Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Pagi itu, Bahud berdiri memandangi puing-puing rumahnya yang masih menyisakan aroma kayu terbakar. Di hadapannya, tumpukan seng yang melengkung akibat panas dan sisa perabot rumah tangga yang menghitam menjadi saksi bisu bagaimana sebuah kehidupan dapat berubah hanya dalam hitungan menit.
Sehari sebelumnya, rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berkumpul keluarga itu masih berdiri kokoh di Dusun Merabok, Desa Tempilang, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat. Kini, yang tersisa hanyalah reruntuhan dan kenangan.
Namun di tengah kehilangan yang begitu besar, pria lanjut usia itu masih menyimpan rasa syukur.
Sebab, saat kobaran api melahap rumahnya pada Kamis (4/6/2026), ia berhasil menyelamatkan diri bersama cucunya.
“Yang penting kami masih selamat,” ujar Bahud pelan saat menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Jumat (5/6/2026).
Kalimat sederhana itu terdengar biasa. Namun di baliknya tersimpan pelajaran besar tentang arti keselamatan, kehilangan, dan kemanusiaan.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos PMD) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bergerak cepat memberikan bantuan kepada keluarga korban.
Berbagai kebutuhan darurat disalurkan, mulai dari makanan anak, makanan siap saji, lauk pauk siap saji, family kit, paket sandang dewasa, kasur, selimut hingga tenda gulung.
Selain itu, bantuan kebutuhan pokok berupa beras, mi instan, sarden, minyak goreng, gula, teh, kopi, kain dan paket sandang juga diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga korban dalam masa tanggap darurat.
Bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal beserta seluruh isi rumahnya, bantuan tersebut bukan sekadar barang kebutuhan sehari-hari.
Bantuan itu menjadi simbol bahwa mereka tidak sedang menghadapi musibah seorang diri.
Di tengah kondisi psikologis yang masih terguncang, perhatian dari pemerintah dan masyarakat menjadi energi baru untuk bangkit.
“Sampai sekarang saya masih seperti mimpi. Kemarin rumah masih ada, sekarang sudah habis. Tapi saya bersyukur masih diberi keselamatan,” kata Bahud.
Ia mengaku seluruh barang yang selama ini dikumpulkan bersama keluarga habis dilalap api.
Tidak hanya pakaian dan perabotan rumah tangga, sejumlah barang berharga dan kenangan keluarga juga ikut musnah.
“Kalau ingat rumah yang terbakar tentu sedih. Di situ banyak kenangan keluarga. Tapi saya selalu bilang kepada anak dan cucu, rumah bisa dibangun lagi, yang penting kita masih hidup,” ujarnya.
Kebakaran yang menimpa Bahud menjadi gambaran betapa cepatnya sebuah bencana dapat mengubah kehidupan seseorang.
Saat kejadian sekitar pukul 10.40 WIB, Bahud berada di rumah bersama cucunya.
Awalnya tidak ada tanda-tanda mencurigakan.
Ia bahkan masih menjalani aktivitas seperti biasa.
Namun suasana mendadak berubah ketika cucunya berteriak memberitahukan adanya api.
Bahud sempat mengira api berasal dari dapur. Akan tetapi setelah diperiksa, kobaran justru muncul dari salah satu bagian rumah dan dengan cepat membesar.
Banyaknya material yang mudah terbakar membuat api menjalar sangat cepat.
Kasur, perabot rumah tangga dan konstruksi bangunan berbahan kayu menjadi bahan bakar yang mempercepat penyebaran api.
Dalam kondisi panik, Bahud masih sempat berusaha menyelamatkan mobil milik keluarganya yang terparkir di depan rumah.
Namun upaya tersebut gagal.
Api terus membesar hingga akhirnya ia dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah.
Menyelamatkan harta benda atau menyelamatkan nyawa.
Bahud memilih yang kedua.
Ia membawa cucunya menjauh dari lokasi kebakaran dan membiarkan seluruh isi rumah ditelan kobaran api.
Keputusan itu terbukti menyelamatkan mereka.
Peristiwa yang dialami Bahud sebenarnya menyimpan pelajaran penting yang sering kali diabaikan banyak orang.
Dalam kondisi darurat, sebagian korban kebakaran justru terluka atau kehilangan nyawa karena berusaha kembali masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan barang berharga.
Padahal, api dapat berkembang sangat cepat dan menghasilkan asap beracun yang jauh lebih berbahaya dibandingkan kobaran api itu sendiri.
Keputusan Bahud untuk mengutamakan keselamatan cucunya menjadi contoh bahwa dalam situasi darurat, nyawa manusia harus selalu menjadi prioritas utama.
Rumah dapat dibangun kembali.
Kendaraan dapat dibeli kembali.
Perabot rumah tangga dapat diganti.
Namun keselamatan jiwa tidak memiliki pengganti.
Musibah yang menimpa Bahud juga memperlihatkan sisi lain yang menguatkan.
Saat asap hitam membumbung ke langit Dusun Merabok, warga sekitar tanpa diminta langsung berdatangan memberikan pertolongan.
Sebagian membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya.
Sebagian lainnya membantu mengevakuasi warga dan mengamankan area sekitar.
Tak lama kemudian, Kapolsek Tempilang Ipda M. Deni Irawan, S.H., bersama anggota Polsek Tempilang turun langsung ke lokasi untuk memimpin proses pemadaman bersama masyarakat.
Petugas juga berkoordinasi dengan PLN untuk memutus aliran listrik demi mencegah risiko yang lebih besar.
Upaya bersama itu akhirnya berhasil mengendalikan kebakaran sekitar pukul 11.50 WIB.
Meski rumah dan sebuah mobil tidak dapat diselamatkan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Bagi warga Dusun Merabok, itulah hal yang paling penting.
“Kami semua ikut sedih melihat musibah yang dialami Pak Bahud. Tapi kami juga bersyukur beliau dan keluarganya selamat,” kata Ahmad, salah seorang warga setempat.
Menurut dia, bantuan yang diberikan pemerintah sangat membantu keluarga korban yang saat ini kehilangan hampir seluruh kebutuhan dasar mereka.
Sementara itu, warga lainnya, Rina, mengatakan musibah tersebut memperlihatkan bahwa semangat gotong royong masyarakat masih sangat kuat.
“Sejak kemarin banyak warga datang membantu. Ada yang membawa makanan, ada yang membantu membersihkan puing-puing. Kami ingin keluarga korban tahu bahwa mereka tidak sendirian,” ujarnya.
Kerugian akibat kebakaran itu diperkirakan mencapai sekitar Rp300 juta.
Angka tersebut memang besar.
Namun bagi Bahud, kehilangan terbesar bukanlah nilai materi yang terbakar.
Melainkan hilangnya tempat yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kehidupan keluarganya.
Meski demikian, ia tidak ingin larut dalam kesedihan.
Di tengah puing-puing yang masih berserakan, ia memilih menatap ke depan.
Bantuan yang datang dari pemerintah, aparat dan masyarakat menjadi pengingat bahwa masih ada banyak orang yang peduli.
Di Dusun Merabok, api memang telah menghanguskan sebuah rumah.
Namun kebakaran itu juga memperlihatkan sesuatu yang tidak ikut terbakar tentang rasa kemanusiaan, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat Bangka Barat.
Dari reruntuhan yang tersisa, harapan perlahan mulai dibangun kembali. (BELVA)

