BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Mentok Food Festival Jilid 2 resmi ditutup Bupati Bangka Barat Markus di Kota Mentok, Minggu (20/9/2026). Festival yang mempertemukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), masyarakat, serta pelaku ekonomi kreatif itu diarahkan tidak sekadar menjadi kegiatan hiburan, tetapi juga ruang promosi dan perluasan pasar produk lokal.
Penutupan festival dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bangka Barat, pejabat pemerintah daerah, Plt Camat Mentok, panitia, pelaku usaha dan masyarakat.
“Harapan kita ke depannya UMKM kita semakin berkembang dan semakin maju,” kata Markus dalam sambutannya, Minggu (21/9/2026).
Menurut Markus, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menggerakkan kegiatan ekonomi lokal. Ia mengapresiasi panitia dan berbagai pihak yang telah mendukung pelaksanaan festival.
“Terima kasih kepada panitia dan seluruh masyarakat yang hadir pada malam hari ini yang ikut meramaikan dan bisa menggerakkan UMKM, khususnya di Kota Mentok,” ujar Markus.
Mentok Food Festival berkembang sebagai ruang pertemuan antara pelaku usaha dan konsumen. Pada penyelenggaraan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mencatat terdapat 62 tenant atau tenda. Sebagian pelaku usaha berasal dari Mentok dan sebagian lainnya berasal dari daerah lain, termasuk Pangkalpinang.
Kehadiran puluhan tenant tersebut membuat festival tidak hanya menjadi tempat masyarakat mencari hiburan. Beragam produk kuliner mendapatkan ruang untuk diperkenalkan secara langsung kepada konsumen.
Bagi pelaku UMKM, pertemuan langsung dengan konsumen memberikan kesempatan untuk memperkenalkan produk sekaligus memperoleh gambaran mengenai respons pasar.
Festival juga mempertemukan pelaku usaha dengan masyarakat yang sebelumnya mungkin belum mengenal produk mereka.
Namun, keberlanjutan manfaat kegiatan tersebut tetap bergantung pada kemampuan pelaku usaha mengubah pengenalan produk menjadi pelanggan dan pasar yang berkelanjutan.
Di balik keramaian festival terdapat pekerjaan yang tidak banyak terlihat oleh pengunjung, mulai dari komunikasi dengan pelaku usaha, penataan tenant, promosi, penyusunan agenda hingga koordinasi kegiatan.
Dalam penyelenggaraan Mentok Food Festival, Dody Tanjung disebut sebagai salah satu figur penggerak kegiatan.
Perannya berada pada sisi penyelenggaraan dan menjadi bagian dari upaya mempertemukan pelaku UMKM dengan ruang publik serta masyarakat.
Materi penyelenggaraan sebelumnya juga menunjukkan bahwa festival sejak awal diarahkan bukan semata sebagai hiburan. Pelaku UMKM membutuhkan ruang promosi, sedangkan masyarakat membutuhkan ruang berkumpul dan hiburan.
Dengan pola tersebut, penyelenggaraan festival membutuhkan kolaborasi antara penggerak kegiatan, pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat.
Kerja tersebut menjadi bagian yang menentukan apakah sebuah festival dapat berlangsung sebagai kegiatan ekonomi sekaligus ruang publik.
Pemerintah Daerah Perkuat Ekosistem UMKM
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menempatkan kegiatan seperti Mentok Food Festival sebagai salah satu ruang untuk memperkenalkan potensi lokal dan membantu pelaku UMKM mendapatkan akses kepada konsumen.
Pada penyelenggaraan sebelumnya, pemerintah daerah juga disebut mendorong promosi produk UMKM lokal melalui keterlibatan pihak swasta.
Bagi UMKM, persoalan tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk.
Pelaku usaha juga membutuhkan akses pasar, promosi, penguatan merek dan kemampuan mempertahankan pelanggan.
Karena itu, kegiatan yang mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen secara langsung dapat menjadi salah satu bagian dari strategi pengembangan usaha.
Festival, dengan demikian, berfungsi sebagai ruang temu.
Pedagang membawa produk.
Masyarakat menjadi konsumen.
Pemerintah memberikan dukungan.
Sementara penggerak kegiatan memastikan seluruh unsur tersebut dapat bertemu dalam sebuah acara.
Keramaian masyarakat menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.
Pada penyelenggaraan sebelumnya, kawasan festival disebut dipadati ribuan masyarakat. Pengunjung tidak hanya berasal dari Mentok, tetapi juga dari wilayah lain.
Kehadiran pengunjung menciptakan transaksi langsung di antara pedagang dan konsumen.
Dampaknya dapat bergerak lebih luas.
Pengunjung membeli makanan. Pedagang membutuhkan bahan baku. Bahan baku diperoleh dari pemasok. Pelaku usaha mungkin membutuhkan tenaga tambahan selama kegiatan.
Rangkaian transaksi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi tidak selalu berlangsung dalam skala besar. Sebagian justru tumbuh dari transaksi kecil yang terjadi berulang.
Namun, besarnya dampak ekonomi festival tidak dapat disimpulkan hanya dari jumlah pengunjung atau tenant tanpa data transaksi, omzet dan pendapatan pelaku usaha.
Karena itu, keberhasilan jangka panjang kegiatan tersebut masih perlu dilihat dari perkembangan usaha setelah festival selesai.
Bagi pelaku UMKM, berakhirnya festival bukan berarti berakhirnya pekerjaan.
Lapak dibongkar. Panggung ditutup. Pengunjung pulang.
Pedagang kembali ke tempat usahanya masing-masing.
Mereka kembali memasak, mengemas produk, melayani pelanggan dan mencari pasar.
Di titik itulah manfaat sebuah festival mulai diuji.
Apakah konsumen yang datang pada malam festival kembali mencari produk tersebut?
Apakah pelaku usaha memperoleh pelanggan baru?
Apakah produk yang diperkenalkan dapat bertahan di pasar setelah kegiatan selesai?
Pertanyaan tersebut penting karena festival hanya menyediakan ruang pertemuan. Keberlanjutan usaha tetap ditentukan oleh kualitas produk, harga, pelayanan, pemasaran dan kemampuan pelaku usaha mempertahankan konsumen.
Dalam materi penyelenggaraan festival, akses pasar juga ditempatkan sebagai bagian penting dalam pengembangan UMKM. Pertemuan langsung dengan konsumen dapat menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan merek sekaligus membaca respons pasar.
Markus berharap kegiatan tersebut dapat terus dikembangkan.
Ia juga mengimbau masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban sehingga kegiatan serupa dapat berlangsung kembali.
Pada akhir sambutannya, Markus menyampaikan pantun yang sekaligus menjadi penanda berakhirnya Mentok Food Festival Jilid 2.
“Mentok Festival Volume 2 kami tutup dengan kebanggaan, sampai jumpa di volume 3 yang lebih berkelas. Dari Mentok untuk Nusantara, kuliner kita naik kelas, maju dan makmur,” kata Markus.
Penutupan tersebut meninggalkan pekerjaan berikutnya bagi pemerintah, penggerak kegiatan dan pelaku UMKM untuk memastikan ruang promosi yang telah dibangun dapat berlanjut menjadi akses pasar.
Dody Tanjung menjadi salah satu penggerak di sisi penyelenggaraan. Pemerintah Kabupaten Bangka Barat memberikan dukungan, sementara pelaku UMKM membawa produk dan masyarakat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi tersebut.
Mentok Food Festival Jilid 2 akhirnya tidak hanya meninggalkan panggung dan keramaian.
Ia meninggalkan pertanyaan yang lebih penting sejauh mana sebuah festival dapat membantu produk lokal bertahan dan berkembang setelah lampu panggung dimatikan.
Sebab bagi pelaku UMKM, festival mungkin hanya berlangsung beberapa hari.
Tetapi usaha merek
Penulis: Belva Al Akhab


