BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Ada penantian yang tidak selalu berakhir dengan kepulangan. Di Desa Kelabat, Kecamatan Parittiga, Bangka Barat, harapan seorang istri untuk kembali melihat suaminya pulang ke rumah berakhir dengan kabar duka pada Jumat pagi, 11 September 2026.
AP (49), warga Dusun Bukit Rantau, Desa Kelabat, ditemukan meninggal dunia di area perkebunan sawit sekitar pukul 08.30 WIB. Sebelumnya, ia dilaporkan tidak pulang selama kurang lebih empat hari setelah meninggalkan rumah dengan alasan hendak pergi ke bengkel.
Polisi menduga AP meninggal akibat bunuh diri. Namun, penyebab pasti kematian dan motif yang melatarbelakangi peristiwa tersebut masih dalam pendalaman pihak berwenang.
Penemuan itu bermula ketika Asep, pemilik kebun sawit, sedang membersihkan area perkebunannya. Di tengah aktivitas tersebut, ia mencium bau tidak sedap. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah sepeda motor yang berada di sekitar lokasi.
Saat menoleh lebih jauh, ia menemukan seorang pria yang telah meninggal dunia.
“Pemilik kebun itu masih membersihkan kebun dan mencium bau-bau. Kemudian dia (Asep) melihat ada motor dan pas menoleh, ternyata korban sudah tergantung dan meninggal dunia,” ungkap Kepala Desa Kelabat, Chris Karyadi, saat dikonfirmasi melalui telepon, Jumat (11/9/2026).
Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada jajaran Polsek Jebus. Personel kepolisian mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal, mengamankan tempat kejadian perkara, serta memastikan identitas korban.
Pencarian terhadap AP yang sebelumnya menjadi kecemasan keluarga akhirnya menemukan titik akhir. Namun, jawaban yang datang bukanlah kepulangan yang selama ini dinantikan.
Sebelum kabar duka itu datang, AP diketahui meninggalkan rumah pada Minggu, 6 September 2026. Ia disebut berpamitan kepada keluarga untuk pergi ke bengkel.
Namun, waktu berlalu tanpa kepulangan. Senin, 7 September 2026, istrinya kemudian melaporkan AP kepada Polsek Jebus karena tidak kunjung kembali ke rumah.
Kapolsek Jebus AKP, Chandra Wijaya mengatakan, laporan tersebut diterima setelah istri korban menyampaikan bahwa suaminya telah pergi sejak Minggu.
“Hari Senin memang ada yang melaporkan kepada kami seorang ibu, istrinya, menyatakan bahwa suaminya sudah meninggalkan rumah untuk ke bengkel, namun tidak pulang-pulang. Dia meninggalkan rumah itu hari Minggu,” ujar Chandra saat dikonfirmasi melalui telepon.
Empat hari kemudian, polisi menerima informasi mengenai penemuan seorang pria meninggal dunia di kawasan perkebunan Desa Kelabat. Personel kemudian mendatangi lokasi dan mencocokkan ciri-ciri korban dengan laporan orang hilang yang telah diterima sebelumnya.
“Setelah dicek oleh anggota, cocok dengan apa yang sudah dilaporkan pada hari Senin sebelumnya,” ucap Chandra.
AP ditemukan mengenakan baju berwarna merah, celana jeans panjang, dan sandal jepit. Polisi selanjutnya melakukan penanganan di lokasi serta mengevakuasi jenazah.
“Setelah dilihat, dicek TKP, ternyata benar apa yang dicari oleh ibu itu sudah tergantung di sini dan sudah menjadi mayat. Makanya sekarang kami cuma dapat berusaha bagaimana caranya kita menghormati jenazah, kita turunkan,” jelas Chandra.
Kapolsek Jebus AKP, Chandra Wijaya menjelaskan, berdasarkan pemeriksaan awal secara kasat mata, pihaknya tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
“Murni ini gantung diri, bukan ada sebab-sebab lain. Karena setelah dicek dari kondisi mayat, kondisi korban sendiri tidak ada tanda-tanda yang lain, tidak ada tanda-tanda kekerasan,” ungkap Chandra.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan kondisi korban dan penyebab kematiannya secara lebih terperinci.
Chandra memperkirakan AP telah meninggal dunia sekitar empat hari sebelum ditemukan. Perkiraan tersebut didasarkan pada pemeriksaan fisik awal dan disesuaikan dengan rentang waktu sejak korban dilaporkan tidak pulang.
“Secara kasat mata kami cocokkan dengan laporan dari hari Senin sampai ke hari sekarang, ya meninggal dunianya sudah lebih kurang empat hari. Medis yang akan lebih detail menjelaskan,” ujarnya.
Mengenai motif, polisi belum dapat memberikan kepastian. Berbagai informasi terkait korban, termasuk alasan kepergiannya sebelum ditemukan meninggal dunia, masih didalami.
“Untuk motif, motifnya masih kami dalami. Sementara belum bisa kami kasih jawaban apa kepastian penyebab,” kata Chandra.
Di tengah peristiwa yang menyisakan duka itu, Kepala Desa Kelabat, Chris Karyadi, mengenang AP sebagai sosok yang pendiam dan dikenal baik oleh warga.
“Korban itu pendiam, tidak banyak bunyi dan baik juga,” ujarnya.
Bagi warga yang mengenalnya, AP bukan sekadar nama dalam kabar penemuan jenazah. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari di desa. Seorang buruh harian lepas, seorang suami, dan seseorang yang kepergiannya meninggalkan ruang kosong bagi keluarga.
Chris juga menyampaikan bahwa dari pengamatan awal warga, tidak terlihat dugaan pembunuhan. Namun, ia tetap menyerahkan kepastian penyebab kematian kepada pihak kepolisian.
“Kalau dilihat sih tidak ada dugaan pembunuhan, soalnya kita lihat baju, celana dan sandal pun masih terpakai,” katanya.
Setelah penanganan di lokasi, jenazah AP dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit sebelum dipulangkan ke rumah duka. Korban rencananya dimakamkan pada Jumat, 11 September 2026, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Bukit Rantau, Desa Kelabat.
Pagi itu, perkebunan sawit yang biasanya menjadi ruang bagi aktivitas warga berubah menjadi tempat berakhirnya sebuah pencarian. Empat hari penantian menemukan jawaban, tetapi bukan jawaban yang diharapkan keluarga.
Di rumah duka, kehilangan itu kini menjadi kenyataan. Sementara bagi pihak berwenang, pendalaman masih berlanjut untuk memastikan penyebab kematian dan motif peristiwa tersebut. (Belva)


