BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Pagi itu, Lapangan Tembak Polres Bangka Barat tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan kepolisian. Sabtu (12/9/2026), kawasan tersebut berubah menjadi ruang belajar bagi generasi muda yang mulai mengenal lebih dekat dunia kepolisian.
Sejak pukul 08.30 WIB, para peserta Penerimaan Tamu Saka (PTS) atau perkemahan pelantikan Saka Bhayangkara mengikuti rangkaian kegiatan yang tidak berhenti pada seremoni pelantikan.
Di tempat itu, mereka belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab hingga pentingnya kepedulian terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat.
Empat krida utama Saka Bhayangkara menjadi bagian dari pembekalan. Para peserta diperkenalkan dengan Krida Ketertiban Masyarakat (Tibmas), Krida Lalu Lintas (Lantas), Krida Pencegahan dan Penanggulangan Bencana (PPB), serta Krida Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Bagi peserta, materi tersebut memberikan gambaran bahwa tugas menjaga keamanan memiliki ruang yang luas. Tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga pencegahan, kepedulian sosial dan keterlibatan masyarakat.
Kapolres Bangka Barat, AKBP Helen Simanjuntak, S.H., S.I.K., M.H., melalui Kasi Humas Polres Bangka Barat IPTU Yos Sudarso mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan generasi muda.
“Pembinaan Saka Bhayangkara bukan hanya mengenalkan lingkungan kepolisian, tetapi juga memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada generasi muda agar memiliki kedisiplinan, tanggung jawab serta kepedulian terhadap kamtibmas,” kata Yos.
Pesan tersebut menjadi penting karena Saka Bhayangkara tidak hanya dipandang sebagai kegiatan tambahan bagi para pelajar atau generasi muda. Di dalamnya terdapat proses pembentukan karakter melalui pengalaman langsung.
Rangkaian kegiatan dikemas melalui apel, pembekalan, kegiatan kebersamaan, pelantikan hingga pengukuhan atribut Saka Bhayangkara.
Namun, di balik atribut yang dikenakan setelah pelantikan, terdapat pengalaman yang diharapkan mampu melekat lebih lama daripada sekadar kegiatan sehari.
Hal itu dirasakan Sri Adira, salah satu peserta PTS. Baginya, mengikuti kegiatan tersebut memberikan perspektif baru tentang arti keamanan di tengah masyarakat.
“Bagi saya, ini bukan hanya tentang dilantik menjadi anggota Saka Bhayangkara, tetapi tentang mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak semua orang bisa rasakan. Di sini saya belajar bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugas polisi, tetapi juga membutuhkan kepedulian dari generasi muda,” ujar Sri Adira.
Pengalaman tersebut membuat kegiatan PTS memiliki makna lebih luas. Para peserta diajak memahami bahwa keamanan bukan sesuatu yang hanya dibicarakan ketika terjadi tindak kriminal, kecelakaan, bencana atau gangguan ketertiban.
Keamanan juga dibangun dari kebiasaan sederhana.
Disiplin menaati aturan lalu lintas, peduli terhadap lingkungan, mengetahui langkah menghadapi bencana, hingga memahami pentingnya menjaga kondisi tempat kejadian perkara merupakan bagian dari kesadaran yang dapat dibangun sejak usia muda.
Dari situlah Saka Bhayangkara diharapkan menjadi salah satu ruang pendidikan karakter.
Sri Adira berharap pengalaman yang diperolehnya dapat membentuk dirinya dan anggota Saka Bhayangkara lainnya menjadi pribadi yang lebih disiplin dan bertanggung jawab.
Ia juga berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti di lokasi kegiatan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan pengaruh positif di lingkungan masing-masing.
Harapan tersebut sejalan dengan tujuan Polres Bangka Barat dalam pembinaan Saka Bhayangkara. Organisasi ini diharapkan menjadi wadah positif bagi generasi muda untuk mengembangkan kedisiplinan, kepemimpinan dan kepedulian sosial, sekaligus memperkuat hubungan antara Polri dan masyarakat.
Sebab, membangun keamanan tidak selalu harus dimulai dari ruang-ruang formal.
Kadang, ia justru tumbuh dari pengalaman sederhana seorang anak muda yang belajar disiplin, memahami tanggung jawab, mengenal lingkungan kepolisian dan mulai menyadari bahwa keamanan adalah kepentingan bersama.
Karena itu, PTS Saka Bhayangkara di Bangka Barat bukan sekadar tentang kemah dan pelantikan.
Ia menjadi sebuah proses kecil untuk menanamkan kesadaran besar bahwa menjadi penjaga keamanan tidak selalu harus menunggu mengenakan seragam polisi.
Penulis: Belva Al Akhab


