PANGKALPINANG, TARGETKRIMINAL.COM — Masa depan anak-anak dipertaruhkan ketika narkoba, perundungan, dan kekerasan dibiarkan tumbuh di lingkungan mereka. Di era digital, ancaman itu bahkan dapat masuk ke ruang pribadi melalui telepon genggam, media sosial, dan interaksi di dunia maya.
Menghadapi tantangan tersebut, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat perlindungan anak, mulai dari lingkungan keluarga hingga sekolah. Pesan itu disampaikannya saat membuka Sosialisasi dan Deklarasi Cegah Narkoba, Perundungan, dan Kekerasan Anak di Gedung Olahraga (GOR) Sahabuddin, Air Itam, Pangkalpinang, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut merupakan bagian dari program unggulan Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI).
Di hadapan ratusan pelajar, tenaga pendidik, kepala sekolah, dan pemangku kepentingan, Hidayat menegaskan bahwa anak-anak harus mendapatkan perlindungan agar dapat tumbuh dan berkembang tanpa dibayangi ancaman penyalahgunaan narkoba, perundungan, maupun kekerasan.
“Anak-anak adalah masa depan Bangka Belitung. Kita tidak boleh membiarkan masa depan mereka rusak oleh narkoba, perundungan, maupun kekerasan di era digital ini,” tegas Hidayat.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab melindungi anak tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Orang tua, guru, dan masyarakat harus mengambil peran aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi generasi muda.
“Pemerintah daerah bersama PKK dan seluruh elemen masyarakat berkomitmen penuh untuk hadir, melindungi, serta memastikan sekolah dan rumah menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak,” lanjutnya.
Di tengah perkembangan teknologi, pola pengasuhan anak menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pergaulan negatif, penyalahgunaan narkoba, perundungan, hingga cyberbullying membutuhkan perhatian serius dari orang tua dan lingkungan pendidikan.
Perundungan di ruang digital dapat berupa penghinaan melalui komentar, intimidasi lewat pesan, atau penyebaran konten yang mempermalukan seseorang. Dampaknya dapat meluas karena konten digital berpotensi tersebar dengan cepat dan sulit dikendalikan.
Karena itu, pendampingan anak tidak cukup hanya dilakukan dengan membatasi penggunaan gawai. Orang tua juga perlu membangun komunikasi terbuka agar anak merasa nyaman menceritakan persoalan yang dihadapi.
Melalui program PAAREDI, TP PKK Babel mendorong penguatan pola asuh yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, tanpa mengabaikan pendidikan karakter, nilai moral dan tanggung jawab sosial.
Di sekolah, guru dan tenaga pendidik juga memiliki peran penting dalam membangun budaya saling menghormati. Setiap indikasi perundungan dan kekerasan perlu ditangani secara tepat agar anak tidak merasa sendirian ketika menghadapi persoalan.
Kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah dan masyarakat diharapkan mampu membentuk sistem perlindungan yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Hidayat menyampaikan apresiasi kepada Ketua TP PKK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Noni Hidayat Arsani, beserta jajaran pengurus atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Noni beserta seluruh jajaran yang telah menginisiasi kegiatan penting ini,” ungkapnya.
Menurut Hidayat, keterlibatan TP PKK melalui program PAAREDI menjadi bagian penting dalam membendung pengaruh negatif era digital sekaligus memperkuat peran keluarga dalam mendampingi anak.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3ACSKB), Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, jajaran pengurus TP PKK tingkat provinsi dan Kota Pangkalpinang, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala perangkat daerah, kepala sekolah, serta tenaga pendidik.
Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Bangka Belitung juga mengikuti sosialisasi tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran mengenai bahaya narkoba, perundungan, dan kekerasan.
Rangkaian acara diawali dengan doa bersama, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars PKK. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Gubernur serta Deklarasi Bersama Cegah Narkoba, Perundungan dan Kekerasan Anak yang dipimpin Hidayat.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh pemangku kepentingan dan peserta. Suasana semakin semarak ketika Gubernur bersama para hadirin menyerukan jargon, “Jangan Lupa Bahagia!”
Di balik suasana penuh semangat tersebut, terdapat pekerjaan berkelanjutan yang harus dilakukan. Deklarasi perlu diterjemahkan menjadi pendidikan yang konsisten, pengawasan yang tepat, komunikasi keluarga yang sehat, serta penanganan serius terhadap setiap laporan perundungan dan kekerasan.
Perlindungan anak bukan hanya tentang menjauhkan mereka dari pengaruh negatif, melainkan juga memastikan mereka memiliki ruang untuk belajar, berpendapat, berinteraksi dan berkembang tanpa rasa takut.
Melalui sinergi Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan TP PKK Babel, upaya pencegahan narkoba, perundungan dan kekerasan diharapkan semakin kuat serta menjangkau keluarga, sekolah dan masyarakat luas.
Sebab, masa depan Bangka Belitung tidak hanya ditentukan oleh apa yang diwariskan kepada generasi muda, tetapi juga oleh seberapa serius semua pihak melindungi mereka sejak dini. (Belva Al Akhab)


