PANGKALPINANG, TARGETKRIMINAL.COM — Tidak semua pembangunan diawali dengan bunyi alat berat. Tidak semua perubahan lahir dari rapat-rapat besar atau lembaran anggaran negara. Ada pembangunan yang bermula dari sebuah percakapan. Dari seorang yang bersedia mendengar suara desa, lalu membawanya melintasi ruang-ruang birokrasi hingga menjadi kebijakan negara.
Di ruang itulah Anggota DPD RI Komite III, Ustaz Zuhri M, memilih menempatkan dirinya.
Baginya, menjadi senator bukan tentang seberapa sering berbicara di Senayan. Lebih dari itu, menjadi anggota DPD memastikan negara tidak kehilangan arah ketika mendengar suara daerah dan daerah tidak kehilangan kesempatan ketika pemerintah membuka pintu-pintu pembangunan.
” Saya melihat banyak program-program kementerian yang belum terserap oleh daerah. Karena itu kami turun ke bawah, melihat langsung kebutuhan masyarakat, kemudian kami komunikasikan ke kementerian. Ternyata mereka merespons positif dan bersedia turun langsung ke daerah. Inilah jembatan yang sedang kita bangun,” ujar Zuhri saat kunjungan kerja Komite III DPD RI di Pangkalpinang, Kamis (30/7/2026).
Ucapan itu bukan sekadar laporan kegiatan. Ia sebagai cerminan cara pandang Zuhri terhadap pembangunan. Bahwa negara tidak boleh hanya hadir sebagai pembuat kebijakan, tetapi harus mampu berjalan beriringan dengan masyarakat hingga ke desa-desa.
Dalam berbagai kunjungannya ke daerah, Zuhri menemukan ironi yang terus berulang. Di Jakarta, kementerian berlomba menghadirkan program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sementara di daerah, banyak pemerintah desa bahkan tidak mengetahui bahwa peluang itu tersedia.
Di antara keduanya, ada ruang kosong bernama komunikasi.
Menurut Zuhri, ruang kosong itulah yang harus diisi.
” Selama ini banyak informasi dari pusat yang tidak kita ketahui. Setelah informasi itu kita dapatkan, harapan kita pemerintah daerah sampai ke desa mampu menangkap peluang tersebut dan mempersiapkan semuanya agar program benar-benar tersambung kepada masyarakat,**” katanya.
Baginya, informasi sebagai energi pembangunan.
Tanpa informasi, potensi sebesar apa pun akan kehilangan arah. Tanpa komunikasi, anggaran sebesar apa pun hanya akan menjadi angka di atas kertas.
Karena itu, ia memilih turun langsung ke masyarakat, mendengarkan persoalan yang mereka hadapi, lalu membawa suara itu ke kementerian. Bukan untuk memperbanyak keluhan, melainkan mencari jalan keluar.
Di hadapan peserta dialog, Zuhri mengingatkan bahwa setiap daerah kini sedang berada dalam sebuah kompetisi yang tidak terlihat.
Kompetisi itu bukan tentang siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang paling siap.
” Kalau kita tidak mengambil peluang itu, daerah lain yang akan mengambilnya. Semua tergantung bagaimana daerah menangkap peluang tersebut,” tegasnya.
Baginya, pembangunan bukan sesuatu yang datang sendiri.
Ia harus dijemput.
Ia harus dipersiapkan.
Ia harus diperjuangkan.
Karena itulah ia menilai pemerintah daerah harus membangun komunikasi yang lebih intens dengan pemerintah pusat.
” Pak Presiden sudah meningkatkan anggaran berbagai kementerian. Tetapi penyerapan program itu ada di daerah. Kalau daerah tidak siap, maka kesempatan itu akan berpindah ke daerah lain. Karena itu kita harus bergerak cepat,” ujarnya.
Kalimat tersebut menjadi pesan penting bahwa keberhasilan pembangunan tidak lagi ditentukan oleh besarnya potensi yang dimiliki, melainkan oleh kesiapan mengelola peluang.
Di tengah pembahasan mengenai berbagai program kementerian, Zuhri berkali-kali mengembalikan fokus kepada manusia.
Ia menilai pembangunan yang berhasil bukan hanya mampu mengurangi angka pengangguran, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui peningkatan kompetensi.
” Yang kita harapkan bukan hanya membuka lapangan kerja, tetapi meningkatkan produktivitas masyarakat. Yang sudah bisa mengelas harus kita tingkatkan lagi keahliannya. Yang sudah punya keterampilan membuat kopi juga harus mendapat pelatihan lanjutan. Itu peluang yang harus kita tangkap,” ujarnya.
Menurutnya, setiap pelatihan bukan sekadar menambah keterampilan.
Pelatihan cara negara memuliakan warganya, agar mampu bersaing dan berdiri tegak di tengah perubahan zaman.
Desa Menyimpan Masa Depan Bangka Belitung
Dalam setiap perjalanan menyusuri desa-desa di Bangka Belitung, Zuhri menemukan optimisme yang tidak pernah padam.
Ia melihat masyarakat memiliki kemampuan mengolah hasil pertanian, menghasilkan produk lokal, dan membangun usaha berbasis potensi desa.
Namun semua itu, menurutnya, membutuhkan sentuhan kebijakan.
Ia mencontohkan program Smart Farming, yang dinilainya mampu menjadi titik balik pertanian Bangka Belitung apabila mampu diakses oleh desa-desa.
“Program Smart Farming itu luar biasa. Tetapi kita belum mendapatkan aksesnya. Padahal desa-desa kita memiliki potensi yang besar. Tinggal bagaimana sumber daya manusianya dipersiapkan agar mampu memanfaatkan program tersebut,” katanya.
Ia juga menilai banyak produk desa telah memiliki kualitas yang baik, tetapi masih membutuhkan pelatihan, pendampingan dan peningkatan kapasitas agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Menurutnya, pembangunan tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan.
Pembangunan harus melahirkan kemandirian.
Sebagai anggota DPD RI, Zuhri memahami bahwa kewenangannya bukan berada pada pelaksanaan proyek.
Namun ia percaya, ada tugas yang tidak kalah penting, yakni memastikan suara rakyat tidak berhenti di ruang rapat.
” Tugas saya sebagai anggota DPD adalah memperjuangkan aspirasi daerah ke pusat sekaligus membawa program-program pusat agar dipahami dan ditindaklanjuti oleh daerah. DPD memang tidak mengeksekusi program, tetapi kami memastikan jembatan komunikasi itu tetap terbangun,” katanya.
Karena itu, ia terus mendorong kolaborasi antara kementerian, pemerintah daerah, pemerintah desa, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga masyarakat.
Baginya, pembangunan bukan hasil kerja satu lembaga.
Ia sebagai gotong royong dalam skala kebangsaan.
Menutup dialognya, Zuhri mengajak semua pihak meninggalkan kebiasaan saling menyalahkan ketika program belum tepat sasaran.
Ia percaya, setiap persoalan selalu memiliki jalan keluar apabila komunikasi terus dibangun.
” Jangan selamanya kita berhenti pada keluhan. Mari kita carikan solusinya bersama. Bagaimana program-program pemerintah benar-benar tepat sasaran. Yang harus kita bangun adalah komunikasi, kolaborasi, sehingga link and match antara kebutuhan masyarakat dan program pemerintah benar-benar berjalan,” pungkasnya.
Di tengah dunia yang berubah semakin cepat, Ustaz Zuhri M memilih mengambil peran yang mungkin tak selalu terlihat, tetapi menentukan arah perjalanan sebuah daerah. Ia bukan sekadar membawa aspirasi ke Jakarta, melainkan membawa pulang harapan untuk Bangka Belitung.
Sebab baginya, pembangunan bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang paling mampu menyambungkan kepentingan rakyat dengan kebijakan negara. Seorang pemimpin bukan dikenang karena banyaknya janji yang diucapkan, tetapi karena banyaknya peluang yang berhasil ia antarkan hingga ke pintu rumah masyarakat.


