BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Di arena pertandingan, yang terlihat adalah atlet, skor dan medali. Namun jauh sebelum seorang atlet berdiri di podium, ada pekerjaan panjang yang berlangsung di balik layar.
Ada program yang harus dirancang. Ada anggaran yang harus dikelola. Ada kegiatan yang harus dipertanggungjawabkan.
Ada organisasi yang harus memastikan seluruh proses tersebut berjalan sesuai aturan.
Kesadaran itulah yang mengemuka dalam Rapat Koordinasi KONI Kabupaten Bangka Barat bersama seluruh Cabang Olahraga (Cabor) di Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat, Kamis (8/10/2026).
Mengusung tema “Penguatan Tata Kelola dan Akuntabilitas KONI Menuju Prestasi Olahraga yang Berintegritas”, Rakor tersebut diikuti 72 peserta, terdiri atas 44 perwakilan Cabor dan 28 anggota KONI Kabupaten Bangka Barat.
Forum ini tidak sekadar menjadi ruang pertemuan organisasi. Lebih dari itu, Rakor menjadi momentum untuk menyamakan persepsi mengenai bagaimana organisasi olahraga harus bekerja secara tertib, transparan, akuntabel dan bertanggung jawab.
Terlebih, pembahasan menyentuh aspek yang bersinggungan langsung dengan pelaksanaan program, mulai dari perpajakan, kepatuhan terhadap aturan, risiko hukum hingga pengawasan penggunaan anggaran.
KONI menghadirkan narasumber dari KPP Pratama Bangka, Polres Bangka Barat dan Inspektorat Daerah Kabupaten Bangka Barat untuk memberikan pemahaman dari tiga perspektif berbeda.
Perpajakan, hukum dan pengawasan kemudian dipertemukan dalam satu kepentingan untuk memastikan roda organisasi olahraga berjalan dengan benar.
Ketua Pelaksana Rakor, Eka Octawianto, S.T., M.AP, yang juga menjabat Kepala Bidang Organisasi KONI Kabupaten Bangka Barat, menegaskan bahwa tata kelola tidak boleh dipahami sebatas urusan administrasi.
Menurutnya, tata kelola justru menjadi fondasi kepercayaan dalam membangun prestasi olahraga.
“Tata kelola bukan sekadar persoalan administrasi. Ini merupakan fondasi kepercayaan. Setiap anggaran yang dikelola harus dapat dipertanggungjawabkan, setiap kegiatan harus memiliki dasar dan dokumentasi yang jelas, dan setiap pengurus harus memahami tanggung jawabnya,” ujar Eka.
Menurut Eka, perbedaan pemahaman dalam pengelolaan organisasi dapat menimbulkan persoalan ketika Cabor menjalankan program maupun menyusun pertanggungjawaban.
Karena itu, ia berharap seluruh Cabor memiliki standar pemahaman yang sama.
“Kita ingin seluruh Cabor memiliki pemahaman dan standar yang sama. Mulai dari aspek perpajakan, kepatuhan terhadap ketentuan, sampai dengan penatausahaan dan pertanggungjawaban kegiatan,” katanya.
Bagi Eka, pembenahan tata kelola pada akhirnya bukan untuk membebani organisasi dengan prosedur, melainkan memastikan energi organisasi dapat diarahkan kepada tujuan utama, yakni pembinaan atlet.
“Dengan tata kelola yang semakin baik, kita berharap energi organisasi dapat semakin fokus pada pembinaan dan prestasi atlet,” ujarnya.
Di balik pembahasan tentang administrasi dan anggaran, ada pesan yang lebih besar yang ingin dibangun KONI Bangka Barat.
Yakni, prestasi tidak boleh dipisahkan dari integritas.
Sebab, keberhasilan seorang atlet tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi selama pertandingan. Ada proses panjang yang harus dibangun dengan prinsip profesionalisme dan tanggung jawab.
Eka mengatakan integritas harus menjadi budaya organisasi.
“Prestasi yang kita bangun harus beriringan dengan integritas. Kita ingin atlet berprestasi, tetapi pada saat yang sama organisasi yang menaunginya juga dikelola secara profesional, transparan dan akuntabel,” ujarnya.
Dengan demikian, prestasi tidak hanya dihitung dari jumlah medali, tetapi juga dari kualitas proses yang mengantarkan atlet menuju podium.
Ketua KONI Kabupaten Bangka Barat, Martin, menempatkan penguatan tata kelola sebagai bagian dari komitmen membangun organisasi olahraga yang semakin profesional.
Menurut Martin, pembinaan atlet membutuhkan dukungan organisasi yang sehat.
Semakin besar tanggung jawab yang diemban organisasi, semakin besar pula kewajiban untuk memastikan setiap amanah dikelola secara tertib.
“Kita ingin membangun prestasi olahraga Bangka Barat secara serius. Tetapi prestasi tidak boleh dipisahkan dari integritas. Semakin besar tanggung jawab organisasi, semakin besar pula tuntutan kita untuk mengelola setiap amanah secara tertib dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Martin.
Ia meminta seluruh Cabor tidak menjadikan Rakor sekadar agenda rutin.
Menurutnya, hasil pembahasan harus terlihat dalam perubahan cara kerja organisasi.
“Saya berharap setelah Rakor ini tidak berhenti pada pemahaman yang kita dapat hari ini. Harus ada perubahan dalam cara kita bekerja. Administrasi harus tertib, penggunaan anggaran harus sesuai ketentuan, dan komunikasi antara KONI dengan Cabor harus semakin terbuka,” tegasnya.
Martin juga mengingatkan bahwa prestasi olahraga merupakan hasil dari kerja kolektif.
Tidak ada atlet yang berdiri sendiri ketika menerima medali. Di belakangnya terdapat pelatih, Cabor, KONI, keluarga, pemerintah dan berbagai pihak yang ikut mendukung proses pembinaan.
“KONI tidak bisa bekerja sendiri. Prestasi adalah hasil kerja bersama antara KONI, Cabor, pelatih, atlet dan seluruh pemangku kepentingan olahraga. Karena itu, tata kelola yang baik juga harus menjadi komitmen bersama,” ujarnya.
Jika dilihat lebih jauh, Rakor tersebut sesungguhnya sedang membicarakan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kelengkapan dokumen.
Forum itu sedang membangun mata rantai antara tata kelola dan prestasi.
Program yang terencana membutuhkan anggaran. Anggaran membutuhkan pengelolaan yang tertib. Kegiatan membutuhkan pertanggungjawaban. Dan seluruh proses tersebut membutuhkan pengawasan.
Pada akhirnya, semua diarahkan untuk menciptakan ruang pembinaan yang semakin sehat bagi atlet.
Karena itu, perjalanan menuju podium tidak selalu dimulai dari lapangan pertandingan.
Kadang, ia dimulai dari meja rapat.
Dari dokumen program kerja.
Dari laporan pertanggungjawaban.
Dari keterbukaan pengelolaan anggaran.
Dari keberanian organisasi untuk memastikan setiap keputusan dapat dipertanggungjawabkan.
Rakor KONI Bangka Barat pun meninggalkan pesan yang sederhana: prestasi bukan hanya tentang bagaimana meraih kemenangan, tetapi juga bagaimana kemenangan itu dibangun.
Bagi KONI Bangka Barat, medali tetap menjadi salah satu ukuran keberhasilan pembinaan. Namun di balik medali itu harus ada organisasi yang profesional, transparan, akuntabel dan berintegritas.
Sebab, podium boleh menjadi tujuan, tetapi integritas harus menjadi jalan yang ditempuh untuk mencapainya. (Belva)


