Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Tiga hari sudah berlalu sejak seorang pria paruh baya berusia sekitar 55 hingga 58 tahun pergi menuju kebunnya di kawasan Sungai Butun, Desa Tugang, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat. Namun hingga Jumat (5/6/2026), keberadaannya masih menjadi tanda tanya.
Yang tersisa hanya kendaraan.
Peralatan kerja masih ada.
Jejak terakhir masih diketahui.
Tetapi pemiliknya seakan hilang ditelan belantara Sungai Butun.
Di tengah misteri yang belum terpecahkan itu, satu hal terlihat jelas bahwa Basarnas bersama tim gabungan tidak berhenti bergerak.
Memasuki hari ketiga pencarian, personel Pos SAR Mentok, BPBD Bangka Barat, Polairud, Polsek Kelapa, pemerintah daerah, pemerintah desa, nelayan, serta masyarakat setempat terus memperluas penyisiran di lokasi yang diyakini menjadi titik terakhir korban berada.
Di atas peta, kawasan itu mungkin hanya terlihat sebagai garis sungai yang membelah wilayah Desa Tugang.
Namun di lapangan, Sungai Butun menghadirkan tantangan yang jauh lebih rumit.
Vegetasi liar tumbuh rapat di sepanjang aliran sungai.
Semak belukar menutup jalur akses.
Sebagian titik bahkan tidak dapat ditembus secara langsung menggunakan perahu.
Komandan Pos SAR Mentok, Fajar Permana, mengatakan strategi pencarian masih difokuskan pada dua sektor utama, yakni penyisiran melalui aliran sungai dan penyisiran darat di kawasan hutan maupun jalur kebun sekitar lokasi kejadian.
“Untuk pencarian hari ini masih sama seperti sebelumnya, yaitu penyisiran di aliran sungai dan penyisiran di pinggiran sungai maupun kawasan hutan. Jadi kami fokuskan menjadi dua sektor pencarian,” kata Fajar.
Menurutnya, medan di Sungai Butun menjadi salah satu hambatan terbesar dalam operasi kemanusiaan tersebut.
Banyak area yang tidak bisa dijangkau secara langsung karena tertutup vegetasi rapat.
Akibatnya, tim harus mencari jalur alternatif agar seluruh sektor dapat diperiksa secara menyeluruh.
“Salah satu kendala terbesar adalah akses sungainya sendiri. Banyak tumbuhan yang menghalangi jalur penyisiran. Karena itu kami harus memutar melalui Jembatan Sungai Butun untuk menjangkau beberapa area yang tidak bisa ditembus langsung,” ujarnya.
Kesulitan itu membuat setiap meter penyisiran menjadi pekerjaan yang tidak sederhana.
Di bawah terik matahari, personel SAR harus bergerak perlahan menembus jalur berlumpur dan semak yang rapat.
Ketika malam tiba, tantangan berubah menjadi keterbatasan jarak pandang dan meningkatnya risiko keselamatan personel.
Namun operasi tetap berjalan.
Sebab bagi tim pencarian, waktu adalah faktor yang tidak dapat ditawar.
Semakin lama korban belum ditemukan, semakin luas area yang harus diperiksa.
Karena itulah setiap jam pencarian menjadi sangat berharga.
Di lapangan, Basarnas tidak bekerja sendirian.
Sejumlah nelayan lokal turut menurunkan perahu untuk membantu menyisir aliran sungai dari kawasan Jembatan Sungai Butun menuju titik-titik yang dianggap berpotensi menyimpan petunjuk.
Di daratan, warga bergabung bersama petugas menyusuri jalur kebun dan kawasan hutan.
Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan utama dalam operasi yang hingga kini masih berlangsung.
“Setiap operasi pencarian dan pertolongan selalu kami lakukan dengan koordinasi dan sinergi bersama instansi maupun lembaga terkait serta masyarakat. Dalam operasi ini ada Polsek Kelapa, Polairud, BPBD Bangka Barat, pemerintah daerah dan masyarakat yang ikut membantu. Koordinasi seperti ini sangat membantu kami dalam pelaksanaan pencarian dan pertolongan,” kata Fajar.
Di balik koordinasi itu tersimpan cerita yang jarang terlihat dalam laporan resmi.
Ada petugas yang harus keluar masuk semak selama berjam-jam.
Ada nelayan yang meninggalkan aktivitas melaut untuk membantu pencarian.
Ada warga yang menyediakan makanan dan minuman bagi relawan.
Ada keluarga korban yang terus menunggu di tengah ketidakpastian.
Mereka semua dipersatukan oleh harapan yang sama.
Menemukan korban.
Bagi keluarga, tiga hari bukan sekadar hitungan waktu.
Tiga hari sebagai akumulasi kecemasan yang terus bertambah.
Setiap suara telepon memunculkan harapan.
Setiap kendaraan yang datang dari lokasi pencarian membuat jantung berdebar.
Namun hingga kini, jawaban yang mereka tunggu belum juga datang.
Fajar menegaskan bahwa Basarnas akan terus mengoptimalkan seluruh kemampuan yang dimiliki selama operasi pencarian berlangsung.
“Kami tetap berupaya melakukan pencarian semaksimal mungkin. Dengan segala kondisi lapangan dan tantangan yang ada, kami akan memberikan upaya terbaik agar pencarian ini dapat membuahkan hasil yang baik,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi gambaran tentang semangat yang masih bertahan di lapangan.
Karena bagi para petugas SAR, operasi pencarian bukan sekadar tugas prosedural.
Di balik setiap langkah penyisiran terdapat harapan keluarga yang belum boleh padam.
Peristiwa di Sungai Butun juga menjadi pengingat penting bagi masyarakat mengenai risiko aktivitas di kawasan terpencil.
Banyak warga pedesaan terbiasa bekerja sendiri di kebun karena merasa telah mengenal medan dengan baik. Namun keadaan darurat dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan.
Karena itu, petugas mengimbau masyarakat untuk selalu memberitahukan tujuan perjalanan kepada keluarga, membawa alat komunikasi yang aktif, memperhatikan waktu kepulangan, dan menghindari aktivitas seorang diri di lokasi yang jauh dari permukiman.
Langkah sederhana tersebut sering kali menjadi faktor penentu ketika proses pencarian harus dilakukan.
Hingga Jumat siang, operasi pencarian masih berlangsung.
Perahu-perahu masih bergerak di Sungai Butun.
Petugas masih menyusuri semak.
Relawan masih bertahan.
Keluarga masih menunggu.
Dan di tengah belantara yang masih menyimpan rahasianya, satu pertanyaan besar tetap menggantung di atas Sungai Butun, tentang apa yang sebenarnya terjadi pada pria yang pergi ke kebun itu, tetapi tidak pernah kembali pulang?. (BELVA)


