Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM – Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rambat Menduyung, Melyadi, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh aktivitas membakar sampah maupun tindakan kecil lainnya yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Peringatan itu disampaikan menyusul kebakaran lahan seluas sekitar empat hektare di kawasan Jalan Lapangan Bola Polaris, Kelurahan Sungai Daeng, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Rabu (3/6/2026).
Menurut Melyadi, kebakaran hutan hampir selalu berawal dari aktivitas manusia, baik karena kesengajaan maupun kelalaian.
“Sering kali masyarakat berpikir membakar sampah itu hal biasa. Padahal dari api kecil itulah bencana besar bisa lahir. Hutan tidak pernah terbakar sendiri. Hampir selalu ada aktivitas manusia yang menjadi pemicunya,” kata Melyadi kepada TRASBERITA.COM, Rabu (10/6/2026).
Kebakaran tersebut pertama kali dilaporkan masyarakat melalui layanan Call Center 110 Polres Bangka Barat sekitar pukul 15.15 WIB.
Petugas Polres Bangka Barat bersama BPBD, Damkar dan warga setempat kemudian bergerak cepat melakukan pemadaman.
Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.05 WIB sehingga tidak sempat meluas ke kawasan yang lebih besar.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Namun sekitar empat hektare lahan dilaporkan hangus terbakar.
Berdasarkan informasi awal, api diduga berasal dari pembakaran sampah yang merambat ke lahan kering di sekitar lokasi.
Melyadi mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa dampak kebakaran hutan tidak hanya dirasakan di lokasi kejadian.
Menurutnya, asap kebakaran dapat mengganggu kesehatan warga, merusak lingkungan dan mengancam keberlangsungan ekosistem.
“Api tidak mengenal batas administrasi. Ketika satu orang lalai, dampaknya bisa dirasakan ribuan orang. Asap mengganggu kesehatan, merusak lingkungan, mengancam satwa, bahkan mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai kebakaran yang terjadi di Sungai Daeng harus menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat Bangka Barat menjelang musim kemarau.
Melyadi mengajak masyarakat melihat hutan sebagai sistem kehidupan yang memiliki fungsi penting bagi keberlangsungan manusia.
Menurut dia, hutan berperan menjaga ketersediaan air, kesuburan tanah, kualitas udara dan habitat berbagai jenis satwa.
“Hutan adalah tabungan masa depan. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohonnya. Yang hilang adalah sumber air, sumber kehidupan dan warisan yang seharusnya dinikmati anak cucu kita,” katanya.
Ia menjelaskan dampak kebakaran sering kali tidak langsung terlihat.
Namun dalam jangka panjang, kerusakan lingkungan akibat karhutla dapat menyebabkan berkurangnya sumber air, meningkatnya suhu udara hingga menurunnya produktivitas lahan.
“Kerusakan akibat kebakaran sering kali jauh lebih mahal dibandingkan biaya pencegahannya. Karena itu pencegahan harus menjadi budaya, bukan hanya program pemerintah,” tegasnya.
Melyadi juga menyoroti pentingnya langkah pencegahan sejak dini.
Menurutnya, masyarakat tidak boleh menunggu munculnya asap atau kobaran api baru bertindak.
“Kita tidak boleh menunggu asap muncul baru bergerak. Ketika asap terlihat, sebenarnya kita sudah terlambat. Yang harus kita bangun adalah kesadaran sebelum api menyala,” katanya.
Ia mengimbau warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Selain itu, masyarakat juga diminta memastikan api benar-benar padam setelah melakukan aktivitas yang menggunakan sumber api di area terbuka.
Melyadi menilai upaya pencegahan karhutla harus dimulai dari lingkungan keluarga.
Ia mengajak para orang tua mengenalkan pendidikan lingkungan kepada anak-anak sejak usia dini.
“Ajarkan kepada anak-anak bahwa membuang puntung rokok sembarangan bisa menyebabkan kebakaran. Ajarkan bahwa menjaga hutan sama dengan menjaga masa depan mereka sendiri. Pendidikan lingkungan harus dimulai dari rumah,” ujarnya.
Menurutnya, menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah maupun aparat keamanan.
Peran masyarakat menjadi faktor utama dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
“Hutan tidak membutuhkan pahlawan yang datang saat kebakaran besar terjadi. Hutan membutuhkan masyarakat yang peduli setiap hari,” katanya.
Melyadi berharap peristiwa kebakaran di Sungai Daeng menjadi pelajaran bersama agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Kalau hari ini empat hektare terbakar dan berhasil dipadamkan, jangan hanya bersyukur apinya padam. Kita juga harus bertanya, apa yang harus kita lakukan agar besok tidak ada lagi lahan yang terbakar. Itulah esensi menjaga hutan,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Melyadi mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi generasi mendatang.
“Warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan kepada generasi mendatang bukan hanya bangunan atau jalan raya. Warisan terbaik adalah hutan yang tetap hijau, udara yang tetap bersih dan lingkungan yang tetap lestari. Mari kita jaga bersama sebelum semuanya terlambat,” tutupnya.


