BANGKA BELITUNG, TARGETKRIMINAL.COM — Ada suara yang setiap hari terdengar biasa.
Ia mengalun dari masjid, menyusuri permukiman, menembus kesibukan pasar, perkantoran, sekolah, hingga rumah-rumah warga. Suara itu datang beberapa kali dalam sehari, mengingatkan manusia pada waktu dan kewajiban.
Bagi M. Yasir Mustafa, S.Pd.I., M.A.P., azan memiliki makna yang lebih panjang.
Ia tidak sekadar menjadi rangkaian kalimat yang dilantunkan seorang muazin. Azan menjadi bagian dari ruang pengabdian yang selama ini dijalaninya di masjid, dalam kegiatan dakwah, dalam pembinaan Al-Qur’an, sekaligus di tengah pekerjaannya sebagai aparatur sipil negara.
Dari ruang-ruang itulah perjalanan Yasir akhirnya membawanya ke sebuah panggung nasional di Sulawesi Selatan.
Pada Minggu, 30 Agustus 2026, namanya tercatat sebagai Juara III Cabang Adzan pada MTQ VIII KORPRI Tingkat Nasional 2026.
Ia melewati persaingan sekitar 70 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Bagi Yasir, kemenangan itu datang sebagai sesuatu yang tidak secara khusus ia kejar sejak awal.
Ia datang ke Makassar dengan niat yang menurutnya lebih sederhana.
Berdakwah.
Melantunkan kalimat Allah.
“Niat awal saya ke Makassar adalah berdakwah dan melantunkan kalimat Allah. Juara tiga ini merupakan nikmat dan berkah yang patut disyukuri,” kata Yasir kepada awak media, Rabu (16/9/2026).
Dari kalimat itu, kisah Yasir menjadi lebih dari sekadar cerita tentang seorang pejabat yang memenangkan perlombaan.
Ada perjalanan panjang yang menghubungkan birokrasi, masjid, organisasi keumatan, Al-Qur’an, keluarga, dan sebuah panggung kompetisi yang mempertemukan puluhan peserta dari seluruh Indonesia.
Yasir dikenal sebagai Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Dalam struktur pemerintahan, ia bekerja pada ruang yang bersinggungan dengan kesejahteraan masyarakat, kehidupan sosial dan keagamaan serta pembangunan sumber daya manusia.
Profil resmi Biro Kesra mencatat Yasir bergelar S.Pd.I., M.A.P., berpangkat Pembina/IV.b dan berpendidikan terakhir strata dua.
Namun kehidupan Yasir tidak berhenti pada ruang birokrasi.
Ia juga berada dalam lingkungan organisasi keagamaan.
Pada 2025, ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Bangka periode 2025–2030 setelah memperoleh suara terbanyak dalam Musyawarah Daerah DMI Kabupaten Bangka.
Kepercayaan tersebut membawanya lebih dekat dengan masjid-masjid dan masyarakat.
Dalam ruang seperti itu, masjid tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk menunaikan ibadah. Ia juga menjadi tempat bertemunya masyarakat, tempat berlangsungnya pendidikan keagamaan, ruang dakwah dan salah satu titik tumbuhnya solidaritas sosial.
Yasir berada di dalam lingkungan tersebut.
Ia juga terlibat dalam Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Karena itu, ketika suara azannya kemudian membawa nama Babel ke tingkat nasional, capaian tersebut tidak sepenuhnya lahir dalam satu malam.
Ada lingkungan yang membentuknya.
Ada ruang yang memberinya kesempatan.
Dan ada proses yang membuat kemampuan itu terus terasah.
Pada Juni 2026, beberapa bulan sebelum MTQ KORPRI berlangsung, Yasir terlibat dalam kegiatan pembinaan dan seleksi MTQ Babel.
Dalam kesempatan tersebut, ia berbicara tentang makna juara.
Menurutnya, kemenangan dalam musabaqah tidak semestinya hanya diukur dari piala atau peringkat. Al-Qur’an, dalam pandangan yang disampaikannya, harus menjadi pedoman hidup yang membentuk hati, akhlak dan perilaku.
Beberapa bulan kemudian, Yasir sendiri berada di arena yang sama.
Kali ini ia bukan hanya berada di sisi pembinaan.
Ia menjadi peserta.
Ia harus dinilai.
Ia harus berhadapan dengan peserta lain.
Dan ia harus menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Di sinilah perjalanan tersebut menjadi menarik.
Seseorang yang selama ini ikut berada di lingkungan pembinaan akhirnya masuk ke dalam arena untuk menguji kemampuan dirinya sendiri.
Sekitar 70 Peserta, Tiga Besar Nasional
MTQ VIII KORPRI Nasional 2026 di Sulawesi Selatan mempertemukan peserta dari berbagai daerah.
Di Cabang Adzan, sekitar 70 peserta ikut bersaing.
Tidak ada satu pun yang datang tanpa persiapan.
Masing-masing membawa latihan, pengalaman, karakter suara dan teknik.
Yasir pun demikian.
Dalam penampilannya, ia memadukan irama Bayati dan Rast.
Azan dilantunkan bukan hanya sebagai rangkaian lafaz. Ada pengaturan napas, ketepatan pelafalan, penguasaan irama dan penghayatan yang harus dijaga.
Pada akhirnya, dewan juri menempatkan Yasir di posisi ketiga.
Juara III Nasional.
Dari sekitar 70 peserta.
Nama Bangka Belitung pun masuk dalam tiga besar.
Bagi daerah kepulauan yang selama ini terus berupaya mengembangkan sumber daya manusia dan potensi masyarakatnya, capaian itu menjadi salah satu catatan dari perjalanan Babel di panggung nasional.
Ada bagian lain yang membuat cerita kemenangan Yasir tidak berhenti di podium.
Ia menerima bonus Rp10 juta.
Tetapi hadiah tersebut segera memiliki tujuan.
Yasir merencanakan uang itu untuk membantu biaya pendidikan anaknya yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Di sinilah nilai sebuah hadiah berubah.
Di arena lomba, Rp10 juta menjadi bonus.
Di dalam keluarga, uang itu menjadi bagian dari biaya pendidikan.
Piala mungkin akan disimpan di rumah.
Foto kemenangan akan menjadi kenangan.
Namun pendidikan anak akan terus berlangsung jauh setelah perlombaan selesai.
Bagi Yasir, kemenangan tersebut akhirnya memiliki hubungan langsung dengan kehidupan keluarganya.
Ia datang ke Makassar sebagai peserta.
Ia pulang sebagai juara.
Sebagian hasilnya ingin ia kembalikan kepada keluarga dalam bentuk dukungan untuk pendidikan anak.
Ada hal sederhana yang bisa dilihat dari pengalaman Yasir.
Di ruang birokrasi, ia memiliki jabatan.
Di organisasi kemasjidan, ia memiliki tanggung jawab.
Namun di arena kompetisi, jabatan tersebut tidak menentukan hasil.
Di hadapan dewan juri, ia kembali menjadi seorang peserta.
Yang dinilai adalah suara.
Teknik.
Penghayatan.
Kemampuan.
Keberanian tampil.
Karena itu, keikutsertaannya menjadi semacam pengingat bahwa jabatan tidak semestinya menjadi alasan seseorang berhenti mengembangkan diri.
Seorang aparatur tetap memiliki ruang untuk belajar.
Seorang pejabat tetap bisa menjadi peserta.
Seseorang yang telah berada dalam posisi kepemimpinan masih bisa berdiri di hadapan juri untuk menerima penilaian.
Yasir memilih ruang tersebut.
Ia menguji dirinya sendiri.
Prestasi Yasir juga menjadi bagian dari capaian kontingen Bangka Belitung dalam MTQ VIII KORPRI Nasional 2026.
Selain Yasir yang meraih Juara III Cabang Adzan, Ela Isnani Munawwaroh, M.Pd., meraih Juara Harapan I Cabang Hifdz Al-Quran Golongan Juz 30 Wanita.
Sementara Muhammad Amin, M.Pd.I., meraih Juara Harapan II Cabang Khotbah Jumat.
Tiga capaian tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan kontingen Babel tidak hanya membawa nama daerah, tetapi juga menunjukkan keberadaan sumber daya manusia yang bergerak di bidang keagamaan.
Bagi Yasir sendiri, kemenangan itu tidak ditempatkan sebagai keberhasilan pribadi semata.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Sekretaris Daerah dan masyarakat Babel atas dukungan yang diberikan.
Di balik sebuah podium, selalu ada banyak orang yang tidak terlihat.
Ada keluarga.
Ada rekan kerja.
Ada pembina.
Ada organisasi.
Ada masyarakat yang memberikan dukungan.
Tentu saja ada kerja pribadi dari peserta yang berdiri di panggung.
Kisah Yasir mengingatkan pada satu hal: kemampuan tidak selalu lahir dari pusat.
Ia dapat tumbuh di daerah.
Ia dapat berkembang di masjid-masjid.
Ia dapat diasah dalam komunitas.
Kemudian, ketika kesempatan datang, kemampuan itu dapat dibawa ke ruang yang lebih luas.
Yasir membawa suara dari Bangka Belitung ke Makassar.
Sekitar 70 peserta menjadi bagian dari persaingan yang harus dilewatinya.
Ia akhirnya masuk tiga besar.
Kisah serupa juga pernah terlihat dalam perjalanan Ustaz Dhiyauddin dari Aceh Barat yang membawa kemampuan azannya ke panggung internasional di Arab Saudi.
Panggung keduanya berbeda.
Tingkat kompetisinya berbeda.
Namun ada satu benang merah: talenta daerah membutuhkan ruang untuk berkembang.
Tidak semua orang harus lahir dari kota besar untuk memiliki kemampuan yang bisa diapresiasi secara nasional atau internasional.
Kadang-kadang kemampuan itu tumbuh dalam ruang yang sederhana.
Di masjid.
Di komunitas.
Di lingkungan keluarga.
Melalui latihan yang terus-menerus.
Kini, panggung MTQ KORPRI Nasional 2026 telah selesai.
Tepuk tangan telah berhenti.
Para peserta telah kembali ke daerah masing-masing.
Piala akan menjadi bagian dari dokumentasi.
Namun bagi Yasir, ada sesuatu yang ikut pulang bersamanya dari Makassar.
Bukan hanya sebuah penghargaan.
Tetapi sebuah pengalaman bahwa kemampuan harus berani diuji.
Bahwa pengabdian dapat dilakukan melalui banyak jalan.
Bahwa sebuah kemenangan dapat memiliki manfaat yang lebih panjang ketika dikembalikan kepada keluarga.
Sebagai birokrat, Yasir bekerja melalui kebijakan dan pelayanan publik.
Sebagai pengurus DMI, ia berada di ruang pengabdian umat.
Dalam lingkungan LPTQ, ia bersentuhan dengan pembinaan Al-Qur’an.
Di panggung MTQ KORPRI, ia menjadi peserta yang dinilai berdasarkan kemampuannya sendiri.
Di rumah, ia tetap seorang ayah yang memikirkan pendidikan anak.
Dari sekitar 70 peserta, namanya berhenti di posisi ketiga.
Juara III Nasional.
Ia tidak pulang membawa gelar juara pertama.
Tetapi sebuah peringkat tidak selalu menjadi satu-satunya ukuran dari sebuah perjalanan.
Ada keberanian untuk tampil.
Ada proses yang telah dilalui.
Ada nama daerah yang dibawa.
Ada manfaat dari kemenangan yang ingin diteruskan.
Rp10 juta yang diterimanya bukan sekadar angka dalam laporan hadiah.
Bagi Yasir, uang itu menjadi bagian dari ikhtiar membiayai pendidikan anaknya.
Maka azan yang dilantunkan di panggung Makassar tidak benar-benar selesai ketika perlombaan berakhir.
Suara itu pulang ke Bangka Belitung.
Pulang ke masjid.
Pulang ke keluarga.
Pulang membawa sebuah cerita tentang seorang aparatur yang mencoba menjaga dua ruang kehidupan sekaligus pengabdian kepada masyarakat dan pengabdian melalui suara yang ia yakini sebagai jalan dakwah.
Dari Bangka Belitung, Yasir datang membawa suara.
Dari Makassar, ia pulang membawa Juara III Nasional.
Dari hadiah Rp10 juta itu, ia ingin menanam sesuatu yang jauh lebih panjang daripada sebuah kemenangan untuk kesempatan bagi anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Penulis: Belva Al Akhab


