Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM – Dua hari sudah berlalu sejak seorang pria paruh baya di Desa Tugang, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, pergi menuju kebunnya di kawasan Sungai Butun. Namun hingga Kamis (4/6/2026) malam, pria berusia sekitar 55 hingga 58 tahun itu belum juga ditemukan.
Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, Polairud, Polsek Kelapa, Pemerintah Kecamatan Kelapa, Pemerintah Desa Tugang dan masyarakat masih terus melakukan pencarian. Penyisiran dilakukan hingga malam hari dengan menyusuri aliran sungai, jalur kebun, semak belukar dan sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi terakhir korban berada.
Yang membuat kasus ini menjadi perhatian warga menjadi satu fakta yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya.
Korban menghilang.
Namun kendaraan dan perlengkapannya ditemukan.
Pemiliknya tidak.
Kondisi tersebut membuat pencarian terus diperluas.
Di tengah gelapnya Sungai Butun, sorot lampu senter tampak bergerak ke berbagai arah. Sejumlah petugas berdiri di tepian perairan. Sebagian lainnya masuk lebih jauh ke kawasan vegetasi rapat yang menyulitkan jarak pandang.
Suara komunikasi antartim sesekali terdengar memecah keheningan malam.
Waktu menjadi faktor yang sangat penting.
Karena itu, pencarian tidak dihentikan meskipun malam semakin larut.
Bagi tim pencari, setiap menit bisa menjadi penentu.
Semakin cepat petunjuk ditemukan, semakin besar peluang untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Warga langsung turun membantu pencarian. Kami semua berharap korban bisa segera ditemukan. Sampai malam ini masyarakat masih ikut mencari,” kata Mang Jelali, warga yang menerima informasi awal mengenai dugaan hilangnya korban.
Menurutnya, kabar hilangnya korban dengan cepat menyebar ke masyarakat Desa Tugang.
Tidak butuh waktu lama hingga warga berdatangan ke lokasi.
Sebagian membantu menyisir area pencarian. Sebagian lainnya membantu kebutuhan logistik petugas yang bekerja tanpa mengenal waktu.
“Ini sudah menjadi kepedulian bersama. Semua berharap ada kabar baik,” ujarnya.
Di lokasi pencarian, suasana yang terlihat bukan hanya operasi penyelamatan.
Lebih dari itu.
Ada kecemasan keluarga yang belum mendapatkan kepastian.
Ada warga yang rela meninggalkan pekerjaan mereka.
Ada petugas yang terus bergerak di medan sulit demi menemukan satu petunjuk yang bisa membuka arah pencarian.
Bagi keluarga korban, dua hari terakhir terasa jauh lebih panjang dibanding biasanya.
Setiap telepon yang berdering membawa harapan.
Setiap kabar dari lokasi pencarian menjadi sesuatu yang ditunggu.
Namun hingga kini, pertanyaan terbesar masih belum terjawab.
Di mana korban berada?
Sungai Butun sendiri bukan kawasan yang mudah ditelusuri.
Vegetasi yang rapat, jalur kebun yang membelah semak belukar, serta kondisi medan yang cukup sulit menjadi tantangan tersendiri bagi tim pencari.
Pada malam hari, tingkat kesulitan bertambah karena jarak pandang menjadi terbatas.
Karena itu, pencarian dilakukan secara sistematis dengan membagi area ke dalam beberapa sektor prioritas.
Petugas juga terus mengumpulkan informasi dari masyarakat yang mungkin mengetahui aktivitas korban sebelum dinyatakan hilang.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat penting bagi masyarakat mengenai keselamatan saat beraktivitas di kawasan terpencil.
Banyak warga yang terbiasa pergi ke kebun seorang diri karena merasa telah mengenal medan dengan baik. Namun keadaan darurat bisa terjadi kapan saja, baik karena faktor kesehatan, kecelakaan, tersesat maupun kondisi lain yang tidak terduga.
Karena itu, petugas kebencanaan mengimbau masyarakat untuk selalu memberi tahu keluarga mengenai tujuan perjalanan, membawa alat komunikasi yang aktif, memperhatikan waktu kepulangan dan sebisa mungkin tidak beraktivitas sendirian di lokasi yang jauh dari permukiman.
Langkah sederhana tersebut sering kali menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pencarian ketika terjadi keadaan darurat.
Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian masih terus berlangsung.
Lampu-lampu senter masih menyala di sepanjang kawasan Sungai Butun.
Petugas masih bergerak.
Warga masih bertahan.
Keluarga masih menunggu.
Satu pertanyaan yang terus menggantung di tengah malam Desa Tugang belum juga menemukan jawaban, apakah yang sebenarnya terjadi pada pria yang pergi ke kebun itu, tetapi tidak pernah kembali pulang? (BELVA)


