Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM – Dentuman tiang pancang mulai terdengar di kawasan Pelabuhan Tanjung Kalian. Alat berat berdatangan. Material konstruksi terus ditumpuk di area proyek. Di atas laut yang selama ini menjadi jalur utama penghubung Bangka dan Sumatera, pembangunan Dermaga II kini resmi bergerak.
Bagi pemerintah dan kontraktor pelaksana, proyek ini adalah langkah besar untuk meningkatkan kapasitas pelabuhan. Namun bagi masyarakat Bangka Barat, pembangunan dermaga baru memunculkan pertanyaan yang jauh lebih mendasar.
Apakah Dermaga II akan menyelesaikan masalah, atau hanya menjadi bangunan baru yang berdiri di atas persoalan lama yang tak kunjung dibereskan?
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan.
Selama bertahun-tahun, Pelabuhan Tanjung Kalian menjadi tempat lahirnya berbagai keluhan masyarakat. Antrean kendaraan yang panjang, kepastian jadwal yang sering dipertanyakan, hingga kepadatan luar biasa saat musim mudik dan libur panjang telah menjadi cerita yang berulang.
Setiap kali momen Natal, Tahun Baru atau Idulfitri tiba, pelabuhan ini seolah berubah menjadi titik kemacetan terbesar di Bangka Barat.
Ribuan orang menunggu.
Ratusan kendaraan mengular.
Waktu terbuang begitu saja.
Padahal bagi masyarakat kepulauan seperti Bangka, waktu bukan sekadar hitungan jam. Waktu berupa biaya. Waktu berupa peluang usaha. Waktu berupa akses terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan dan aktivitas ekonomi.
Karena itulah pembangunan Dermaga II disambut dengan harapan besar.
Dalam sosialisasi yang dipaparkan langsung oleh Project Manager PT Nindya Karya, Fery Febriyanto, dijelaskan bahwa proyek pembangunan Dermaga II ditargetkan selesai dalam waktu 240 hari kalender atau sekitar delapan bulan.
Proyek tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas sandar kapal dan memperlancar arus kendaraan maupun penumpang yang selama ini menjadi tantangan utama Pelabuhan Tanjung Kalian.
“Banyak masyarakat yang berharap pembangunan Dermaga II ini bisa menjadi solusi nyata terhadap persoalan yang selama ini sering terjadi di pelabuhan,” ujar Fery, Rabu (3/6/2026).
Secara teknis, pembangunan yang dilakukan cukup besar.
Dermaga baru akan dilengkapi jalan akses atau trestle sepanjang 237 meter, empat unit breasting dolphin sebagai tempat sandar kapal, satu unit mooring dolphin sebagai titik pengikat kapal serta sembilan unit catwalk yang menghubungkan struktur dermaga.
Tak hanya itu, sekitar 170 titik tiang pancang baja akan ditanam sebagai pondasi utama bangunan yang berdiri di atas perairan tersebut.
Pekerjaan konstruksi dibagi ke dalam lima zona dengan dukungan alat berat berupa ponton, crane dan flying hammer.
Menurut Fery, progres material juga berjalan sesuai target. Sekitar 60 persen kebutuhan tiang pancang telah berada di lokasi proyek, sementara seluruh material untuk pekerjaan struktur atas disebut sudah tersedia.
“Saat ini proses fabrikasi, pembesian dan bekisting sudah berjalan. Material untuk pekerjaan struktur atas juga sudah tersedia 100 persen di lokasi,” jelasnya.
PT Nindya Karya menargetkan pekerjaan utama selesai pada akhir November atau awal Desember 2026 sehingga Dermaga II dapat difungsikan menjelang Natal dan Tahun Baru 2027.
Target itu tentu menjadi kabar baik.
Namun pembangunan fisik hanyalah satu sisi dari persoalan.
Sebab yang selama ini banyak dikeluhkan masyarakat sesungguhnya bukan hanya soal jumlah dermaga.
Masalah yang sering muncul justru berkaitan dengan pelayanan.
Inilah titik yang mulai ramai dibicarakan masyarakat.
Banyak pengguna jasa penyeberangan menilai bahwa pembangunan infrastruktur harus berjalan seiring dengan pembenahan manajemen operasional.
Karena percuma memiliki dermaga tambahan apabila pola pelayanan tetap berjalan dengan cara lama.
Percuma membangun fasilitas baru jika masyarakat masih harus menghadapi ketidakpastian jadwal keberangkatan.
Percuma menambah kapasitas jika antrean tetap panjang akibat lemahnya pengaturan operasional.
Dalam perspektif pelayanan publik modern, keberhasilan sebuah pelabuhan tidak diukur dari megahnya bangunan yang berdiri.
Keberhasilannya justru diukur dari pengalaman masyarakat yang menggunakannya.
Apakah penumpang merasa nyaman?
Apakah kendaraan bisa menyeberang lebih cepat?
Apakah jadwal lebih pasti?
Apakah informasi lebih transparan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang sesungguhnya menjadi ukuran kualitas pelayanan.
Karena pada akhirnya masyarakat tidak sedang mengagumi struktur beton.
Masyarakat sedang menunggu perubahan.
Mereka ingin melihat pelayanan yang lebih baik.
Mereka ingin melihat antrean berkurang.
Mereka ingin melihat waktu tunggu menjadi lebih singkat.
Mereka ingin melihat pengelolaan pelabuhan yang lebih profesional.
Dermaga II memang membawa optimisme.
Tetapi optimisme itu akan kehilangan maknanya jika tidak diikuti reformasi pelayanan yang nyata.
Pelabuhan Tanjung Kalian merupakan gerbang utama Pulau Bangka. Apa yang terjadi di pelabuhan ini secara langsung memengaruhi aktivitas ekonomi, investasi, pariwisata hingga mobilitas masyarakat.
Karena itu pembangunan Dermaga II seharusnya tidak hanya dipandang sebagai proyek konstruksi.
Ia harus menjadi momentum evaluasi besar terhadap sistem pelayanan penyeberangan secara keseluruhan.
Kini baja-baja mulai ditanam ke dasar laut.
Beton mulai dicor.
Struktur dermaga perlahan mulai terbentuk.
Namun masyarakat Bangka Barat tampaknya sedang menunggu sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bangunan baru.
Mereka menunggu hadirnya pelayanan yang lebih manusiawi.
Mereka menunggu kepastian.
Mereka menunggu perubahan.
Ketika Dermaga II nanti resmi beroperasi, masyarakat tentu berharap yang berubah bukan hanya wajah pelabuhan.
Melainkan juga cara pelabuhan melayani rakyat yang selama ini menjadi alasan utama mengapa dermaga itu dibangun. (BELVA)

