Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Suasana kerja yang semula berjalan biasa di perairan Tanjung Niur, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, mendadak berubah menjadi kepanikan. Seorang pekerja bernama Badrun Supriadi (43), warga Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, dilaporkan hilang setelah terseret arus laut saat hendak kembali ke daratan usai bekerja memasang pipa tambak udang milik PT FPI, Minggu (17/5/2026) sekitar pukul 15.27 WIB.
Peristiwa memilukan itu terjadi ketika para pekerja selesai menjalankan aktivitas pemasangan pipa untuk kebutuhan operasional tambak udang di Desa Tanjung Niur. Namun di tengah perjalanan pulang, kondisi laut yang disebut berubah secara mendadak diduga menjadi awal petaka.
Arus yang semula tampak biasa tiba-tiba berubah sangat kuat. Dalam hitungan detik, Badrun dilaporkan terlepas dari alat pengaman hingga akhirnya hanyut terbawa arus.
Bagi rekan-rekannya, kejadian tersebut menjadi momen yang tidak mudah dilupakan. Kepanikan pecah di tengah laut. Upaya pencarian spontan dilakukan, tetapi derasnya arus membuat keadaan semakin sulit dikendalikan.
Romi, warga Desa Tanjung Niur yang berada di sekitar lokasi kejadian, mengatakan perubahan arus sore itu berlangsung sangat cepat dan mengejutkan.
“Arusnya tiba-tiba kencang sekali. Teman-temannya langsung panik dan berusaha mencari korban, tapi sampai Minggu malam tadi belum ditemukan,” ujar Romi, Senin (18/5/2026).
Menurut Romi, para pekerja juga segera meminta pertolongan setelah menyadari Badrun hilang dari pandangan.
“Melihat kejadian tersebut, teman-teman kerjanya tadi berupaya meminta pertolongan untuk mencari Pak Badrun Supriadi,” katanya.
Di tengah kecemasan yang menyelimuti lokasi kejadian, warga sekitar ikut menunjukkan solidaritas. Sebagian masyarakat memantau perkembangan pencarian, sebagian lainnya membantu upaya pencarian di sekitar perairan.
“Kami berharap korban cepat ditemukan. Warga di sini juga ikut memantau perkembangan dan membantu pencarian,” tambah Romi.
Hingga berita ini ditulis, personel Polsek Tempilang bersama masyarakat masih terus melakukan pencarian terhadap korban.
Kasus hilangnya seorang pekerja di laut seperti yang dialami Badrun bukan hanya meninggalkan duka dan kecemasan bagi keluarga, tetapi juga menjadi pengingat keras bahwa keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan berisiko tinggi tidak boleh dipandang sekadar prosedur administratif.
Pekerjaan di wilayah perairan memiliki risiko besar terhadap perubahan arus yang cepat, cuaca yang sulit diprediksi, kelelahan pekerja, hingga keterbatasan respons darurat. Dalam situasi seperti ini, perusahaan memiliki tanggung jawab moral sekaligus operasional untuk memastikan setiap pekerja terlindungi secara maksimal.
Penggunaan alat pelindung diri, evaluasi kondisi cuaca dan arus sebelum bekerja, kesiapan alat evakuasi, pelatihan tanggap darurat, hingga sistem pengawasan keselamatan yang disiplin menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
Keselamatan kerja tidak hanya berarti pekerja pulang dalam keadaan selamat, tetapi juga memastikan setiap keluarga tidak dihantui ketidakpastian menunggu kabar orang tercinta yang tak kunjung kembali.
Di balik setiap proyek dan aktivitas operasional perusahaan, terdapat manusia dengan keluarga yang menunggu di rumah. Karena itu, budaya K3 semestinya tidak berhenti sebagai dokumen perusahaan, melainkan menjadi praktik nyata yang hidup di lapangan, terutama pada sektor kerja berisiko tinggi seperti perairan dan pesisir.
Peristiwa di Tanjung Niur menjadi pengingat bahwa dalam dunia kerja, target pekerjaan penting, tetapi keselamatan pekerja harus selalu menjadi prioritas utama
(BELVA)


