PANGKALPINANG, TARGETKRIMINAL.COM — Masa depan seorang anak bisa berubah karena satu keputusan. Berani menolak ajakan mencoba narkoba, memilih tidak ikut merundung teman, atau melaporkan kekerasan yang disaksikan mungkin tampak sederhana. Namun, di balik keputusan itu, ada karakter yang sedang dibentuk dan masa depan yang sedang dijaga.
Kesadaran itulah yang ingin ditumbuhkan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Noni Hidayat Arsani. Baginya, melindungi anak bukan sekadar menyampaikan larangan, melainkan membangun pemahaman agar generasi muda mampu mengenali bahaya, menjaga diri dan berani mengambil sikap di tengah tekanan pergaulan maupun derasnya arus informasi digital.
Melalui program Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI), Noni mendorong penguatan edukasi pencegahan narkoba, perundungan, dan kekerasan anak dengan melibatkan keluarga, sekolah, pemerintah, serta masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Sosialisasi dan Deklarasi Cegah Narkoba, Perundungan dan Kekerasan Anak di Gedung Olahraga (GOR) Sahabuddin, Air Itam, Pangkalpinang, Selasa (13/10/2026). Kegiatan yang dibuka Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, itu diikuti ratusan pelajar dan menghadirkan narasumber dari Badan Narkotika Nasional (BNN) serta Ustaz Dede.
Sehari setelah kegiatan, Rabu (14/10/2026), Noni mengungkapkan kegembiraannya melihat antusiasme para pelajar saat mengikuti materi. Baginya, perhatian peserta dan kemampuan mereka menjawab pertanyaan menjadi tanda bahwa pesan edukasi diterima dengan baik.
“Terlihat anak-anak antusias mengikuti dan menyimak materi yang diberikan langsung oleh narasumber dari BNN. Ada juga tausiah dari Ustaz Dede yang memberikan gambaran bagaimana jika kita terkena narkoba atau menjadi korban bullying dan perundungan,” ujar Noni.
Ia menuturkan, para pelajar mampu menjawab pertanyaan dalam kuis yang berkaitan dengan materi narkoba. Respons tersebut menunjukkan bahwa mereka mengikuti penjelasan yang diberikan.
Namun, harapan Noni tidak berhenti pada kemampuan menjawab pertanyaan. Ia ingin pengetahuan yang diperoleh anak-anak menjelma menjadi kesadaran pribadi, terutama ketika mereka kembali menghadapi tantangan di lingkungan sekolah, keluarga, maupun pergaulan sehari-hari.
“Mudah-mudahan informasi dan ilmu yang diberikan kepada anak-anak hari ini dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berkomitmen pada dirinya sendiri untuk segera menjauhi narkoba, tidak ikut-ikutan, serta menolak perundungan, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga,” tuturnya.
Di balik berbagai ancaman yang dihadapi anak dan remaja, keluarga memiliki peran yang tidak tergantikan. Sekolah dapat memberikan pengetahuan, pemerintah dapat membangun program perlindungan, dan masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang aman. Namun, anak tetap membutuhkan tempat untuk bercerita, bertanya dan mencari pertolongan tanpa takut dihakimi.
Noni menegaskan, pencegahan narkoba tidak akan berjalan optimal apabila hanya mengandalkan kegiatan sosialisasi. Keterlibatan orang tua dan masyarakat menjadi bagian penting agar pesan yang disampaikan kepada anak memperoleh penguatan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pencegahan narkoba ini harus dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat. Tidak bisa kita hanya memberikan sosialisasi kepada anak-anak jika masyarakat, orang-orang di sekitarnya, orang tua dan keluarga tidak ikut andil,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menempatkan pengasuhan sebagai fondasi pembangunan manusia. Perlindungan anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik dan pendidikan, tetapi juga memastikan mereka memiliki ketahanan diri untuk menghadapi pengaruh negatif.
Orang tua, misalnya, perlu membangun komunikasi yang terbuka agar anak tidak merasa sendirian ketika menghadapi tekanan pergaulan. Guru perlu memastikan sekolah menjadi ruang belajar yang aman, sedangkan masyarakat perlu menghindari sikap permisif terhadap kekerasan dan perundungan.
Sebab, tidak semua anak mampu mengungkapkan persoalan yang mereka alami. Ada yang memilih diam ketika dirundung, takut bercerita saat menghadapi ancaman atau mengikuti ajakan teman karena khawatir dikucilkan. Dalam situasi seperti itu, kehadiran orang dewasa yang peduli dapat menjadi pembeda antara persoalan yang tertangani sejak dini dan masalah yang berkembang semakin jauh.
Bagi Noni, upaya pencegahan harus dibangun melalui pemahaman, pendampingan dan keteladanan. Anak perlu mengetahui bahaya narkoba, memahami dampak perundungan, sekaligus merasakan bahwa lingkungan di sekitarnya mendukung keputusan mereka untuk menjauhi hal-hal yang membahayakan.
“Saya berharap dan mengimbau masyarakat, mari kita sama-sama mencegah anak generasi berikutnya agar menjauhi narkoba. Kita beri pemahaman kepada anak-anak tentang dampak yang akan mereka hadapi ke depannya, sehingga mereka memahami dan mau menjauhi narkoba,” ujarnya.
Tantangan perlindungan anak kini tidak hanya hadir melalui pergaulan langsung. Perkembangan teknologi membawa ruang interaksi yang semakin luas, tetapi sekaligus membuka kemungkinan terjadinya perundungan melalui media sosial, pesan digital dan berbagai platform komunikasi.
Cyberbullying dapat membuat seorang anak merasa tertekan bahkan ketika berada di rumah. Ejekan, penghinaan, penyebaran informasi yang mempermalukan, atau serangan berulang di ruang digital dapat memengaruhi rasa aman dan kepercayaan diri korban.
Karena itu, pengasuhan di era digital membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Anak tidak cukup hanya dilarang menggunakan teknologi secara berlebihan, tetapi juga perlu dibimbing untuk menggunakannya secara bertanggung jawab, menghargai orang lain, serta mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika mengalami atau menyaksikan perundungan.
Program PAAREDI yang dijalankan TP PKK Babel menjadi salah satu ruang untuk memperkuat peran keluarga dalam menghadapi perubahan tersebut. Melalui edukasi yang berkelanjutan, orang tua diharapkan semakin memahami pentingnya mendampingi anak, sementara generasi muda dibekali kemampuan untuk membuat keputusan yang aman.
Dalam konteks pembangunan daerah, upaya ini memiliki arti lebih luas. Pembangunan tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, atau kemajuan teknologi, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat melindungi generasi yang akan meneruskan masa depan daerah.
Anak yang tumbuh dengan rasa aman, memperoleh pendampingan, dan memiliki pemahaman tentang risiko akan mempunyai bekal lebih baik untuk mengembangkan potensi dirinya. Karena itu, perlindungan anak perlu menjadi tanggung jawab bersama, bukan semata-mata agenda sebuah lembaga.
Noni berharap sosialisasi pencegahan narkoba, perundungan, dan kekerasan anak dapat kembali dilaksanakan pada 2027 dengan menjangkau kelompok usia yang lebih luas.
“Insya Allah. Ini salah satu agenda PKK. Mudah-mudahan tahun depan, 2027, kita juga akan mengadakannya lagi, tetapi mungkin di tingkat yang lain,” katanya.
Jika kegiatan kali ini menyasar pelajar tingkat sekolah menengah pertama, kegiatan berikutnya berpeluang menjangkau siswa sekolah menengah atas hingga mahasiswa perguruan tinggi.
“Kalau hari ini kita tingkatnya SMP, mungkin sampai SMA atau bisa juga universitas,” lanjutnya.
Rencana tersebut menunjukkan pentingnya kesinambungan edukasi. Tantangan yang dihadapi siswa SMP tentu tidak sepenuhnya sama dengan persoalan siswa SMA atau mahasiswa. Karena itu, perluasan sasaran dapat menjadi kesempatan untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan dan perkembangan setiap kelompok usia.
Bagi Noni, edukasi yang berkelanjutan diharapkan memperkuat kesadaran bahwa pencegahan narkoba dan perundungan bukan kegiatan sesaat. Ia membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan pengulangan pesan yang konsisten agar nilai-nilai perlindungan benar-benar menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
Dalam kegiatan di GOR Sahabuddin, Gubernur Hidayat Arsani membuka acara sekaligus memimpin Deklarasi Bersama Cegah Narkoba, Perundungan dan Kekerasan Anak. Hadir pula jajaran TP PKK, unsur Forkopimda, kepala perangkat daerah, tenaga pendidik, kepala sekolah, serta ratusan pelajar.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars PKK, kemudian dilanjutkan dengan sambutan, sosialisasi, deklarasi, serta foto bersama. Seruan “Jangan Lupa Bahagia!” menutup acara dengan suasana penuh semangat.
Namun, ukuran keberhasilan gerakan perlindungan anak tidak berhenti pada deklarasi yang diucapkan bersama. Ukurannya terlihat ketika seorang anak berani menolak narkoba, ketika seorang siswa memilih tidak ikut merendahkan temannya, dan ketika keluarga bersedia mendengar keluh kesah anak sebelum persoalan menjadi lebih berat.
Di sanalah peran Noni Hidayat Arsani melalui TP PKK Babel menemukan makna pembangunan yang sesungguhnya membangun manusia sejak usia dini, memperkuat keluarga sebagai ruang perlindungan pertama, dan mengajak masyarakat mengambil bagian dalam menjaga masa depan generasi muda.
Sebab, masa depan Bangka Belitung tidak hanya diwariskan melalui jalan, gedung dan berbagai capaian pembangunan. Masa depan itu juga tumbuh dari anak-anak yang merasa aman, dihargai dan memiliki keberanian untuk memilih jalan yang benar.
Melindungi mereka hari ini berarti menjaga harapan Bangka Belitung esok hari. (Belva Al Akhab dan Anggun)


