluruh SMP.
“Sekolah ini makanya kami harapkan di Bangka Barat ini semua SMP itu dia ada SSK-nya,” ujarnya.
SMP Negeri 3 Mentok dipilih setelah dinilai memenuhi sejumlah indikator dalam pelaksanaan SSK.
Fazar mengatakan salah satu indikator penting tentang kemampuan sekolah untuk mengembangkan kegiatan dan melakukan pengimbasan.
“Dia harus bisa ke sekolah-sekolah lain. Kalau dia cuma di sini saja, sama-sama ini saja, tidak bisa,” katanya.
Dengan kata lain, sekolah pelaksana harus mampu menjadi sumber praktik baik.
Apa yang dipelajari tidak berhenti di dalam kelas.
Ia harus bisa dibawa keluar.
Ke sekolah lain.
Ke keluarga.
Pada akhirnya ke masyarakat.
Namun bagi Fazar, tantangan yang tidak kalah penting adalah menjaga agar program tersebut tidak berhenti ketika terjadi pergantian kepemimpinan di sekolah.
“Kadang-kadang kan ganti kepala sekolah, ganti lagi kebijakan. Itu banyak yang sering terjadi. Tapi kalau sudah dibangun bahwa penting SSK ini, nanti insyaallah dia berkelanjutan,” ujarnya.
Ia berharap SMP Negeri 3 Mentok dapat menjadi contoh yang menularkan praktik baik tersebut.
“Menjadi contoh, itu yang paling penting. Karena dia akan menjadi virus yang baik kepada sekolah-sekolah lain se-Bangka Barat,” kata Fazar.
Dari Kurikulum ke Kehidupan Sehari-hari
Di SMP Negeri 3 Mentok, gagasan tersebut tidak hanya berhenti pada penjelasan mengenai kependudukan.
Kepala SMP Negeri 3 Mentok, Defi Nofalia, S.Pd., mengatakan SSK diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran.
“Ini sangat bermanfaat sekali, karena bisa mengimbaskan ke kurikulum pembelajaran terintegrasi dengan pembelajaran seperti PKN, olahraga, seni budaya dan juga agama,” kata Defi.
Sekolah juga memiliki berbagai kegiatan yang terintegrasi dengan SSK.
Di antaranya FIKR, PMR dan Pramuka.
Kegiatan tersebut tetap berlangsung setelah jam pembelajaran.
Selain itu, sekolah memiliki Duta Genre yang ikut mengimplementasikan pengetahuan mengenai persoalan remaja.
Termasuk pernikahan dini, stunting dan makanan bergizi.
Hal itu membuat isu kependudukan terasa lebih dekat.
Bukan lagi sekadar istilah yang terdengar di ruang seminar.
Tetapi menjadi bagian dari kehidupan anak-anak.
Di sekolah tersebut, pengetahuan SSK juga diperkenalkan melalui pojok baca.
Anak-anak dapat mengenal berbagai informasi mengenai kependudukan sekaligus memahami apa yang dapat mereka lakukan.
Mereka tidak hanya membaca.
Mereka berkarya.
Menggambar.
Melukis.
Mengikuti perlombaan.
Termasuk kegiatan tingkat provinsi yang berkaitan dengan BKKBN.
“Anak-anak kita mengikuti kegiatan tersebut. Apresiasi mereka menggambar, melukis yang sangat luar biasa mereka tampilkan,” tutur Defi.
Sekolah juga memiliki jingle SSK yang terus diperdengarkan.
Lagu tersebut menjadi salah satu cara untuk mengedukasi siswa agar SSK tetap hidup dalam keseharian sekolah.
Karena pesan yang baik terkadang tidak perlu disampaikan dengan cara yang berat.
Ia cukup diulang.
Didengar.
Dinyanyikan.
Kemudian perlahan menjadi bagian dari ingatan.
Defi juga menyebut persoalan gizi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan kualitas manusia.
Siswa SMP Negeri 3 Mentok mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Gizi yang didapatkan anak-anak di sini, alhamdulillah memang luar biasa. Mereka mendapatkan makanan bergizi setiap harinya yang diberikan oleh pemerintah,” katanya.
Sepiring makanan mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi seorang anak yang sedang tumbuh, makanan adalah energi untuk belajar.
Kesehatan untuk bertumbuh.
Bekal untuk menjalani masa depan.
Karena itu, membangun manusia tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang ia dimulai dari hal yang paling dasar.
Seorang anak makan dengan cukup.
Kemudian belajar.
Kemudian tumbuh.
Kemudian suatu hari menjadi orang dewasa yang mampu membangun kehidupannya sendiri.
Komite Sekolah: Jadikan SSK Duta bagi Sekolah Lain
Harapan keberlanjutan juga datang dari lingkungan orang tua.
Harjono, Kepala Komite SMP Negeri 3 Mentok, mengatakan SSK merupakan program yang positif.
“Kalau kami dari Komite Sekolah, mewakili orang tua murid, bahwa SSK ini sangat positif,” kata Harjono.
Ia berharap SMP Negeri 3 Mentok dapat menjadi duta SSK bagi sekolah-sekolah lain.
Dukungan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata.
Ada keluarga yang menjadi rumah pertama seorang anak.
Ada sekolah yang menjadi ruang pembentukan pengetahuan.
Ada masyarakat yang menjadi lingkungan tempat mereka bertumbuh.
Ketiganya saling berhubungan.
Masa depan sebuah daerah tidak pernah dibangun dalam satu hari.
Ia dibentuk oleh ribuan keputusan kecil.
Oleh anak yang memilih tetap belajar.
Oleh remaja yang memahami pentingnya menjaga kesehatan.
Oleh keluarga yang merencanakan kehidupannya.
Oleh orang tua yang memberi dukungan.
Oleh sekolah yang tidak hanya mengajarkan bagaimana mendapatkan nilai, tetapi juga bagaimana menjalani kehidupan.
Itulah yang sedang dicoba melalui SSK di SMP Negeri 3 Mentok.
Kependudukan dibawa mendekat kepada anak-anak.
Keluarga diperkenalkan sebagai sesuatu yang harus dipersiapkan.
Gizi menjadi bagian dari kualitas manusia.
Pendidikan menjadi jalan untuk meningkatkan kemampuan.
Masa depan diperkenalkan bukan sebagai sesuatu yang samar, tetapi sebagai sesuatu yang dapat direncanakan.
Fazar melihatnya dari sisi pembangunan kependudukan.
Defi melihatnya dari ruang kelas.
Harjono melihatnya dari rumah dan keluarga.
Tiga suara itu bertemu pada satu kesadaran tentang manusia untuk tujuan sekaligus modal terbesar pembangunan.
Sebab jalan yang panjang tidak akan berarti banyak jika manusia yang melaluinya tidak memiliki kualitas.
Gedung yang tinggi tidak akan menjadi tanda kemajuan jika anak-anak di dalamnya tidak mendapatkan masa depan.
Angka pertumbuhan tidak akan bermakna jika kesejahteraan manusia tidak ikut tumbuh.
Mungkin karena itu, pembangunan yang paling penting justru sering kali tidak terlihat.
Ia tumbuh di dalam kepala.
Di dalam kebiasaan.
Di dalam pengetahuan.
Di dalam cara seorang anak memandang masa depannya.
Di SMP Negeri 3 Mentok, pembangunan itu sedang dimulai.
Tidak dengan suara mesin.
Tidak dengan beton.
Tetapi dengan seorang anak yang belajar memahami bahwa masa depannya harus dipersiapkan sejak hari ini.
Dari sanalah, barangkali, masa depan Bangka Barat sedang ditulis perlahan, dari bangku sekolah. (Belva)


