BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Senin pagi (3/8/2026) menjadi momen yang berbeda bagi ratusan pelajar SMA Negeri 1 Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Di tengah khidmatnya upacara bendera, mereka tidak hanya mendengarkan amanat tentang kedisiplinan atau semangat belajar, tetapi juga menerima pesan kehidupan yang begitu mendalam dari Kapolres Bangka Barat, AKBP Helen Simanjuntak, S.H., S.I.K., M.H.
Di hadapan para guru dan siswa yang berbaris rapi di bawah kibaran Merah Putih, Helen berbicara bukan sekadar sebagai seorang pejabat kepolisian. Ia hadir layaknya seorang ibu yang mengingatkan anak-anaknya agar tidak salah melangkah di usia yang penuh rasa ingin tahu dan mudah dipengaruhi lingkungan.
Menurutnya, masa remaja sebagai masa emas yang menentukan arah kehidupan seseorang. Namun, di saat yang sama, usia tersebut juga menjadi periode paling rentan terhadap berbagai bentuk kenakalan remaja yang dapat menghancurkan masa depan.
Mulai dari penyalahgunaan narkoba, perundungan (bullying), tawuran, balap liar, geng motor, konsumsi minuman keras hingga pergaulan bebas, seluruhnya dinilai sebagai ancaman nyata yang harus dihindari sejak dini.
” Percayalah, mungkin hari ini belum terasa akibatnya. Namun suatu saat nanti penyesalan itu akan datang ketika kesempatan untuk meraih cita-cita sudah hilang,” ujar AKBP Helen Simanjuntak di hadapan ratusan peserta upacara.
Kalimat itu seolah menjadi pengingat bahwa sebuah keputusan yang dianggap sepele pada masa remaja dapat meninggalkan konsekuensi panjang di masa depan.
Helen mengungkapkan, penyalahgunaan narkoba masih menjadi pekerjaan rumah besar di Bangka Barat. Berdasarkan data sepanjang tahun 2026, terdapat delapan kasus tindak pidana narkoba yang melibatkan anak sebagai korban. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa bahaya narkotika tidak lagi memandang usia dan telah mengintai generasi muda.
Bagi Helen, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Peran keluarga, sekolah dan lingkungan memiliki tanggung jawab yang sama besar dalam membangun karakter anak agar tidak mudah terpengaruh ajakan yang menyesatkan.
Selain mengingatkan bahaya narkoba, Kapolres juga mengajak seluruh pelajar menggunakan media sosial secara bijak, mematuhi aturan lalu lintas, tidak menggunakan knalpot brong, menjauhi geng motor, serta memilih lingkungan pergaulan yang mampu mendorong lahirnya prestasi.
Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh kedisiplinan, karakter dan kemampuan menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif.
” Gunakan masa muda untuk belajar, berprestasi dan mengembangkan potensi diri. Jangan sampai masa depan rusak hanya karena mengikuti ajakan yang salah,” pesannya.
Sebagai bentuk komitmen pelayanan kepada masyarakat, AKBP Helen juga mengajak para guru, orang tua, maupun pelajar untuk tidak ragu memanfaatkan Call Center 110 Polres Bangka Barat apabila membutuhkan bantuan ataupun ingin melaporkan berbagai persoalan yang memerlukan penanganan cepat dari kepolisian.
Upaya pembinaan terhadap pelajar tersebut, kata Kasi Humas Polres Bangka Barat, Iptu Yos Sudarso, merupakan bagian dari strategi preventif yang terus diperkuat oleh institusinya.
Menurut Yos, membangun hubungan yang dekat dengan kalangan pelajar merupakan langkah penting agar mereka tidak memandang polisi hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra yang siap memberikan edukasi, perlindungan, dan pendampingan.
” Kami ingin membangun kedekatan dengan para pelajar agar mereka memahami bahwa polisi bukan hanya melakukan penegakan hukum, tetapi juga hadir memberikan edukasi dan pendampingan agar generasi muda terhindar dari berbagai bentuk pelanggaran hukum,” ujar Iptu Yos Sudarso.
Suasana upacara berlangsung tertib hingga selesai. Para siswa mengikuti setiap pesan yang disampaikan dengan penuh perhatian, sementara pihak sekolah menyambut baik kehadiran Polres Bangka Barat yang dinilai memberikan pendidikan karakter secara langsung kepada peserta didik.
Bagi Polres Bangka Barat, upaya membangun generasi muda tidak cukup dilakukan melalui tindakan represif setelah pelanggaran terjadi. Pencegahan harus dimulai sejak ruang-ruang pendidikan, ketika karakter sedang dibentuk dan cita-cita masih tumbuh.
Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan kehidupan modern, pesan yang disampaikan AKBP Helen menjadi pengingat bahwa masa depan tidak hanya dibangun melalui nilai rapor, tetapi juga melalui keberanian setiap pelajar untuk berkata tidak terhadap narkoba, kekerasan dan seluruh bentuk kenakalan remaja.
Sebab, sekali seseorang kehilangan arah karena memilih jalan yang salah, yang dipertaruhkan bukan hanya kebebasan, melainkan juga mimpi, harapan dan masa depan yang selama ini diperjuangkan. (Belva)


