BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL
COM — Di tengah riuh karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Partai Demokrat Bangka Barat mengajak masyarakat tidak berhenti pada gegap gempita perayaan. Kemerdekaan, kata mereka, juga harus diterjemahkan menjadi empati, kepedulian dan gotong royong.
Pesan itu disampaikan Wakil Ketua II DPD Partai Demokrat Bangka Barat, Ibnu, saat mengikuti Karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Bangka Barat, Senin (24/8/2026).
Bagi Ibnu, keterlibatan Demokrat dalam karnaval bukan sekadar menghadirkan atribut partai di tengah keramaian. Kehadiran tersebut merupakan bentuk partisipasi karena karnaval merupakan ruang kebudayaan sekaligus pesta rakyat.
“Kami ikut merayakan agenda ini karena kami merupakan bagian dari masyarakat Bangka Barat. Karnaval ini merupakan kegiatan rakyat, sehingga kami ingin hadir dan ikut memeriahkan bersama masyarakat,” ujar Ibnu.
Namun, di balik kemeriahan itu, Ibnu mengajak masyarakat melihat wajah lain dari kemerdekaan. Sebab, tidak semua warga Indonesia dapat merayakan 17 Agustus dalam suasana penuh kegembiraan.
Sebagian masyarakat di daerah lain masih menghadapi dampak bencana alam, memulihkan rumah, mencari penghidupan dan menata kembali kehidupan yang sempat porak-poranda.
“Makna kemerdekaan bagi kami juga bagaimana kita memiliki empati terhadap saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah. Kita harus mengingat bahwa tidak semua masyarakat dapat merayakan kemerdekaan dalam keadaan yang sama,” katanya.
Menurut Ibnu, kegembiraan yang dirasakan masyarakat Bangka Barat semestinya tidak membuat kepedulian terhadap sesama menjadi terlupakan.
“Kalau kita hari ini bisa berkumpul, ikut karnaval dan merayakan kemerdekaan dengan penuh kegembiraan, tentu kita juga harus mengingat saudara-saudara kita yang belum bisa merasakan suasana seperti ini karena sedang menghadapi bencana,” ujarnya.
Ibnu kemudian mengaitkan makna kemerdekaan dengan gagasan Presiden pertama RI Soekarno yang menyebut kemerdekaan sebagai “jembatan emas.”
Menurut dia, ungkapan tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah titik akhir perjuangan bangsa. Proklamasi justru menjadi pintu masuk menuju pekerjaan yang lebih panjang untuk membangun kehidupan rakyat agar semakin sejahtera.
“Bung Karno pernah mengatakan bahwa kemerdekaan itu adalah jembatan emas. Artinya, kemerdekaan bukan akhir dari perjuangan. Setelah kita merdeka, masih ada pekerjaan besar yang harus kita lakukan untuk menyempurnakan kehidupan masyarakat,” tutur Ibnu.
Karena itu, menurut Ibnu, kemerdekaan harus diisi dengan kerja nyata dan kepedulian terhadap sesama.
“Kalau kita bicara tentang jembatan emas yang disampaikan Bung Karno, saya melihat bahwa kita tidak boleh hanya memikirkan diri kita sendiri. Setelah merdeka, tugas kita menyempurnakan kehidupan masyarakat. Termasuk bagaimana kita peduli kepada saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah,” katanya.
Ia juga menghubungkan pandangannya dengan pemikiran Mohammad Hatta mengenai tujuan kemerdekaan Indonesia.
“Bung Hatta juga mengingatkan bahwa Indonesia merdeka hanya menjadi syarat untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. Jadi, kalau hari ini kita merayakan kemerdekaan, pertanyaannya tentang bagaimana kemerdekaan itu kita isi dan bagaimana kebahagiaan itu bisa dirasakan bersama,” ujarnya.
Bagi Ibnu, makna kemerdekaan akhirnya kembali kepada manusia tentang bagaimana kebebasan yang telah diperjuangkan para pendahulu tidak berhenti menjadi simbol, tetapi melahirkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.
“Menurut saya, inilah semangat kemerdekaan yang sesungguhnya. Kita boleh bergembira, kita boleh merayakan kemerdekaan, tetapi hati kita tetap harus melihat saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan,” katanya.
Ibnu berharap semangat gotong royong tetap menjadi kekuatan sosial masyarakat Bangka Barat.
Ia menilai, gotong royong merupakan bentuk sederhana namun penting dalam menjaga persatuan. Ketika masyarakat mampu saling membantu tanpa memandang perbedaan, kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui seremoni, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami, masyarakat dapat terus bergotong royong dan memiliki kepedulian terhadap sesama,” ujar Ibnu.
Ia mengatakan keterlibatan Demokrat dalam karnaval juga menjadi bagian dari upaya partai untuk menjaga kedekatan dengan masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa Partai Demokrat hadir dan menjadi bagian dari masyarakat Bangka Barat,” katanya.
Menurut Ibnu, partai politik tidak semestinya hanya hadir ketika agenda politik berlangsung. Ruang sosial dan kemasyarakatan juga menjadi bagian penting dari kehidupan demokrasi.
“Kami ikut hadir karena karnaval ini merupakan acara rakyat. Kami ingin bersama masyarakat dan ikut merasakan kegembiraan masyarakat,” ujar Ibnu dengan nama lengkap Ibnu Cahyadi atau biasa di panggil ic dengan ciri khas salam cinta dari ic.
Sementara itu, Bendahara DPC Partai Demokrat Bangka Barat, Rais Iqbal Harahap, berharap momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI semakin memperkuat kebersamaan masyarakat.
“Harapan kami, masyarakat Bangka Barat tetap menjaga kekompakan, kebersamaan dan gotong royong. Mari kita bersama-sama menjaga daerah ini agar tetap aman, nyaman dan harmonis. Partai Demokrat juga ingin terus hadir dan menjadi bagian dari masyarakat,” kata Rais.
Rais menegaskan, masyarakat memiliki posisi penting dalam perjalanan Partai Demokrat di Bangka Barat.
“Bagi kami, masyarakat adalah bagian penting dari perjalanan Partai Demokrat. Karena itu, kami ingin terus bersama masyarakat, bukan hanya dalam momentum perayaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia berharap soliditas internal Partai Demokrat semakin kuat sehingga dapat memperbesar kontribusi partai bagi masyarakat.
“Semakin solid partai, semakin kuat pula kebersamaan kami untuk hadir di tengah masyarakat. Kami ingin Demokrat tetap dekat dengan masyarakat Bangka Barat dan bisa ikut menjaga semangat persatuan serta gotong royong,” katanya.
Rais menambahkan, kemerdekaan tidak boleh kehilangan substansinya di tengah kemeriahan seremoni.
“Yang paling penting bagi kami bagaimana kita tetap bersama-sama. Masyarakat menjaga masyarakat, saling membantu dan saling menguatkan. Itulah semangat kemerdekaan yang harus terus kita hidupkan,” ujarnya.
Karnaval boleh berakhir ketika jalanan kembali lengang dan atribut perayaan disimpan. Namun, pesan tentang kemerdekaan seharusnya tidak ikut pulang bersama iring-iringan.
Bagi Demokrat Bangka Barat, kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi tanggung jawab untuk menjaga persatuan, merawat kepedulian dan memastikan semangat gotong royong tetap tumbuh di tengah masyarakat.
Sebab kemerdekaan tidak hanya tentang kemampuan untuk merayakan kebebasan, tetapi juga tentang kesediaan untuk melihat mereka yang sedang kesulitan, mengulurkan tangan dan bangkit bersama. (Belva)


