LILIS SEJAHTERA dan Jalan Sunyi Membangun Manusia Unggul dari Bangka Barat
Oleh: Eka Octawianto, S.T., M.AP
(Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan)
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Menjelang sore, sebuah mobil perpustakaan keliling berhenti di pinggir desa. Tidak ada panggung besar. Tidak ada musik yang riuh. Hanya beberapa rak buku sederhana, tikar yang dibentangkan di halaman rumah warga, dan anak-anak yang perlahan mulai berdatangan dengan wajah penasaran.
Sebagian masih mengenakan seragam sekolah yang kusut setelah seharian belajar. Sebagian lagi datang tanpa alas kaki. Mereka duduk melingkar, membuka buku bergambar, lalu tertawa kecil ketika menemukan cerita yang menarik perhatian mereka.
Di sudut lain, seorang ibu muda tampak serius mengikuti pelatihan keterampilan yang diadakan bersamaan dengan layanan perpustakaan. Sesekali ia mencatat, sesekali bertanya pelan kepada pendamping kegiatan. Di wajahnya tampak sesuatu yang sederhana, tetapi penting: harapan.
Pemandangan seperti itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi sebagian masyarakat desa di Kabupaten Bangka Barat, ruang kecil itu perlahan menjadi tempat lahirnya kemungkinan-kemungkinan baru.
Di sanalah perpustakaan mulai menemukan makna yang sesungguhnya: bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang yang menjaga harapan agar tidak benar-benar padam.
Selama ini pembangunan daerah kerap diukur dari hal-hal yang tampak secara fisik—jalan yang mulus, gedung yang menjulang, atau proyek-proyek besar yang mudah dipotret dan dipublikasikan.
Semua itu memang penting. Tetapi ada satu hal yang sering luput disadari: daerah yang benar-benar kuat tidak hanya dibangun oleh beton dan infrastruktur, melainkan oleh kualitas manusianya.
Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah bergantung pada kemampuan masyarakatnya untuk belajar, beradaptasi, dan bertahan menghadapi perubahan zaman.
Di titik itulah literasi menemukan relevansinya kembali.
Sayangnya, literasi masih sering dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal hari ini, literasi telah berkembang menjadi kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, memanfaatkan teknologi, hingga kemampuan manusia menjaga dirinya agar tidak tersesat di tengah banjir informasi digital.
UNESCO bahkan menempatkan literasi sebagai fondasi penting pembangunan manusia abad ke-21. Karena itu, bangsa yang ingin maju tidak cukup hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga harus membangun budaya belajar masyarakatnya.
Dan tantangan itu terasa nyata hingga ke desa-desa.
Masih ada anak-anak yang tumbuh jauh dari ruang baca yang layak. Masih ada keluarga yang menganggap buku sebagai barang mewah yang tidak selalu mudah dijangkau. Sementara di sisi lain, dunia digital bergerak begitu cepat, menghadirkan arus informasi tanpa batas yang tidak seluruhnya membawa pengetahuan.
Kabupaten Bangka Barat menghadapi kenyataan yang tidak jauh berbeda.
Masih adanya angka putus sekolah, rendahnya budaya membaca, hingga keterbatasan ruang belajar masyarakat menjadi persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan administratif semata.
Namun menariknya, Bangka Barat mencoba melihat persoalan itu dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Perpustakaan tidak lagi diposisikan sebagai fasilitas pelengkap birokrasi. Ia perlahan diarahkan menjadi ruang pemberdayaan masyarakat.
Dari cara pandang itulah lahir inovasi Lingkaran Literasi Inklusi Sosial untuk Kesejahteraan atau yang dikenal dengan nama LILIS SEJAHTERA.
Nama itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi di baliknya tersimpan sebuah gagasan besar: bagaimana menjadikan literasi bukan hanya aktivitas membaca, melainkan jalan membangun martabat manusia.
Program ini lahir bukan dari ruang yang jauh dari masyarakat, melainkan dari persoalan yang benar-benar dirasakan warga sehari-hari.
Tentang anak-anak yang nyaris kehilangan kesempatan sekolah. Tentang masyarakat desa yang membutuhkan ruang belajar. Tentang keluarga-keluarga yang berusaha bertahan di tengah perubahan ekonomi dan teknologi yang bergerak terlalu cepat.
Data tahun 2022 menunjukkan masih adanya puluhan siswa SD dan SMP di Bangka Barat yang mengalami putus sekolah. Dalam laporan statistik, angka itu mungkin tampak biasa. Tetapi di balik angka tersebut, ada cerita tentang anak-anak yang perlahan kehilangan arah masa depan.
Ada yang harus membantu orang tua bekerja. Ada yang berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi. Ada pula yang tumbuh tanpa ruang belajar yang memadai.
Dan sering kali, masalah terbesar bukan sekadar kemiskinan ekonomi, melainkan kemiskinan kesempatan.
Karena itu, LILIS SEJAHTERA tidak berhenti pada pengadaan buku atau pembangunan gedung perpustakaan semata.
Yang dibangun justru ekosistem belajar yang hidup.
Perpustakaan perlahan diarahkan menjadi tempat masyarakat bertemu, berdiskusi, belajar keterampilan, memperoleh pelatihan, hingga menemukan peluang baru untuk memperbaiki kehidupan mereka.
Di beberapa desa, perpustakaan keliling hadir bukan hanya membawa buku, tetapi juga membawa suasana belajar yang hangat.
Anak-anak datang bukan karena diwajibkan, melainkan karena merasa nyaman berada di sana. Mereka mulai mengenal buku bukan sebagai beban pelajaran, tetapi sebagai jendela untuk melihat dunia yang lebih luas.
Kelompok perempuan mulai mengikuti pelatihan keterampilan dan kewirausahaan. Sebagian belajar mengembangkan usaha kecil rumahan. Sebagian lainnya mulai berani memasarkan produk melalui media digital.
Sementara masyarakat yang sebelumnya jauh dari teknologi perlahan mulai mengenal literasi digital.
Perubahan itu memang tidak selalu besar dan tidak selalu cepat. Tetapi ia tumbuh perlahan, hidup di tengah masyarakat, dan bergerak melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Barangkali benar, kadang sebuah buku mampu menghadirkan harapan yang tidak berhasil diberikan oleh banyak pidato pembangunan.
Dalam banyak pendekatan pelayanan publik modern, pemerintah tidak lagi cukup bekerja secara administratif semata. Pelayanan publik dituntut lebih adaptif, inovatif, dan benar-benar hadir menjawab kebutuhan masyarakat.
Pendekatan semacam itulah yang terasa dalam implementasi LILIS SEJAHTERA.
Program ini tidak hanya mengejar banyaknya kegiatan seremonial, tetapi berupaya menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Hal itu terlihat dari meningkatnya Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Bangka Barat yang sebelumnya berada di angka 46,58 pada tahun 2022 menjadi 83,84 pada tahun 2024. Tingkat kegemaran membaca masyarakat juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Namun sesungguhnya, keberhasilan terbesar program ini bukan hanya tentang angka statistik.
Keberhasilan itu terlihat dari mulai berubahnya cara masyarakat memandang perpustakaan.
Yang dahulu dianggap tempat formal dan sunyi, kini perlahan menjadi ruang publik yang lebih dekat dengan kehidupan warga.
Perpustakaan berkembang menjadi ruang belajar masyarakat, pusat literasi digital, tempat pelatihan keterampilan, ruang tumbuh UMKM, hingga pusat pendidikan nonformal.
Di balik perubahan itu, ada kerja yang sering kali tidak terlihat.
Ada petugas perpustakaan yang menempuh perjalanan jauh menuju desa-desa. Ada komunitas literasi yang terus bergerak meski dengan fasilitas terbatas. Ada guru, relawan, dan pegiat literasi yang percaya bahwa satu buku dapat mengubah masa depan seorang anak.
Mungkin pekerjaan mereka tidak selalu masuk berita utama. Tetapi dari tangan orang-orang seperti itulah harapan sosial perlahan dijaga agar tetap hidup.
Program ini juga tumbuh melalui kolaborasi berbagai pihak.
Pemerintah daerah tidak berjalan sendiri. LILIS SEJAHTERA melibatkan pemerintah desa, sekolah, komunitas literasi, PKK, Bunda Literasi, hingga masyarakat.
Sebab budaya membaca tidak mungkin tumbuh hanya melalui instruksi formal birokrasi. Ia tumbuh dari lingkungan sosial yang saling mendukung.
Dan literasi pertama sesungguhnya lahir dari rumah, dari orang tua yang mengenalkan anak pada cerita, buku, dan kebiasaan belajar.
Karena itu, pembangunan literasi sesungguhnya bukan hanya tentang buku, melainkan tentang membangun ekosistem harapan di tengah masyarakat.
Apa yang dilakukan melalui LILIS SEJAHTERA juga sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Bangka Barat 2025–2030:
“Bangka Barat Bermartabat: Berkeadilan, Makmur, Tangguh, dan Bersahabat.”
Visi tersebut tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana membangun manusia yang unggul, produktif, dan memiliki daya saing.
Karena pembangunan manusia tidak cukup hanya melalui pendidikan formal. Masyarakat juga membutuhkan ruang belajar sepanjang hayat yang mudah dijangkau dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dan perpustakaan memiliki peluang besar untuk menjalankan fungsi itu.
Ke depan, pengembangan LILIS SEJAHTERA juga mulai diarahkan menuju konsep smart library berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Namun teknologi dalam konteks ini bukan dimaksudkan menggantikan manusia. Teknologi justru diharapkan membantu perpustakaan lebih memahami kebutuhan masyarakatnya.
AI dapat membantu pelayanan perpustakaan menjadi lebih cepat dan lebih personal: mulai dari rekomendasi buku otomatis, chatbot layanan perpustakaan, hingga pemetaan kebutuhan literasi masyarakat berbasis data.
Tetapi di tengah perkembangan teknologi itu, satu hal tetap dijaga: nilai kemanusiaan.
Karena tujuan akhir literasi bukan sekadar menciptakan masyarakat yang melek teknologi, melainkan masyarakat yang mampu menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupannya.
Apa yang dilakukan Bangka Barat sesungguhnya memberikan satu pelajaran penting: pembangunan literasi bukanlah program pinggiran.
Literasi adalah fondasi pembangunan manusia.
Ketika perpustakaan berhasil dihubungkan dengan pendidikan, teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan kesejahteraan, maka perpustakaan sedang menjalankan peran penting dalam mengubah kualitas hidup masyarakat.
LILIS SEJAHTERA menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari proyek-proyek raksasa. Kadang, perubahan justru dimulai dari keberanian melihat perpustakaan dengan cara yang berbeda.
Dari ruang sederhana yang menghadirkan kesempatan belajar. Dari buku-buku yang membuka harapan. Dari keyakinan bahwa masa depan daerah sesungguhnya dibangun oleh masyarakat yang tidak pernah berhenti belajar.
Karena bangsa yang besar pada akhirnya bukan hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi, melainkan oleh manusia-manusia yang tetap menjaga keinginan untuk belajar, bahkan di tengah segala keterbatasan. (BELVA)

