BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL
COM — Ada hari ketika seorang jaksa tidak memegang berkas perkara, tidak memasuki ruang sidang dan tidak berbicara tentang pasal-pasal hukum.
Hari itu, mereka hanya menggulung lengan baju.
Sebuah jarum menembus kulit. Darah perlahan mengalir ke dalam kantong bening. Tidak banyak yang berubah dari wajah para pendonor. Namun dari sesuatu yang tampak sederhana itu, boleh jadi ada kehidupan lain yang kelak memperoleh kesempatan untuk bertahan.
Pemandangan tersebut mewarnai kegiatan donor darah dalam rangka memperingati Hari Lahir Kejaksaan RI ke-81 Tahun 2026 yang digelar Kejaksaan Negeri Bangka Barat, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan ini bukan semata-mata rangkaian peringatan. Di balik darah yang disumbangkan, tersimpan pesan kemanusiaan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus hadir dalam bentuk penegakan hukum.
Kadang, pengabdian cukup dimulai dengan kesediaan untuk berbagi.
Kasi Intelijen Kejari Bangka Barat, Aritonang, mengatakan donor darah menjadi salah satu kegiatan awal dari rangkaian peringatan Hari Lahir Kejaksaan RI ke-81 yang puncaknya akan dilaksanakan pada 2 September 2026.
“Pada hari ini kita melaksanakan kegiatan donor darah dalam rangka memperingati Hari Lahir Kejaksaan yang ke-81 yang akan diselenggarakan pada tanggal 2 September 2026,” ujar Aritonang.
Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut sebelumnya diawali dengan bakti sosial berupa pembersihan rumah ibadah, baik masjid maupun gereja.
Selanjutnya, jajaran Kejari Bangka Barat akan melaksanakan kegiatan tabur bunga dan kunjungan ke panti. Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan upacara peringatan Hari Lahir Kejaksaan pada 2 September 2026.
Ada keunikan dalam donor darah.
Orang yang memberikan darahnya hari ini mungkin tidak pernah mengetahui kepada siapa darah tersebut akan mengalir.
Bisa jadi kepada seorang ibu yang sedang berjuang melahirkan. Bisa pula kepada seorang anak yang membutuhkan transfusi atau seorang ayah yang sedang bertahan di ruang perawatan.
Pendonor tidak mengenal mereka.
Tetapi darah tidak membutuhkan pengenalan untuk menjadi berarti.
Ia hanya membutuhkan satu hal: kerelaan untuk memberi.
Dalam kegiatan tersebut, jajaran staf Kejari Bangka Barat juga ikut menjadi pendonor.
“Semua staf juga ikut,” kata Aritonang.
Kalimat pendek itu memperlihatkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal jabatan. Di hadapan kebutuhan darah, seseorang tidak dinilai dari seragam, pangkat, atau kedudukannya.
Semua memiliki kesempatan untuk berbuat baik.
Masyarakat selama ini mengenal jaksa melalui wajah penegakan hukum. Ada perkara yang harus ditangani, ada tuntutan yang harus disusun dan ada tanggung jawab untuk memastikan hukum berjalan sebagaimana mestinya.
Namun manusia yang bekerja di balik institusi tersebut juga hidup bersama masyarakat.
Karena itu, kepedulian sosial menjadi bagian penting dari wajah pengabdian.
Donor darah mengajarkan sebuah nilai yang sederhana untuk menolong sesama tidak harus menunggu menjadi orang yang memiliki banyak.
Ketika tubuh sehat dan memenuhi syarat medis, seseorang dapat menyumbangkan darahnya. Darah tersebut kemudian dapat digunakan untuk membantu pasien yang membutuhkan transfusi.
Dengan demikian, donor darah bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bentuk edukasi tentang pentingnya solidaritas dan kesadaran menjaga ketersediaan darah.
Aritonang berharap darah yang dikumpulkan dalam kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapan kegiatan donor darah ini semoga bermanfaat buat masyarakat,” tuturnya.
Setiap peringatan hari lahir institusi selalu memiliki kegiatan yang terjadwal. Namun nilai sebuah peringatan tidak seharusnya selesai ketika acara ditutup.
Justru setelah acara berakhir, nilai kepedulian itulah yang seharusnya tetap hidup.
Donor darah memberikan ruang untuk membangun kesadaran bahwa membantu sesama tidak semestinya hanya dilakukan ketika ada momentum tertentu.
Hari ini donor darah karena HUT Kejaksaan.
Besok dan lusa, semangat berbagi itu semestinya tetap ada.
Sebab kebutuhan darah tidak mengenal kalender. Rumah sakit tidak mengenal momentum peringatan. Seseorang yang membutuhkan transfusi tidak pernah memilih kapan dirinya jatuh sakit.
Di sinilah kegiatan tersebut memperoleh makna yang lebih dalam.
Peringatan Hari Lahir Kejaksaan RI ke-81 bukan hanya tentang bertambahnya usia institusi, tetapi juga tentang bagaimana nilai pengabdian terus diterjemahkan dalam kehidupan nyata.
Bayangkan sebuah keluarga sedang menunggu di depan ruang perawatan.
Ada kecemasan.
Ada doa.
Ada harapan agar orang yang mereka cintai dapat melewati masa kritis.
Di tengah situasi itu, sebuah kantong darah mungkin hadir sebagai bagian kecil dari upaya menyelamatkan kehidupan.
Tidak ada yang tahu dari siapa darah itu berasal.
Tetapi ada seseorang yang sebelumnya telah memilih untuk memberi.
Begitulah kebaikan bekerja.
Ia tidak selalu datang dengan nama. Tidak selalu meminta balasan. Bahkan terkadang, orang yang berbuat baik tidak pernah mengetahui bahwa tindakannya pernah membantu menyelamatkan seseorang.
Karena itu, donor darah di Kejari Bangka Barat menjadi lebih dari sekadar kegiatan dalam rangka HUT ke-81 Kejaksaan RI.
Ia menjadi pengingat bahwa hukum dan kemanusiaan bukan dua hal yang harus dipisahkan.
Penegakan hukum menjaga keteraturan kehidupan, sementara kepedulian menjaga agar kehidupan itu sendiri tetap dihargai.
Hari Kamis itu, di tengah rangkaian peringatan usia ke-81 Kejaksaan RI, pesan tersebut tidak disampaikan melalui pidato panjang.
Ia mengalir diam-diam.
Dari tubuh seorang pendonor.
Masuk ke sebuah kantong darah.
Lalu menunggu perjalanan berikutnya menuju seseorang yang mungkin sedang membutuhkan satu alasan lagi untuk tetap hidup.
Setetes darah mungkin kecil bagi yang memberi. Tetapi bagi seseorang yang menunggu, ia bisa menjadi sebesar harapan. (Belva)


