Penulis: Kemis, Belva Al Akhab dan Tim
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Terpal hitam itu bergoyang perlahan diterpa angin.
Di bawahnya, sebuah gubuk berdiri di antara pohon kelapa. Tiang-tiang kayu menopang bangunan sederhana itu. Dindingnya tersusun dari papan bekas dan lembaran tripleks. Pada bagian tertentu, terpal hitam dan kuning dipasang untuk menutup celah.
Atapnya tidak sepenuhnya berupa seng. Daun nipah dan terpal menjadi pelindung tambahan dari panas dan hujan.
Tanah menjadi lantai.
Ember, wadah bekas, kayu, potongan seng dan peralatan rumah tangga terlihat di sekitar bangunan.
Tidak ada yang tampak baru. Tidak ada pula bagian rumah yang dibuat untuk memperlihatkan kemewahan.
Semua menunjukkan satu hal: rumah itu dibangun dan dipertahankan berdasarkan kemampuan yang dimiliki penghuninya.
Gubuk tersebut merupakan tempat tinggal Darwin, warga Dusun 2, Desa Belo Laut, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.
Di tempat itu, pembangunan memiliki ukuran yang berbeda.
Bukan panjang jalan.
Bukan tinggi gedung.
Bukan angka investasi.
Bukan pula jumlah program yang tertulis dalam dokumen pemerintah.
Bagi Darwin, pembangunan bisa sesederhana sebuah rumah yang mampu melindungi penghuninya dari hujan dan panas.
Pada Sabtu (8/8/2026), persoalan itu mendapat perhatian langsung dari Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman.
Ia datang melihat kondisi rumah Darwin.
Ia berbincang dengan pemiliknya. Ia melihat bangunan tersebut dari dekat. Bahkan, ia duduk bersama sejumlah warga di atas tanah di depan gubuk itu.
Tidak ada meja rapat.
Tidak ada ruangan berpendingin udara.
Tidak ada panggung.
Hanya warga, tanah, botol air mineral, pepohonan kelapa dan sebuah rumah yang menjadi tempat Darwin bertahan hidup.
Dari tempat sederhana itu, persoalan pembangunan Bangka Barat terlihat dalam bentuk yang paling nyata.
Kemiskinan sering kali diterjemahkan dalam angka.
Penduduk miskin dihitung. Persentase kemiskinan diumumkan. Program bantuan disusun. Target penurunan kemiskinan ditetapkan.
Tetapi di rumah Darwin, kemiskinan tidak hadir sebagai angka.
Ia hadir dalam bentuk dinding papan.
Dalam bentuk tripleks yang menjadi penutup.
Dalam bentuk terpal yang menggantikan bagian rumah yang tidak lagi mampu berfungsi sebagaimana mestinya.
Dalam bentuk atap daun nipah.
Dalam bentuk tanah yang menjadi lantai.
Dalam salah satu dokumentasi kunjungan, Darwin duduk di depan rumahnya.
Ia mengenakan kaus merah dan celana olahraga. Sandalnya berada di dekat kaki.
Di belakangnya, gubuk yang ditempatinya berdiri dengan struktur yang tampak rapuh.
Darwin kemudian terlihat berdiri di dekat bangunan tersebut.
Di sekelilingnya, pepohonan kelapa tumbuh. Tanaman hijau memberikan kesan lingkungan yang masih hidup.
Namun kontras terlihat jelas.
Alam di sekitar rumah tampak subur, tetapi tempat tinggal manusia di dalamnya belum layak.
Darwin disebut telah lama menanti bantuan untuk memperoleh hunian yang lebih manusiawi.
Karena itu, persoalan ini tidak berhenti pada pertanyaan tentang sebuah rumah.
Ia bersinggungan dengan kemiskinan, akses terhadap program pemerintah, status lahan, kondisi sosial ekonomi dan kemampuan negara menjangkau masyarakat paling rentan.
Rumah sebagai kebutuhan dasar.
Namun bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas, rumah layak huni bukan sesuatu yang mudah diwujudkan.
Ada kebutuhan pangan.
Ada kebutuhan kesehatan.
Ada biaya pendidikan.
Ada kebutuhan pekerjaan.
Ketika pendapatan terbatas, membangun atau memperbaiki rumah sering kali berada di urutan yang sulit dijangkau.
Akibatnya, rumah diperbaiki sedikit demi sedikit.
Papan diganti.
Terpal dipasang.
Seng ditambal.
Bagian yang rusak ditutup dengan bahan yang masih tersedia.
Lama-kelamaan, rumah bukan lagi bangunan yang dirancang sejak awal.
Ia menjadi kumpulan tambalan yang dibuat agar tetap dapat digunakan.
Kondisi tersebut terlihat di rumah Darwin.
Karena itu, pertanyaan tentang pembangunan menjadi penting.
Apakah pembangunan daerah sudah benar-benar menjangkau warga seperti Darwin?
Sebab keberhasilan pembangunan bukan hanya ketika infrastruktur tumbuh di pusat-pusat kawasan.
Pembangunan juga harus terlihat dari kemampuan pemerintah menjangkau mereka yang hidup jauh dari pusat perhatian.
Kedatangan Yus Derahman memberi harapan baru.
Ia melihat sendiri kondisi rumah Darwin.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa kondisi warga yang masih tinggal di rumah tidak layak tidak boleh dibiarkan.
“Kita harus pastikan tidak ada lagi warga Bangka Barat yang tinggal di rumah tidak layak. Ini PR kita bersama. Akan segera kita koordinasikan untuk bantuan selanjutnya,” tegasnya.
Pernyataan itu penting.
Sebab sebelumnya kondisi rumah Darwin mungkin hanya diketahui melalui cerita warga, dokumentasi atau laporan.
Kini pejabat pemerintah daerah telah melihatnya secara langsung.
Namun kunjungan bukan akhir dari persoalan.
Justru dari sinilah pekerjaan berikutnya dimulai.
Pemerintah perlu memastikan bentuk intervensi yang dapat diberikan.
Apakah melalui program bedah rumah?
Rehabilitasi rumah tidak layak huni?
Bantuan perumahan?
Atau skema lain sesuai aturan?
Untuk menjawabnya, sejumlah hal perlu diverifikasi.
Mulai dari administrasi kependudukan, kondisi fisik rumah, status kepemilikan atau penguasaan lahan, kondisi sosial ekonomi hingga persyaratan program bantuan.
Semua itu merupakan bagian dari mekanisme pemerintahan.
Tetapi mekanisme seharusnya tidak menjadi titik akhir.
Ia harus menjadi jalan menuju penyelesaian.
Sebab bagi Darwin, persoalan utamanya sederhana.
Ia membutuhkan rumah yang layak.
Dalam rangkaian dokumentasi kunjungan, Darwin terlihat menunjukkan KTP.
Benda kecil itu terlihat sederhana.
Namun di depan rumah yang dindingnya terbuat dari papan dan tripleks, kartu identitas tersebut membawa pesan yang lebih besar.
Darwin bagian warga.
Ia memiliki identitas.
Ia bagian dari Bangka Barat.
Ia bukan seseorang yang berada di luar sistem pemerintahan.
Namun kondisi rumahnya menunjukkan bahwa memiliki identitas sebagai warga belum otomatis membuat seluruh kebutuhan dasar terpenuhi.
KTP bukan tiket otomatis untuk memperoleh bantuan.
Tetapi identitas kependudukan merupakan salah satu bagian penting dalam akses pelayanan publik sesuai ketentuan.
Karena itu, persoalannya kemudian bergeser.
Bukan lagi apakah Darwin tercatat.
Melainkan apakah data tentang dirinya mampu membawa pemerintah menemukan kebutuhannya.
Sebab ada warga yang mungkin secara administratif tercatat sebagai penduduk.
Tetapi kondisi hidupnya belum tentu tergambar secara utuh dalam data.
Di sinilah kunjungan lapangan memiliki arti.
Pemerintah melihat sesuatu yang tidak selalu terlihat dari tabel.
Mereka melihat dinding.
Mereka melihat atap.
Mereka melihat lantai.
Dan mereka melihat bagaimana seorang warga hidup.
Rumah Darwin berdiri di tengah lingkungan dengan pepohonan kelapa dan vegetasi yang masih terlihat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan tempat tinggal juga tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari ruang hidup masyarakat.
Bagi warga desa, rumah bukan hanya bangunan.
Ia berada dalam lanskap yang terhubung dengan kebun, pepohonan, tanah dan sumber kehidupan di sekitarnya.
Ketika rumah tidak layak, persoalannya bukan hanya konstruksi.
Ada aspek keamanan.
Ada kesehatan lingkungan.
Ada akses terhadap air dan sanitasi.
Ada kualitas ruang hidup.
Karena itu, program peningkatan kualitas rumah seharusnya tidak semata memperbaiki dinding dan atap.
Jika pemerintah benar-benar ingin mengurangi kerentanan, intervensi perlu melihat kebutuhan warga secara lebih utuh.
Rumah yang kokoh akan lebih berarti jika penghuninya juga memiliki akses terhadap kebutuhan dasar lain.
Di titik ini, rumah Darwin dapat menjadi pintu masuk untuk melihat kemiskinan secara lebih luas.
GAMPAR Siap Mengawal
Kunjungan Yus Derahman mendapat apresiasi dari LSM GAMPAR, Gabungan Anak Muda Peduli Amanah Relawan Bangka Barat.
Mereka menyatakan siap ikut mengawal agar persoalan Darwin tidak berhenti sebagai dokumentasi.
“Kami dari GAMPAR mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pak H. Yusdrahman. Turun langsung ke lapangan adalah bukti nyata keberpihakan kepada rakyat kecil. Kami siap mengawal dan bersinergi agar bantuan bedah rumah untuk Pak Darwin segera terealisasi,” ujar perwakilan GAMPAR.
Kehadiran masyarakat sipil dalam persoalan seperti ini penting.
Pemerintah memiliki kewenangan.
Masyarakat memiliki kepentingan.
Media memiliki fungsi kontrol.
Ketiganya dapat bertemu dalam satu tujuan untuk memastikan persoalan warga tidak hilang setelah pemberitaan selesai.
Karena itu, pengawalan terhadap rumah Darwin dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana.
Apa tindak lanjut pemerintah?
Program apa yang digunakan?
Siapa yang bertanggung jawab?
Apa kendalanya?
Kapan masyarakat dapat melihat hasilnya?
Pertanyaan tersebut bukan bentuk ketidakpercayaan.
Justru merupakan bagian dari akuntabilitas publik.
Kunjungan pejabat selalu menghasilkan dokumentasi.
Ada foto ketika pejabat datang.
Ada foto ketika berbincang.
Ada foto ketika duduk bersama warga.
Tetapi foto tidak memperbaiki rumah.
Foto tidak mengganti atap.
Foto tidak membuat dinding menjadi kuat.
Foto juga tidak mengubah lantai tanah menjadi lantai yang aman.
Karena itu, keberhasilan kunjungan Yus Derahman kelak tidak akan diukur dari banyaknya foto yang beredar.
Ia akan diukur dari perubahan yang terjadi.
Jika gubuk Darwin kelak berubah menjadi rumah yang layak, maka kunjungan tersebut menjadi awal sebuah proses yang menghasilkan manfaat nyata.
Kepedulian berubah menjadi kebijakan.
Kebijakan berubah menjadi program.
Program berubah menjadi bantuan.
Bantuan menghasilkan perubahan.
Sebaliknya, jika semuanya berhenti setelah rombongan meninggalkan lokasi, maka terpal hitam itu akan tetap menjadi simbol sebuah persoalan yang belum selesai.
Kehadiran seorang pejabat di tengah masyarakat miskin juga tidak dapat dilepaskan dari politik pemerintahan.
Citra seorang pemimpin tidak hanya dibentuk di ruang rapat atau podium.
Ia juga dibentuk melalui cara pemimpin hadir di tengah warga.
Duduk di tanah.
Mendengarkan.
Melihat langsung.
Namun kepedulian akan kehilangan makna jika hanya berhenti pada citra.
Branding pemerintahan yang paling kuat bukan ketika seorang pejabat terlihat peduli.
Branding yang paling kuat adalah ketika kepedulian itu menghasilkan perubahan.
Ketika kebijakan benar-benar menyentuh warga.
Ketika program sampai kepada penerima.
Ketika rumah yang sebelumnya rapuh menjadi lebih layak.
Dan ketika warga tidak lagi perlu menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kebutuhan paling dasar.
Matahari di Belo Laut tetap terang.
Pohon kelapa bergoyang diterpa angin.
Ayam berjalan di sekitar halaman.
Tanah tetap menjadi tempat duduk.
Terpal hitam kembali bergerak pelan.
Gubuk Darwin masih berdiri.
Rapuh, tetapi belum runtuh.
Ia seperti kehidupan pemiliknya: sederhana, penuh keterbatasan, tetapi terus bertahan.
Kedatangan Yus Derahman membawa harapan.
Namun setelah langkah kaki dan kendaraan pemerintah meninggalkan halaman, satu pertanyaan masih tertinggal.
Akankah gubuk itu menjadi titik awal perubahan?
Atau beberapa waktu kemudian, ia kembali menjadi bagian dari pemandangan yang terlupakan?
Jawabannya tidak akan ditemukan dalam foto kunjungan.
Jawabannya akan terlihat dari tindakan pemerintah setelahnya.
Sebab pembangunan bukan sekadar tentang seberapa tinggi gedung yang dapat didirikan atau seberapa panjang jalan yang dapat dibangun.
Pembangunan juga tentang kemampuan pemerintah memastikan warga yang paling rentan tidak tertinggal.
Tentang memastikan seorang warga dapat tidur di rumah yang aman.
Tentang memastikan hujan tidak lagi masuk melalui celah terpal.
Tentang memastikan dinding tidak lagi hanya berupa papan bekas.
Tentang memastikan negara tidak hanya tahu bahwa seorang warga bernama Darwin ada, tetapi benar-benar hadir ketika ia membutuhkan.
Gubuk Darwin sebagai rumah.
Tetapi ia juga cermin.
Di balik terpal hitam itu, wajah pembangunan Bangka Barat terlihat apa adanya.
Untuk saat ini, wajah itu masih menyisakan pekerjaan yang belum selesai.


