JAKARTA, TARGETKRIMINAL.COM – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), ratusan guru vokasi seni dan budaya justru menunjukkan bahwa kreativitas manusia tetap memiliki ruang yang tak tergantikan. Melalui sapuan kuas di atas kanvas, sentuhan tangan pada keramik, hingga beragam karya seni lainnya, mereka membuktikan bahwa teknologi hanyalah alat, sementara jiwa sebuah karya tetap lahir dari imajinasi dan pengalaman manusia.
Semangat itu mewarnai Gelar Karya hasil pelatihan Upskilling dan Reskilling Guru Vokasi Bidang Seni dan Budaya yang diselenggarakan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya di Yogyakarta, Senin (27/7). Pameran tersebut menjadi ruang apresiasi bagi para guru sekaligus gambaran nyata bagaimana peningkatan kompetensi mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif di sekolah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, mengatakan penguatan kompetensi guru vokasi harus berjalan seiring dengan perkembangan industri dan teknologi. Namun, menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan nilai yang terkandung dalam sebuah karya seni.
“Karya seni bukan sekadar hasil kreativitas, tetapi juga memiliki makna, nilai, dan jiwa. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, dapat dimanfaatkan sebagai pendukung proses berkarya, namun kreativitas dan keaslian tetap harus menjadi ruh utama,” tegas Fajar.
Pesan tersebut diterjemahkan dengan apik oleh I Kadek Agus Satya Dwi Putra, guru seni lukis SMKN 1 Sukawati, Bali. Ia menghadirkan sebuah lukisan yang terinspirasi dari konsep Pembelajaran Mendalam, menggambarkan seorang anak yang terus belajar demi menggapai cita-cita.
Dalam lukisan itu, kain tenun dipadukan dengan laptop sebagai simbol pertemuan antara budaya dan teknologi. Bagi Kadek, kemajuan digital tidak harus menghapus akar budaya, melainkan menjadi sarana untuk memperkuatnya. Sementara sosok Menteri yang merangkul peserta didik menggambarkan dukungan agar setiap anak tumbuh dengan rasa percaya diri.
“Melalui karya ini saya ingin menggambarkan bahwa pembelajaran bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, menjaga budaya, memanfaatkan teknologi secara bijak dan membangun optimisme peserta didik untuk meraih cita-citanya,” ujar Kadek.
Pengalaman mengikuti pelatihan dan magang di industri, lanjutnya, akan menjadi bekal untuk menciptakan pembelajaran yang lebih inspiratif di sekolah sehingga siswa terdorong untuk terus berkarya dan berinovasi.
Semangat belajar juga dirasakan Hari Sonata, guru SMKN 3 Kasihan Yogyakarta. Ia mengaku pelatihan membuka wawasan baru, terutama mengenai teknik glasir yang menjadi tahapan penting dalam proses pembuatan keramik.
Lewat praktik langsung di industri, Hari mempelajari cara meramu formula glasir yang nantinya akan diajarkan kepada peserta didik agar mereka tidak sekadar menggunakan bahan yang tersedia, tetapi juga mampu menciptakan formulasi baru sesuai kebutuhan karya.
“Kami berharap ilmu yang kami peroleh dapat kami tularkan kepada siswa, sehingga mereka tidak hanya mampu mengaplikasikan glasir, tetapi juga dapat meracik formula sendiri dan menciptakan inovasi baru dalam karya keramik,” katanya.
Manfaat pelatihan itu turut dirasakan peserta didik. Zizta Putra Akbar Wijaya, siswa kelas XII SMKN 3 Kasihan Yogyakarta, tampil percaya diri memamerkan karya keramik hasil pembelajarannya. Kesempatan itu, menurutnya, menjadi motivasi untuk terus mengasah kemampuan.
“Pesan saya untuk teman-teman, terus semangat dan nikmati jurusan yang telah dipilih. Kalau terus belajar dan berlatih, kemampuan kita pasti akan berkembang,” ungkap Zizta.
Melalui program Upskilling dan Reskilling, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus memperkuat kapasitas guru vokasi agar mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri sekaligus tetap berakar pada kreativitas dan budaya. Gelar karya tersebut menjadi bukti bahwa ketika guru terus belajar, ruang kelas tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga generasi yang mampu melahirkan inovasi dengan karakter dan jati diri yang kuat. (Belva)


