BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika warga mulai berdatangan. Ada yang berjalan santai, ada yang mengikuti senam, sebagian lainnya berhenti di lapak-lapak UMKM. Di sela keramaian itu, ada pula warga yang datang untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.
Di tempat yang sama, sebuah gagasan lain diperkenalkan: pelayanan publik yang ingin dibuat lebih dekat dengan kehidupan warga.
Sungai Baru Fair 2026 di Kelurahan Sungai Baru, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Sabtu (22/8/2026), tidak sekadar menghadirkan perayaan. Kegiatan itu dirangkaikan dengan peluncuran Aplikasi PRIMA (Pelayanan Responsif Integratif Masyarakat), sebuah inovasi pelayanan publik yang digagas Kelurahan Sungai Baru.
Bagi Lurah Sungai Baru, Sudirman, pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan bangunan, program, atau teknologi. Yang lebih penting adalah memastikan seluruh ikhtiar pemerintah pada akhirnya kembali kepada kebutuhan manusia.
“Inovasi ini merupakan wujud nyata transformasi pelayanan publik di tingkat kelurahan, di mana teknologi dimanfaatkan untuk mempermudah masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai pelayanan yang humanis, responsif, dan partisipatif,” kata Sudirman dalam sambutannya.
Kalimat itu menjadi penting karena kesehatan masyarakat sesungguhnya tidak hanya dibentuk di ruang pemeriksaan.
Ia dibentuk jauh sebelum seseorang datang ke fasilitas kesehatan.
Ia tumbuh dari rumah yang layak, lingkungan yang bersih, pangan yang cukup, ekonomi keluarga yang kuat, informasi yang mudah diperoleh, hingga pelayanan pemerintah yang tidak membuat warga merasa sendirian ketika menghadapi persoalan.
Di Sungai Baru, gagasan itulah yang coba dirangkai menjadi satu.
Aplikasi PRIMA dirancang untuk menghadirkan pelayanan yang lebih cepat, mudah, transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi informasi.
Tetapi Sudirman tidak ingin teknologi menghilangkan manusia dari pelayanan.
Justru sebaliknya.
Teknologi harus menjadi jembatan.
Bukan tembok baru.
“Teknologi dimanfaatkan untuk mempermudah masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai pelayanan yang humanis, responsif dan partisipatif,” ujarnya.
Makna itu bersinggungan langsung dengan pembangunan kesehatan.
Sebab ketika warga membutuhkan layanan, mereka tidak datang sebagai angka dalam administrasi pemerintahan. Mereka datang sebagai manusia dengan persoalan masing-masing.
Ada keluarga yang membutuhkan dokumen kependudukan.
Ada warga yang memerlukan informasi.
Ada pelaku usaha kecil yang membutuhkan dukungan.
Ada keluarga yang mungkin sedang berhadapan dengan persoalan sosial.
Ada warga yang membutuhkan akses terhadap pelayanan kesehatan.
Semua persoalan itu bertemu pada satu titik tentang kemampuan pemerintah merespons kebutuhan masyarakat.
Puskesmas Mentok sendiri menempatkan pelayanan kesehatan prima dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari upaya mewujudkan masyarakat Mentok yang sehat, maju, sejahtera dan bermartabat.
Karena itu, pembangunan kesehatan tidak seharusnya dipahami sebatas menambah fasilitas medis.
Ia juga menyangkut bagaimana masyarakat memperoleh lingkungan sosial dan pemerintahan yang mendukung kehidupan sehat.
Kelurahan salah satu wajah pemerintahan yang paling dekat dengan warga.
Di sanalah persoalan sehari-hari sering kali pertama kali terdengar.
Di sana pula pemerintah seharusnya dapat membaca perubahan kecil yang terjadi di tengah masyarakat.
Situs resmi Kecamatan Mentok mencatat pelayanan umum, ketenteraman dan ketertiban, serta kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari layanan pemerintahan kecamatan. Kecamatan itu juga memiliki agenda yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, termasuk evaluasi aksi konvergensi stunting.
Maka inovasi pelayanan di tingkat kelurahan menjadi lebih dari sekadar urusan administrasi.
Ia merupakan bagian dari mata rantai pembangunan manusia.
Jika mata rantai itu kuat, warga lebih mudah terhubung dengan pemerintah.
Jika terputus, berbagai persoalan bisa tumbuh tanpa segera diketahui.
Sudirman berharap inovasi PRIMA yang lahir dari Sungai Baru tidak berhenti sebagai kebanggaan satu kelurahan.
“Harapan kami pula, inovasi yang lahir dari Kelurahan Sungai Baru ini dapat menjadi inspirasi dan direplikasi oleh desa maupun kelurahan lainnya di Kabupaten Bangka Barat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas,” katanya.
Harapan tersebut mengandung pekerjaan rumah yang tidak kecil.
Sebab ukuran keberhasilan inovasi bukanlah seberapa meriah peluncurannya.
Bukan pula seberapa bagus tampilannya di layar telepon.
Ukuran sesungguhnya adalah apa yang terjadi setelah warga mulai menggunakannya.
Apakah pelayanan benar-benar menjadi lebih mudah?
Apakah warga lanjut usia tetap dapat memperoleh pelayanan?
Bagaimana dengan masyarakat yang tidak terbiasa menggunakan teknologi?
Ketika sistem digital mengalami gangguan, apakah manusia tetap hadir melayani?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kelak menentukan apakah PRIMA benar-benar menjadi inovasi atau sekadar nama baru bagi prosedur lama.
Sungai Baru Fair 2026 memperlihatkan bahwa pembangunan manusia tidak dapat dipotong menjadi sektor-sektor yang berdiri sendiri.
Rangkaian kegiatan tidak hanya memuat peluncuran aplikasi, tetapi juga jalan sehat, senam sehat, bazar UMKM, cek kesehatan dan berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Di satu sisi ada kesehatan tubuh.
Di sisi lain ada ekonomi keluarga.
Di tengahnya ada pelayanan pemerintah.
Ketiganya saling berkaitan.
Seorang warga yang sehat membutuhkan pangan yang baik. Untuk mendapatkan pangan yang baik, keluarga membutuhkan pendapatan yang memadai. Untuk menjaga pendapatan, masyarakat membutuhkan ruang ekonomi. Untuk memastikan semua itu berjalan, dibutuhkan pemerintahan yang mampu menciptakan pelayanan serta lingkungan yang mendukung.
Karena itu, ketika Sudirman berbicara mengenai bazar UMKM sebagai ruang memperkenalkan produk, memperluas pemasaran dan meningkatkan daya saing usaha, sesungguhnya ia sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih besar dari perdagangan.
Ia sedang berbicara tentang daya hidup masyarakat.
“Melalui bazar UMKM, masyarakat diberikan ruang untuk memperkenalkan produk-produk unggulan, memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan daya saing usaha, serta mendorong tumbuhnya ekonomi kerakyatan di Kecamatan Mentok,” kata Sudirman.
Ekonomi keluarga yang tumbuh memberi masyarakat ruang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kesehatan keluarga pun tidak bisa dilepaskan dari kemampuan tersebut.
Di sinilah pembangunan menjadi seperti anyaman.
Tidak ada satu helai yang benar-benar berdiri sendiri.
Ada kecenderungan melihat kesehatan ketika penyakit datang.
Padahal pembangunan kesehatan yang sesungguhnya justru bekerja sebelum penyakit mengetuk pintu.
Ia hadir melalui lingkungan yang bersih.
Melalui makanan yang cukup dan bergizi.
Melalui aktivitas fisik.
Melalui akses informasi.
Melalui pekerjaan yang layak.
Melalui penghasilan keluarga.
Melalui hubungan sosial yang sehat.
Melalui pelayanan publik yang tidak membuat warga kehilangan waktu, tenaga, maupun harapan.
Di Sungai Baru, pesan itu terasa dalam rangkaian kegiatan yang mempertemukan olahraga, pemeriksaan kesehatan, ekonomi warga dan inovasi pelayanan.
Bukan kebetulan jika semua itu berada dalam satu ruang.
Karena manusia memang tidak hidup dalam kotak-kotak birokrasi.
Tubuhnya satu.
Keluarganya satu.
Lingkungannya satu.
Masalahnya pun saling berkaitan.
Sudirman menyebut kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni. Ia melihat sinergi pemerintah dan masyarakat sebagai pintu lahirnya inovasi yang memberikan manfaat nyata.
Pandangan itu penting.
Sebab pembangunan sering kali terlalu mudah diukur melalui benda yang terlihat.
Jalan diukur dalam kilometer.
Gedung dalam luas bangunan.
Anggaran dalam rupiah.
Program dalam jumlah kegiatan.
Tetapi ada sesuatu yang lebih sulit dihitung rasa percaya warga kepada pemerintah.
Padahal rasa percaya itu menentukan apakah masyarakat mau datang ketika membutuhkan pertolongan, menyampaikan persoalan, mengikuti program, menjaga lingkungan atau terlibat dalam kegiatan bersama.
Pemerintahan yang responsif pada akhirnya bukan hanya menghasilkan administrasi yang lebih cepat.
Ia dapat membangun modal sosial.
Dan modal sosial adalah bagian penting dari masyarakat yang sehat.
Peluncuran PRIMA pada Sabtu pagi itu pada akhirnya hanyalah sebuah titik awal.
Setelah seremoni berakhir, pekerjaan sebenarnya dimulai.
Aplikasi harus digunakan.
Keluhan harus dijawab.
Data harus dijaga.
Warga harus didampingi.
Pelayanan harus dievaluasi.
Pemerintah harus bersedia mendengar ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Sudirman berharap inovasi Sungai Baru dapat direplikasi di wilayah lain di Bangka Barat.
Tetapi yang paling penting untuk direplikasi bukan sekadar aplikasinya.
Melainkan semangat di baliknya bahwa pemerintah harus datang lebih dekat kepada warga.
Sebab pembangunan kesehatan tidak selalu dimulai dengan membangun rumah sakit.
Kadang ia dimulai dari kantor kelurahan.
Dari petugas yang mau mendengar.
Dari layanan yang tidak berbelit.
Dari informasi yang sampai tepat waktu.
Dari lingkungan yang dijaga.
Dari UMKM yang diberi ruang hidup.
Dari warga yang diajak bergerak bersama.
Dari sebuah kesadaran bahwa manusia tidak boleh dipandang hanya sebagai penerima program.
Mereka adalah tujuan pembangunan itu sendiri.
Sungai Baru mungkin sedang membangun sebuah aplikasi.
Tetapi pekerjaan yang jauh lebih besar sebenarnya adalah membangun kepercayaan.
Sebab ketika warga percaya bahwa pemerintah akan hadir saat mereka membutuhkan, di sanalah pembangunan mulai memiliki denyut.
Bukan denyut mesin.
Bukan bunyi proyek.
Melainkan denyut kehidupan manusia.
Mungkin, pada akhirnya, itulah makna paling dalam dari pembangunan kesehatan bukan sekadar membuat orang tidak sakit, tetapi menciptakan kehidupan yang memungkinkan manusia tumbuh sehat, berdaya, aman, dan bermartabat.
Sebuah aplikasi dapat diluncurkan dalam satu pagi.
Tetapi masyarakat yang sehat membutuhkan pembangunan yang bekerja setiap hari. (Belva)


