BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Seorang anak tidak pernah datang ke sekolah hanya untuk menjadi pintar.
Di balik seragam yang dikenakannya, ada masa depan yang perlahan sedang dibentuk. Ada keluarga yang kelak akan dibangunnya, ada anak-anak yang suatu hari mungkin akan diasuhnya, ada keputusan-keputusan besar yang akan diambilnya sebagai orang dewasa.
Karena itu, pembangunan manusia tidak seharusnya dimulai ketika seseorang telah dewasa.
Ia harus ditanam sejak dini.
Dari ruang kelas.
Dari lingkungan sekolah.
Dari cara seorang remaja memahami dirinya, keluarganya, kesehatannya, lingkungannya dan masa depannya.
Gagasan itulah yang kini menemukan ruang di SMP Negeri 3 Mentok, Kabupaten Bangka Barat, melalui program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK).
Sekolah tersebut terpilih mewakili jenjang SMP Kabupaten Bangka Barat untuk mengikuti penilaian SSK tingkat nasional dan diusulkan mencapai tingkat paripurna, jenjang tertinggi dalam SSK. Sekolah yang sebelumnya pernah meraih prestasi di tingkat provinsi itu juga diproyeksikan menjadi sekolah pengampu SSK di Bangka Barat.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Bangka Barat, Sarbudiono, S.Pd., melihat capaian tersebut bukan semata sebagai sebuah perlombaan.
Baginya, predikat hanyalah permukaan.
Di bawahnya ada tujuan yang jauh lebih besar untuk membangun generasi yang kelak mampu membangun keluarga berkualitas dan meneruskan pembangunan bangsa.
“SSK sebagai barometer pembangunan keluarga melalui jenjang pendidikan. Peserta didik adalah generasi muda sebagai sumber daya pembangunan manusia yang harus menjadi generasi ke depan yang tangguh, cerdas, sehat dan berkualitas sebagai tonggak estafet pembangunan bangsa,” ujar Sarbudiono, Selasa (11/8/2026).
Pernyataan itu menjadi napas utama gagasannya tentang SSK.
Sebab keluarga berkualitas tidak lahir begitu saja.
Ia dibentuk oleh manusia yang memiliki pengetahuan, kesehatan, karakter dan kemampuan merencanakan masa depan.
Dan manusia semacam itu harus dipersiapkan jauh sebelum ia membangun rumah tangganya sendiri.
Kegiatan visitasi dan validasi data pendukung penilaian SSK di SMP Negeri 3 Mentok berlangsung pada Senin, 10 Agustus 2026.
Tahapan tersebut menjadi bagian penting bagi sekolah untuk mempersiapkan diri menuju penilaian nasional.
Namun Sarbudiono ingin agar perhatian tidak berhenti pada dokumen penilaian.
SSK, menurut dia, harus masuk ke dalam denyut kehidupan sekolah.
Kesadaran kependudukan dapat dikolaborasikan melalui berbagai mata pelajaran seperti sosiologi, biologi, bahasa dan agama.
Nilai-nilai tersebut juga dapat ditanamkan melalui Pramuka, OSIS, PIK-R, drumband, remaja masjid, Genre dan berbagai kegiatan positif lainnya.
Dengan demikian, sekolah bukan hanya menjadi tempat siswa menghafal pelajaran.
Sekolah menjadi ruang tempat mereka belajar memahami kehidupan.
“Pola pembelajaran dapat diterapkan dalam mata pelajaran sosiologi, biologi, bahasa, agama serta ekstrakurikuler seperti Pramuka, OSIS, PIK-R, drumband, remaja masjid, Genre dan lain-lain,” kata Sarbudiono.
Di sana terdapat pesan yang lebih besar.
Ketika seorang remaja belajar tentang kesehatan, ia sedang menyiapkan kualitas dirinya.
Ketika ia belajar memahami kehidupan sosial, ia sedang belajar menjadi bagian dari masyarakat.
Ketika ia belajar merencanakan masa depan, ia sedang belajar bertanggung jawab terhadap kehidupannya sendiri.
Dan ketika semua itu kelak dibawa ke dalam keluarga, pendidikan berubah menjadi investasi lintas generasi.
Bagi Sarbudiono, SMP Negeri 3 Mentok bukan sekadar nama sebuah sekolah.
Ada kenangan pribadi di dalamnya.
Sebelum menjadi kepala dinas, ia pernah menjadi guru di sekolah tersebut.
Setelah mutasi dari Palembang, ia ditempatkan di SMP Negeri 3 Mentok dan mengabdi selama empat tahun.
Kini ia kembali ke sekolah itu dengan peran yang berbeda.
“Saya alumni dari sini, bukan alumni siswa, alumni guru di sini. Saya pertama sekali mutasi dari Palembang ditempatkan di SMP Negeri 3 Mentok. Empat tahun saya di SMP Negeri 3 Mentok,” tuturnya.
Kepulangannya dalam kapasitas sebagai kepala dinas seakan mempertemukan masa lalu dengan masa depan.
Dulu ia datang membawa tanggung jawab sebagai guru.
Kini ia datang membawa gagasan tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi fondasi pembangunan keluarga.
Perjalanan karier Sarbudiono sendiri tidak selalu berada pada jalur yang lurus.
Ia pernah masuk ke berbagai bidang pendidikan dan pemerintahan yang menuntutnya memahami persoalan baru.
Perpindahan itu membuatnya harus terus belajar.
Dari pengalaman itulah ia menemukan prinsip yang kemudian ia bagikan kepada orang lain.
“Belajar tidak harus dengan orang lebih tua. Kadang-kadang dengan lebih muda, ketika dia punya ilmu, belajar. Tidak apa-apa. Harus belajar,” ujarnya.
Bagi Sarbudiono, pengalaman berpindah bidang bukan alasan untuk berhenti.
Justru dari ruang-ruang yang tidak dikenalnya itu ia belajar bahwa ilmu tidak memiliki batas usia, jabatan maupun tempat.
Prinsip tersebut juga menjadi relevan dengan pembangunan manusia.
Sebab membangun generasi bukan pekerjaan sekali jadi.
Ia membutuhkan kesediaan untuk terus belajar.
Sarbudiono melihat SSK sebagai jembatan antara pendidikan dan pembangunan keluarga.
Anak-anak yang sekarang duduk di bangku SMP adalah calon orang dewasa.
Mereka sebagai calon ayah dan ibu.
Mereka akan menjadi bagian dari keluarga-keluarga baru.
Karena itu, kualitas keluarga masa depan sangat dipengaruhi oleh bagaimana generasi hari ini dipersiapkan.
“SSK sebagai barometer pembangunan keluarga melalui jenjang pendidikan,” katanya.
Kalimat tersebut membawa SSK keluar dari pemahaman sempit tentang kependudukan.
Kependudukan bukan hanya soal angka.
Bukan hanya tentang berapa banyak manusia yang tinggal di sebuah daerah.
Lebih dari itu, kependudukan berbicara tentang kualitas manusia yang mengisi ruang tersebut.
Apa yang mereka ketahui.
Bagaimana mereka hidup.
Bagaimana mereka mengambil keputusan.
Bagaimana mereka membangun keluarga.
Bagaimana keluarga itu kemudian melahirkan generasi berikutnya.
Di situlah pendidikan menemukan maknanya sebagai investasi jangka panjang.
Sarbudiono juga menekankan bahwa pembangunan keluarga tidak dapat dikerjakan oleh pemerintah dan sekolah sendirian.
Ia membutuhkan kolaborasi.
DP3AP2KB Bangka Barat telah membangun kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk dunia usaha, sektor perkebunan dan perangkat daerah terkait.
Ke depan, ia berharap jejaring tersebut semakin diperluas.
“Perlu sedikit kita membuka wawasan, memperbanyak lagi kerja sama dengan seluruh instansi terkait. Tidak terfokus saja dengan dunia pendidikan, tetapi juga dengan semua stakeholder karena semuanya saling berkaitan,” ujarnya.
Dalam kerangka itu, sekolah menjadi satu bagian dari ekosistem pembangunan manusia.
Guru mendidik.
Orang tua mendampingi.
Pemerintah memfasilitasi.
Dunia usaha mendukung.
Masyarakat menciptakan lingkungan.
Ketika semua bergerak bersama, pendidikan tidak berhenti sebagai kegiatan di ruang kelas.
Ia menjadi gerakan sosial.
Mengapa SMP Negeri 3 Mentok?
Pemilihan SMP Negeri 3 Mentok sebagai wakil Bangka Barat dalam penilaian SSK nasional bukan tanpa pertimbangan.
Sekolah tersebut telah memiliki pengalaman dan prestasi di tingkat provinsi.
Kini sekolah itu didorong untuk mencapai tingkat paripurna, sekaligus membawa nama Bangka Barat dalam penilaian nasional.
Sarbudiono berharap seluruh bukti pendukung yang masih diperlukan dapat segera dilengkapi.
“Ketika ada kekurangannya, mohon segera melakukan kelengkapan sehingga bisa disupport. Harapannya tadi dengan bismillah bisa meningkat ke tingkat nasional,” katanya.
Namun, target nasional bukanlah garis akhir.
Jika mencapai tingkat paripurna, SMP Negeri 3 Mentok diharapkan menjadi sekolah pengampu SSK bagi sekolah lain di Bangka Barat.
Dengan begitu, pengalaman satu sekolah dapat menjadi pengetahuan bersama.
Keberhasilan tidak berhenti di satu pagar sekolah.
Ia bergerak keluar.
Menjadi inspirasi.
Menjadi contoh.
Menjadi pijakan bagi sekolah lain untuk melakukan hal yang sama.
Di tengah dunia pendidikan yang sering kali akrab dengan angka, peringkat dan penghargaan, Sarbudiono mencoba mengembalikan perhatian pada sesuatu yang lebih mendasar.
Manusia.
Sebab sebuah sekolah boleh mendapatkan predikat paripurna.
Sebuah daerah boleh bangga karena wakilnya melaju ke tingkat nasional.
Namun semua itu akan kehilangan makna jika tidak meninggalkan perubahan pada anak-anak yang dididik di dalamnya.
Bagi Sarbudiono, keberhasilan SSK semestinya terlihat dari generasi yang lebih siap menghadapi kehidupan.
Generasi yang sehat.
Generasi yang cerdas.
Generasi yang tangguh.
Generasi yang mampu merencanakan masa depan.
Pada akhirnya, generasi yang mampu membangun keluarga berkualitas.
Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada apa yang terlihat hari ini.
Ada masa depan yang jauh lebih panjang di belakangnya.
Seorang anak yang belajar hari ini mungkin baru akan merasakan hasilnya dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang.
Ketika ia menjadi orang tua.
Ketika ia membesarkan anak.
Ketika ia menjadi bagian dari masyarakat.
Ketika ia ikut menentukan arah daerahnya.
Di penghujung pidatonya, Sarbudiono menyampaikan sebuah pesan yang sederhana.
Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya kuat.
“Yang penting kerjakan apa yang bisa kita kerjakan maksimal. Jangan banyak berbicara, banyaklah berbuat,” katanya.
Pesan tersebut seperti merangkum perjalanan Sarbudiono sendiri.
Ia pernah menjadi guru.
Kemudian berpindah ke berbagai bidang.
Masuk ke ruang-ruang yang tidak selalu sesuai dengan latar belakang awalnya.
Belajar kembali.
Beradaptasi.
Dan terus bergerak hingga dipercaya memimpin DP3AP2KB Bangka Barat.
Kini, dari posisi itu, ia kembali berbicara tentang sekolah.
Tetapi kali ini bukan hanya tentang pendidikan.
Ia berbicara tentang keluarga.
Tentang perlindungan anak.
Tentang kependudukan.
Tentang kualitas manusia.
Tentang masa depan Bangka Barat.
SMP Negeri 3 Mentok menjadi salah satu titik kecil dari gagasan besar tersebut.
Sebuah sekolah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup Sarbudiono, kini diproyeksikan menjadi salah satu penggerak kesadaran kependudukan di daerah.
Di sana, pembangunan tidak hanya diukur dari bangunan fisik.
Pembangunan diukur dari apa yang tumbuh di dalam diri seorang anak.
Sebab jalan raya dapat menghubungkan satu tempat dengan tempat lain.
Tetapi pendidikanlah yang menghubungkan satu generasi dengan generasi berikutnya.
Keluarga menjadi rumah tempat pengetahuan itu diwariskan.
Maka ketika SMP Negeri 3 Mentok melangkah menuju penilaian SSK tingkat nasional, yang sebenarnya sedang dibawa bukan sekadar nama sebuah sekolah.
Yang sedang dibawa adalah sebuah harapan:
Agar anak-anak hari ini tidak hanya menjadi generasi yang mewarisi pembangunan, tetapi menjadi generasi yang mampu meneruskannya.
Sebab pembangunan keluarga yang berkelanjutan tidak dimulai dari masa depan.
Ia dimulai hari ini dari bangku sekolah, dari seorang anak yang sedang belajar, dan dari orang-orang dewasa yang memilih untuk menyiapkan jalannya. (Belva)


