BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Asap putih keabu-abuan perlahan menelan lanskap hijau Sungai Daeng. Di antara pohon kelapa yang menjulang dan rumpun pisang yang tumbuh di tepian kebun, api merambat melalui rerumputan serta semak yang mengering.
Jumat (28/8/2026), kawasan perkebunan dekat permukiman warga di Jalan Kapt. Ali Zein, Puput, Kelurahan Sungai Daeng, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, kembali terbakar.
Angin kencang membuat kobaran semakin sulit dikendalikan. Cuaca panas mempercepat keringnya vegetasi, sementara api terus mencari bahan bakar baru di sepanjang lahan.
Di belakang kepulan asap itu, rumah-rumah warga berdiri.
Karena itulah pemadaman tidak sekadar menjadi upaya menghentikan api di lahan. Ia menjadi usaha mempertahankan jarak antara kobaran dan ruang hidup masyarakat.
Dua mobil tangki BPBD dan PDAM dikerahkan. Satu unit Water Tank TNI AD turut diturunkan. Ketua RT bersama warga sekitar ikut membantu petugas memadamkan kobaran.
Selang-selang dibentangkan menuju titik api. Air dialirkan ke kawasan yang dipenuhi asap. Petugas dan warga bergerak di tengah panas, berusaha memotong perjalanan api sebelum menjalar lebih jauh.
Dokumentasi di lokasi sekitar pukul 13.51 WIB memperlihatkan mobil tangki PDAM Tirta Sejiran Setason berada di tepi lahan yang terbakar. Selang pemadam diarahkan menuju kawasan yang tertutup asap, sementara beberapa orang berada di sekitar kendaraan dan titik kebakaran.
Sekitar pukul 13.58 WIB, kepulan asap masih terlihat tebal di antara pepohonan. Kendaraan operasional berada di area lahan, sementara petugas dan warga berupaya mendekati bagian yang terbakar.
Pemandangan itu memperlihatkan perubahan cepat sebuah lanskap.
Kebun yang biasanya menjadi ruang hijau berubah menjadi ruang yang harus ditaklukkan oleh air.
Pohon kelapa tetap berdiri, tetapi tajuknya tertutup asap. Pisang dan vegetasi lain masih tampak di antara kabut putih. Di bawahnya, api bergerak di atas rumput dan semak kering.
Sekitar pukul 14.22 WIB, Water Tank TNI AD masih berada di sekitar permukiman. Selang panjang membentang dari kendaraan menuju kawasan kebakaran.
Kehadiran kendaraan tangki sedekat itu dengan rumah warga menunjukkan satu hal tentang api sudah menjadi persoalan keselamatan ruang hidup, bukan sekadar persoalan lahan.
Coki, salah seorang warga yang ikut membantu proses pemadaman, mengatakan kobaran api pertama kali terlihat dari bagian jurang di sekitar lokasi.
Ia menduga kebakaran bermula dari pembakaran sampah yang kemudian ditinggalkan.
“Kyak e ade orang yang bakar sampah di bawah, terus dak di liat setelah di bakar,” ujar Coki.
Dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab kebakaran.
Namun, dugaan itu memperlihatkan bagaimana sebuah persoalan besar dapat bermula dari tindakan yang terlihat kecil.
Sampah dibakar.
Api ditinggalkan.
Bara masih hidup.
Kemudian angin datang.
Rerumputan kering menyambutnya.
Dalam waktu yang tidak panjang, api menemukan jalan untuk bergerak.
Bara kecil tidak pernah benar-benar kecil ketika berada di atas lahan yang kering.
Salah satu tantangan terbesar di lokasi adalah angin.
Api dapat bergerak mengikuti arah tiupan. Ketika satu bagian lahan berhasil dibasahi, bagian lain berpotensi kembali menyala jika masih menyimpan bara.
Asap pun berpindah.
Pandangan menjadi terbatas.
Petugas harus bekerja dengan memperhitungkan arah angin dan kondisi vegetasi.
Inilah mengapa pemadaman karhutla bukan sekadar menyemprotkan air ke api yang terlihat.
Ada titik panas yang harus diperhatikan.
Ada bara yang harus dipastikan mati.
Ada jalur rambatan yang perlu diputus.
Ada kawasan permukiman yang harus tetap dijaga.
Dalam kondisi seperti ini, setiap menit menjadi penting.
Ketika api mendekati ruang hidup mereka, warga tidak hanya berdiri menyaksikan.
Ketua RT dan masyarakat ikut membantu proses pemadaman.
Mereka berada di sekitar petugas, membantu mengarahkan penanganan di lapangan dan menghadang laju kobaran.
Kehadiran masyarakat menjadi bagian penting dalam penanggulangan.
Sebab warga menjadi pihak yang paling dekat dengan lingkungan tempat kebakaran berlangsung.
Mereka mengetahui jalan masuk.
Mereka mengetahui posisi rumah.
Mereka melihat perubahan arah asap.
Mereka pula yang akan merasakan dampaknya ketika api semakin meluas.
Di tengah asap yang tebal, sekat antara petugas dan masyarakat menjadi semakin tipis.
Semua bekerja untuk satu tujuan:
Menjaga agar api tidak melewati batas.
Karhutla dan Harga yang Tidak Terlihat
Ketika sebuah lahan terbakar, kerugian tidak selalu langsung terlihat.
Rumput yang menghitam mungkin tampak sederhana.
Namun vegetasi yang hilang berarti berkurangnya tutupan tanah. Asap yang menyebar berarti kualitas udara yang terganggu. Api yang mendekati permukiman berarti meningkatnya risiko keselamatan.
Ketika kebakaran berulang, lingkungan kehilangan kesempatan untuk pulih secara alami.
Karena itu, karhutla tidak seharusnya dipandang hanya sebagai persoalan luas lahan yang terbakar.
Ada ekosistem di dalamnya.
Ada manusia di sekitarnya.
Ada udara yang harus tetap bersih.
Ada ruang hidup yang harus tetap aman.
Dua kendaraan tangki BPBD dan PDAM serta satu Water Tank TNI AD yang dikerahkan ke lokasi menjadi gambaran tentang besarnya sumber daya yang dibutuhkan ketika api sudah telanjur menyala.
Air harus dibawa.
Kendaraan harus bergerak.
Personel harus dikerahkan.
Warga harus membantu.
Semua itu benteng terakhir.
Sementara benteng pertama sesungguhnya berada sebelum api muncul.
Yakni kesadaran.
Tidak membakar sampah sembarangan.
Tidak menggunakan api untuk membuka lahan.
Tidak meninggalkan bara.
Membersihkan material kering di sekitar rumah.
Segera melaporkan jika melihat titik api.
Pencegahan mungkin tidak menghasilkan gambar dramatis seperti mobil tangki di tengah asap.
Namun justru di situlah nilainya.
Kebakaran yang berhasil dicegah adalah bencana yang tidak pernah menjadi berita.
Hingga proses penanganan berlangsung, kobaran api di kawasan Jalan Kapt. Ali Zein belum sepenuhnya berhasil dipadamkan dan masih berpotensi meluas karena angin kencang serta cuaca panas.
Para petugas dan warga masih berusaha mengendalikan api.
Di sekitar mereka, pohon kelapa tetap berdiri.
Pisang masih tumbuh.
Rumah-rumah masih menunggu dalam diam.
Air terus dialirkan untuk menjaga semuanya tetap berada di sisi yang aman.
Peristiwa ini meninggalkan sebuah pelajaran bahwa karhutla bukan hanya tentang api yang membakar lahan, tetapi tentang hubungan manusia dengan ruang hidupnya.
Ketika lahan terbakar, manusia kehilangan lebih dari sekadar rerumputan.
Ia kehilangan bagian dari lanskap yang selama ini dianggap biasa.
Sesuatu yang dianggap biasa sering kali baru terasa berharga setelah hilang.
Maka perjuangan sesungguhnya bukan berhenti ketika nyala api padam.
Setelah itu, masih ada bara yang harus dicari.
Masih ada lahan yang harus dipulihkan.
Masih ada penyebab yang harus ditelusuri.
Paling penting, masih ada kebiasaan yang harus diubah.
Sebab memadamkan api adalah tindakan ketika bencana telah datang. Mencegah api menyala adalah bentuk keberanian menjaga kehidupan sebelum bencana mengetuk pintu.
Di Sungai Daeng, air hari ini sedang melawan api.
Tetapi pertarungan yang lebih besar sesungguhnya adalah melawan kelalaian.
Sebab api tidak pernah mengenal siapa yang menyalakannya ketika ia mulai menjalar.
Ia hanya mencari bahan bakar berikutnya.
Jika tidak dihentikan, yang terbakar bukan lagi sekadar lahan.
Rumah bisa terancam. Udara bisa tercemar. Vegetasi bisa hilang. Ruang hidup perlahan berubah menjadi abu.
Karena itu, sebelum api berikutnya muncul, barangkali pertanyaan yang paling penting bukan siapa yang akan memadamkan?.
Melainkan, apa yang bisa kita lakukan agar api itu tidak pernah menyala?. (Belva)


