BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Pada usia 292 tahun, Kota Mentok tidak sedang sekadar merayakan pertambahan angka. Sebuah kota yang hampir mencapai tiga abad justru sedang berhadapan dengan pertanyaan yang lebih besar temtang apa yang hendak diwariskan kepada generasi setelah kita?.
Sebab waktu tidak hanya meninggalkan tanggal. Ia meninggalkan bangunan, tradisi, ingatan, kebudayaan dan manusia yang menjadikan sebuah tempat bernama rumah.
Di tengah peringatan Hari Jadi Kota Mentok ke-292 Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mencoba menjawab pertanyaan itu melalui sebuah tema “Dari Pusaka untuk Masa Depan, Mentok untuk Semua.”
Bagi Bupati Bangka Barat, Markus, S.H., kalimat tersebut bukan hiasan perayaan. Ia harus menjadi arah pembangunan.
Warisan sejarah Mentok, menurut dia, harus diubah menjadi kekuatan untuk menatap masa depan. Kota pusaka tidak boleh menjadi fosil yang hanya dipandangi, tetapi harus menjadi modal sosial, identitas, sekaligus fondasi pembangunan berkelanjutan.
“Pusaka ini adalah modal sosial, identitas, dan fondasi dasar bagi arah pembangunan berkelanjutan kita,” kata Markus dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bangka Barat di Gedung Mahligai Betason II, Senin (7/9/2026).
Dari sanalah gagasan pembangunan Mentok hendak ditarik menuju modern tanpa tercerabut, maju tanpa kehilangan wajah, dan tumbuh tanpa meninggalkan manusia di belakangnya.
Mentok bukan sekadar pusat administrasi.
Ia menjadi ruang peradaban yang telah melewati banyak zaman.
Sejarah menempatkannya dalam perjalanan Kesultanan, era pertambangan timah dunia, hingga menjadi tempat pengasingan para pendiri bangsa. Di kota ini, masa lalu tidak sepenuhnya pergi. Ia masih tinggal di antara bangunan tua, tradisi, kawasan bersejarah dan cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, pembangunan Mentok menghadapi persoalan yang tidak sederhana.
Bagaimana membangun kota modern tanpa menghapus ingatan?
Bagaimana menjadikan sejarah sebagai kekuatan ekonomi tanpa menjadikannya sekadar komoditas?
Bagaimana membuat pertumbuhan kota benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di dalamnya?
Jawabannya tidak cukup dengan membangun.
Jawabannya untuk membangun dengan ingatan.
Sebab kota yang melupakan sejarah akan kehilangan arah. Tetapi kota yang hanya memeluk masa lalu tanpa berani berubah juga akan kehilangan masa depan.
Mentok membutuhkan keduanya.
Dalam gagasan pemerintah daerah, status Mentok sebagai kota pusaka atau heritage town bukan alasan untuk membekukan kota dalam masa lalu.
Justru sebaliknya.
Pusaka harus menjadi energi.
Bangunan bersejarah dapat menjadi pintu masuk wisata.
Tradisi dapat menjadi kekuatan kebudayaan.
Kawasan lama dapat menjadi ruang ekonomi baru.
Cerita masa lalu dapat menjadi bahan bakar bagi kreativitas generasi hari ini.
Dengan cara itu, revitalisasi cagar budaya tidak berhenti pada memperbaiki fisik bangunan.
Yang dihidupkan bukan hanya temboknya.
Tetapi juga kehidupan di sekelilingnya.
Ketika wisatawan datang, yang diharapkan bergerak bukan hanya kamera mereka.
Warung makan harus ikut hidup.
Pedagang kecil harus ikut mendapatkan pembeli.
Pengrajin harus memperoleh pasar.
Pelaku ekonomi kreatif harus mendapatkan ruang.
Anak muda harus melihat peluang.
Di situlah sejarah menemukan makna ekonominya.
Masa lalu tidak hanya dikenang. Masa lalu ikut menghidupi masa depan.
Ukuran pembangunan sering kali terlalu mudah dilihat dari apa yang berdiri.
Jalan.
Gedung.
Taman.
Lampu.
Trotoar.
Tetapi ukuran yang paling penting justru sering tidak terlihat.
Apakah pembangunan membuat kehidupan masyarakat lebih baik?.
Apakah UMKM memperoleh kesempatan?.
Apakah anak muda memiliki ruang untuk tumbuh?.
Apakah keluarga kecil mendapatkan manfaat dari geliat pariwisata?.
Apakah lansia dapat menikmati ruang kota?.
Apakah penyandang disabilitas dapat bergerak tanpa merasa bahwa kota dibangun tanpa memikirkan mereka?.
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat kata “semua” dalam tema Hari Jadi Mentok menjadi penting.
Karena pembangunan tidak boleh hanya indah dalam gambar perencanaan.
Ia harus terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Jika pembangunan pariwisata hanya mendatangkan wisatawan tetapi tidak meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, maka ada bagian yang belum selesai.
Jika revitalisasi kawasan hanya mempercantik kota tetapi tidak membuka peluang ekonomi, maka ada tujuan yang belum tercapai.
Jika ruang publik hanya nyaman bagi sebagian orang, maka kata inklusif masih menjadi pekerjaan rumah.
Markus ingin Mentok menjadi kota yang ramah, aman dan adil bagi setiap warganya.
“Kota Mentok harus menjadi rumah yang ramah, aman, adil dan menjanjikan kesejahteraan bagi setiap warganya,” ujarnya.
Kata rumah mungkin menjadi kata paling sederhana sekaligus paling dalam dalam gagasan tersebut.
Sebab rumah bukan hanya tempat berteduh.
Rumah menjadi tempat seseorang merasa diterima.
Begitu pula kota.
Seorang anak harus merasa bahwa taman adalah miliknya.
Seorang lansia harus merasa bahwa trotoar dan ruang publik dibuat untuknya.
Penyandang disabilitas harus merasa bahwa kota tidak sedang meminta mereka menyesuaikan diri sendirian.
Pedagang kecil harus merasa bahwa pertumbuhan kota memberi mereka kesempatan.
Anak muda harus merasa bahwa masa depan tidak selalu mengharuskan mereka meninggalkan tanah kelahirannya.
Jika semua itu terjadi, maka Mentok bukan hanya tempat tinggal.
Ia menjadi rumah bersama.
Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat tengah menata kawasan Taman Lokomobil dan Lapangan Gelora Mentok yang diarahkan menjadi magnet baru pariwisata daerah.
Namun sebuah taman sesungguhnya tidak pernah hanya berbicara tentang taman.
Ia berbicara tentang manusia.
Tentang anak-anak yang berlari.
Tentang keluarga yang menghabiskan sore.
Tentang pemuda yang berkumpul.
Tentang komunitas yang berkegiatan.
Tentang pelaku UMKM yang mencari rezeki.
Tentang wisatawan yang datang mencari pengalaman.
Karena itu, ruang publik memiliki fungsi yang lebih dalam daripada sekadar mempercantik kota.
Ia menjadi tempat masyarakat bertemu tanpa harus bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin.
Di ruang publik, kota menemukan wajah demokratisnya.
Semua orang memiliki hak untuk duduk.
Hak untuk berjalan.
Hak untuk bermain.
Hak untuk menikmati keindahan.
Hak untuk merasa menjadi bagian dari kota.
Jika kawasan Taman Lokomobil dan Lapangan Gelora Mentok kelak hidup sebagaimana yang diharapkan, maka pembangunan itu bukan sekadar perubahan fisik.
Ia menjadi perubahan cara manusia mengalami kotanya.
Pariwisata sering dibicarakan melalui angka kunjungan.
Namun bagi masyarakat, pertanyaan yang lebih penting berapa banyak manfaat ekonomi yang tinggal setelah wisatawan pulang?.
Inilah tantangan pembangunan pariwisata Mentok.
Wisatawan datang membawa uang.
Tetapi uang itu jangan sampai hanya berhenti di tempat tertentu.
Ia harus berputar.
Masuk ke warung.
Menghidupkan kuliner lokal.
Membeli kerajinan.
Mendukung produk UMKM.
Membayar jasa pemandu.
Menghidupkan ekonomi kreatif.
Akhirnya sampai ke rumah-rumah masyarakat.
Dengan begitu, pariwisata tidak hanya menjual pemandangan.
Ia menjual pengalaman sekaligus menciptakan penghidupan.
Sebab tujuan akhir pembangunan bukanlah membuat wisatawan terkesan.
Tujuan akhirnya membuat masyarakat menjadi lebih sejahtera.
Ada satu kelompok yang akan menerima seluruh konsekuensi dari keputusan hari ini untuk generasi muda.
Mereka tidak ikut membangun Mentok 292 tahun lalu.
Tetapi mereka akan mewarisi hasil dari apa yang dilakukan generasi sekarang.
Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya diajak menghadiri perayaan sejarah.
Mereka harus dilibatkan dalam masa depan.
Mereka perlu ruang untuk berkarya.
Ruang untuk berusaha.
Ruang untuk berekspresi.
Ruang untuk menciptakan ekonomi baru.
Ruang untuk menerjemahkan sejarah dengan bahasa zaman mereka.
Teknologi dapat menjadi jembatan.
Ekonomi kreatif dapat menjadi kendaraan.
Pariwisata dapat menjadi ruang.
Sementara sejarah menjadi identitas.
Dengan cara itu, Mentok tidak hanya menjaga cerita lama.
Ia memberikan kesempatan kepada generasi baru untuk menulis cerita berikutnya.
Tetapi pekerjaan sebesar itu tidak mungkin dilakukan pemerintah seorang diri.
Markus menyerukan agar ego sektoral ditinggalkan.
Birokrasi, aparat keamanan, sektor swasta, tokoh masyarakat, generasi muda dan seluruh elemen masyarakat harus berjalan dalam satu arah.
Sebab kota tidak pernah lahir dari satu tangan.
Ia dibangun oleh banyak kepentingan yang bersedia menemukan titik temu.
Pemerintah membuat kebijakan.
DPRD menjalankan fungsi kelembagaan.
Dunia usaha menggerakkan investasi dan ekonomi.
Masyarakat menjaga ruang hidup.
Komunitas menghidupkan kebudayaan.
Pemuda membawa inovasi.
Semuanya harus bermuara pada satu hal tentang kepentingan masyarakat.
Markus juga menempatkan sinergi harmonis antara eksekutif dan legislatif sebagai jangkar bagi jalannya pemerintahan.
Namun sinergi pada akhirnya tidak boleh berhenti di ruang rapat.
Ia harus keluar menjadi kebijakan.
Kebijakan harus menjadi program.
Program harus menjadi perubahan.
Perubahan harus dapat dirasakan masyarakat.
Sebab rakyat tidak hidup dari dokumen perencanaan.
Rakyat hidup dari hasilnya.
Sejarah Mentok dan Bangka Barat tidak dapat dipisahkan dari timah.
Komoditas itu pernah menjadi denyut penting ekonomi dan membentuk banyak sisi kehidupan masyarakat.
Namun sejarah juga memberikan satu pelajaran bahwa tidak ada sumber daya yang selamanya menjadi sandaran.
Karena itu, masa depan Bangka Barat membutuhkan sumber pertumbuhan yang lebih beragam.
Pariwisata.
UMKM.
Ekonomi kreatif.
Kebudayaan.
Ruang publik.
Industri berbasis kreativitas.
Semua harus dipikirkan sebagai bagian dari masa depan daerah.
Bukan untuk menghapus sejarah pertambangan.
Justru untuk belajar darinya.
Bahwa kekayaan alam dapat habis.
Tetapi kekayaan pengetahuan, kebudayaan dan kreativitas manusia dapat terus tumbuh jika dirawat.
Maka dari kota yang pernah tumbuh bersama timah, Bangka Barat harus mulai menumbuhkan ekonomi yang lebih banyak bertumpu pada Sumber Daya Manusia (SDM).
Pada akhirnya, usia 292 tahun menghadirkan sebuah perenungan.
Generasi hari ini hanyalah penjaga sementara.
Mentok telah diwariskan kepada kita oleh orang-orang yang hidup jauh sebelum kita.
Kita menerima jalan-jalannya.
Menerima bangunan dan pusakanya.
Menerima tradisinya.
Menerima kisah perjuangannya.
Menerima bahkan luka-luka sejarahnya.
Namun semuanya hanya kita pinjam.
Suatu hari, kota ini akan berpindah ke tangan generasi yang belum lahir.
Ketika hari itu tiba, mereka akan bertanya:
Apa yang kalian lakukan terhadap kota yang kami warisi?.
Apakah kita meninggalkan Mentok yang lebih modern tetapi kehilangan identitas?.
Ataukah kita meninggalkan kota yang mampu tumbuh tanpa mencabut akarnya?.
Apakah kita hanya meninggalkan bangunan?.
Ataukah kita meninggalkan kesempatan?.
Apakah kita hanya meninggalkan kawasan wisata?.
Ataukah kita meninggalkan masyarakat yang hidup lebih sejahtera karenanya?.
Di sanalah makna pembangunan Bangka Barat sesungguhnya diuji.
Sebab pembangunan bukan sekadar perkara membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada.
Pembangunan adalah tentang membuat kehidupan yang sudah ada menjadi ebih layak.
Lebih adil.
Lebih aman.
Lebih manusiawi.
Lebih memiliki masa depan.
Dua ratus sembilan puluh dua tahun adalah usia yang panjang.
Tetapi bagi sebuah kota, usia hanyalah angka jika tidak diikuti oleh kemampuan untuk belajar.
Mentok sedang belajar dari sejarahnya.
Bahwa masa lalu bukan beban.
Bahwa pusaka bukan benda mati.
Bahwa pembangunan bukan perlombaan membangun sebanyak-banyaknya.
Bahwa kemajuan bukan hanya ketika wajah kota berubah, tetapi ketika wajah kehidupan masyarakat ikut berubah.
Tema “Dari Pusaka untuk Masa Depan, Mentok untuk Semua” pada akhirnya adalah sebuah janji.
Janji bahwa sejarah tidak akan ditinggalkan.
Janji bahwa pembangunan tidak boleh hanya dinikmati sebagian.
Janji bahwa ruang kota harus terbuka bagi semua.
Janji bahwa UMKM dan ekonomi kreatif harus memiliki kesempatan.
Janji bahwa anak-anak, lansia, penyandang disabilitas dan generasi muda memiliki tempat dalam masa depan kota.
Janji bahwa Mentok harus tumbuh tanpa kehilangan dirinya.
Di usia 292 tahun, Mentok tidak sedang menutup sebuah cerita.
Ia justru membuka halaman baru.
Halaman yang akan menentukan apakah warisan sejarah benar-benar mampu berubah menjadi kesejahteraan.
Karena sejarah menjadi akar.
Pembangunan menjadi perjalanan.
Manusia mwnajdi tujuan.
Kesejahteraan adalah buahnya.
Jika kelak generasi mendatang berjalan di jalan-jalan Mentok dan masih menemukan jejak sejarah yang terawat, ruang publik yang hidup, ekonomi masyarakat yang bergerak, kebudayaan yang tetap bernapas, serta sebuah kota yang membuat setiap orang merasa memiliki tempat di dalamnya, maka generasi hari ini telah berhasil menjalankan tugasnya.
Bukan sekadar membangun kota.
Tetapi mewariskan kehidupan yang lebih baik.
Selamat Hari Jadi Kota Mentok ke-292.
Dari pusaka untuk masa depan.
Dari sejarah menuju kesejahteraan.
Mentok untuk semua. (Belva)


