BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Sebelum suara warga terdengar di bilik pemungutan suara, ada tahap lain yang harus dilewati 24 bakal calon kepala desa di Bangka Barat.
Mereka harus duduk di ruang seleksi, membawa pengetahuan, pengalaman, gagasan, dan harapan untuk memimpin desa. Di ruangan itu pula, harapan untuk maju dalam Pilkades Serentak 2026 berhadapan dengan sebuah proses penilaian.
Tidak semua akan sampai ke surat suara.
Dari 24 bakal calon yang mengikuti seleksi tambahan, hanya maksimal lima orang dari setiap desa yang dapat ditetapkan sebagai calon resmi dan melanjutkan tahapan menuju pemungutan suara.
Seleksi tambahan tersebut berlangsung karena jumlah bakal calon di tiga desa melebihi batas maksimal lima orang. Desa Air Belo memiliki delapan peserta, Desa Belo Laut tujuh peserta dan Desa Mancung sembilan peserta.
Sementara Pilkades Serentak Kabupaten Bangka Barat 2026 dilaksanakan di lima desa, yakni Air Belo, Belo Laut, Air Nyatoh, Mancung dan Kelabat.
Di ruang seleksi BKPSDM Bangka Barat, Senin (21/9/2026), angka-angka tersebut berubah menjadi cerita tentang manusia dan pilihan hidup.
Ada 24 orang yang ingin dipercaya memimpin desa. Ada pula kemungkinan bahwa sebagian dari mereka harus menghentikan langkah sebelum pertarungan politik benar-benar dimulai.
Bagi mereka, seleksi bukan hanya tentang mendapatkan tiket menuju pemungutan suara. Tahapan ini juga menjadi ujian awal tentang bagaimana seorang calon pemimpin memahami kepemimpinan, pemerintahan desa dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Bupati Bangka Barat, Markus, S.H., mengatakan seleksi tambahan tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan ataupun membatasi hak politik para bakal calon.
Sebaliknya, seleksi merupakan bagian dari proses untuk melihat kapasitas mereka sebelum masyarakat menentukan pilihan.
“Proses hari ini bukanlah instrumen untuk menjatuhkan atau membatasi hak politik seseorang. Sebaliknya, seleksi ini langkah ikhtiar bersama untuk menguji kapasitas kepemimpinan, pemahaman tata kelola pemerintahan desa, serta kematangan emosional para bakal calon,” kata Markus.
Dalam naskah sambutannya, seleksi tambahan dijelaskan sebagai tahapan yang harus dilakukan apabila terdapat lebih dari lima bakal calon yang memenuhi persyaratan. Tujuannya menyaring dan menetapkan maksimal lima calon yang berhak maju ke tahap pemungutan suara.
Dengan demikian, demokrasi desa tidak dimulai ketika warga menerima surat suara.
Ia dimulai sejak seseorang memutuskan mencalonkan diri, ketika kapasitasnya diuji, ketika integritasnya dipertaruhkan dan ketika ia harus siap menerima hasil dari proses seleksi.
Di titik inilah kompetisi politik desa bertemu dengan persoalan tata kelola.
Sebab kepala desa bukan hanya nama yang tercetak dalam surat suara. Setelah terpilih, ia akan berada paling dekat dengan kehidupan masyarakat dan pemerintahan desa.
Markus mengingatkan bahwa masyarakat desa telah berubah menjadi pemilih yang lebih cerdas dan kritis.
Karena itu, menurut dia, seorang calon pemimpin perlu menunjukkan kejujuran dan integritas sejak proses pencalonan, bukan setelah memperoleh jabatan.
“Masyarakat membutuhkan pemimpin yang jujur dan berintegritas sejak dari masa pencalonan,” ujar Markus.
Para bakal calon juga diminta mengerahkan kemampuan, pengetahuan dan kompetensi terbaik dengan tetap menjunjung nilai kejujuran.
Pesan tersebut memberi makna lain terhadap seleksi yang berlangsung.
Yang diuji bukan hanya kemampuan menjawab soal atau melewati tahapan administrasi. Ada harapan agar proses itu menjadi ruang untuk melihat kesiapan seseorang ketika kelak harus berhadapan dengan kebutuhan masyarakat dan kompleksitas pemerintahan desa.
Namun, dokumen sambutan Bupati tidak merinci materi atau bentuk teknis uji kompetensi yang diberikan kepada para peserta. Karena itu, ukuran hasil seleksi sepenuhnya berada pada mekanisme yang ditetapkan panitia dan tim penguji.
Bukan hanya para bakal calon yang memiliki tanggung jawab.
Panitia dan tim penguji juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Markus meminta seluruh proses dilakukan secara profesional, transparan, objektif dan akuntabel. Penilaian harus didasarkan pada kompetensi peserta tanpa intervensi dari pihak mana pun.
“Kepercayaan masyarakat terhadap jalannya demokrasi di tingkat desa bermula dari objektivitas seleksi hari ini,” tegasnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa kualitas Pilkades tidak hanya ditentukan pada hari pencoblosan.
Tahap sebelum pemungutan suara ikut menentukan siapa saja yang akhirnya hadir sebagai pilihan masyarakat.
Rangkaian tersebut dimulai dari pendaftaran dengan jumlah bakal calon lebih dari lima orang, dilanjutkan seleksi tambahan berupa uji kompetensi dan integritas, kemudian penetapan maksimal lima calon resmi, sebelum akhirnya masyarakat memberikan suara.
Dalam rantai itu, satu tahapan terhubung dengan tahapan berikutnya.
Jika proses seleksi berlangsung objektif, maka calon yang tampil di hadapan masyarakat telah melewati mekanisme yang ditetapkan. Setelah itu, keputusan kembali berada di tangan warga desa.
Ada sisi manusiawi lain dari kompetisi ini.
Tidak semua peserta akan melanjutkan perjalanan.
Bagi mereka yang tidak masuk lima besar, ada kemungkinan harapan untuk menjadi kepala desa harus berhenti pada tahap seleksi. Tetapi Markus mengingatkan bahwa tidak lolos bukan berarti tertutupnya seluruh ruang pengabdian.
Peserta yang belum lolos masih memiliki kesempatan berkontribusi dalam pembangunan desa melalui sektor-sektor lainnya.
Sementara mereka yang masuk lima besar diminta mendapatkan dukungan penuh untuk melanjutkan tahapan Pilkades.
Pesan ini menjadi penting karena desa bukan ruang yang besar.
Orang-orang yang hari ini bersaing bisa kembali bertemu dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat menjadi tetangga, rekan dalam kegiatan masyarakat atau warga yang sama-sama berhadapan dengan persoalan desa.
Karena itu, kompetisi politik tidak seharusnya menghapus hubungan sosial yang telah terbentuk.
Bahkan setelah seluruh tahapan Pilkades selesai, masyarakat tetap harus hidup bersama.
Seleksi tambahan hanyalah satu pintu dalam perjalanan Pilkades Serentak Bangka Barat 2026.
Setelah maksimal lima calon ditetapkan dari masing-masing desa yang mengikuti seleksi tambahan, masyarakat akan menjadi penentu melalui pemungutan suara.
Pada tahap tersebut, seluruh proses kembali kepada warga.
Pemerintah daerah berharap Pilkades menjadi contoh demokrasi desa yang mampu melahirkan pemimpin yang amanah, berintegritas dan benar-benar dipilih rakyat.
Bagi 24 bakal calon, hari seleksi adalah momen ketika harapan harus berdampingan dengan kemungkinan.
Sebagian akan melanjutkan perjalanan menuju surat suara.
Sebagian lainnya harus berhenti lebih awal.
Namun ukuran keberhasilan demokrasi desa tidak hanya berada pada siapa yang akhirnya menduduki kursi kepala desa.
Ada proses yang harus dijaga sejak awal kejujuran peserta, objektivitas penguji, transparansi panitia, sportivitas kandidat dan penghormatan terhadap keputusan masyarakat.
Markus pun mengingatkan para peserta untuk menjaga persaingan tetap sehat. Mereka yang lolos lima besar harus didukung, sedangkan mereka yang belum berhasil tetap memiliki ruang untuk mengabdi kepada desa.
Pada akhirnya, Pilkades bukan hanya tentang memenangkan sebuah jabatan.
Ia tentang bagaimana sebuah desa menentukan siapa yang akan menerima mandat untuk menjalankan pemerintahan di tengah masyarakat.
Dan sebelum mandat itu diberikan oleh rakyat, 24 bakal calon tersebut terlebih dahulu menghadapi satu ujian: membuktikan diri melalui proses yang harus berlangsung jujur, objektif dan terbuka.
“Mari bersaing secara santun, kalah atau menang tetap kesatria.”
Pesan Markus itu menjadi penutup yang sederhana, tetapi menyentuh inti dari kompetisi politik di tingkat desa ketika siapa pun hasil akhirnya, mereka tetap akan kembali menjadi bagian dari masyarakat yang sama.
Penulis: Belva Al Akhab


