BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Bagi sejumlah warga Kampak, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, tambang timah bukan sekadar aktivitas ekonomi di kawasan DAS. Ada penghasilan keluarga yang bergantung dari pekerjaan itu, ada nelayan yang disebut menerima kompensasi, hingga rumah ibadah yang diklaim ikut memperoleh bagian.
Aktivitas tambang timah jenis rajuk tower di DAS Kampak disebut warga selama ini menjadi salah satu sumber pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Ketika kondisi ekonomi dirasakan masih sulit, kesempatan bekerja menjadi penting untuk menjaga dapur tetap mengepul.
“Kegiatan tambang timah rajuk tower di Kampak ini sangat membantu masyarakat. Warga bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar seorang warga.
Bagi warga yang bekerja secara langsung di lokasi, penghasilan dari tambang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Uang tersebut kemudian berputar di lingkungan sekitar untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Manfaat yang disebut warga tidak berhenti pada pekerja tambang.
Mereka mengatakan terdapat kompensasi dari hasil aktivitas tambang yang nilainya mencapai 20 persen. Berdasarkan keterangan warga, pembagian itu terdiri dari 10 persen untuk Masjid RT Mandaru, 6 persen untuk Masjid Dusun Kampak, 3 persen untuk nelayan dan 1 persen untuk operasional panitia.
“Selain bisa bekerja, ada juga kompensasi yang dirasakan masyarakat. Ada untuk masjid, nelayan dan kebutuhan masyarakat lainnya. Jadi memang cukup membantu,” kata warga lainnya.
Klaim mengenai pembagian kompensasi tersebut menjadi bagian dari cerita warga tentang bagaimana aktivitas tambang mempengaruhi kehidupan sosial-ekonomi di Kampak. Namun, di sisi lain, kegiatan pertambangan di kawasan DAS juga membawa persoalan yang lebih luas terkait tata kelola ruang dan lingkungan.
Daerah aliran sungai merupakan kawasan yang memiliki fungsi ekologis penting. Perubahan bentang alam akibat aktivitas ekstraktif berpotensi mempengaruhi kondisi lingkungan apabila tidak dikelola sesuai ketentuan.
Karena itu, harapan warga untuk kembali bekerja berhadapan dengan kebutuhan lain yang tak kalah penting: memastikan aktivitas ekonomi berlangsung sesuai aturan dan tidak mengorbankan fungsi lingkungan.
Warga mengatakan mereka tidak ingin kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan, terutama ketika lapangan pekerjaan lain belum tentu mudah didapat.
“Kami berharap masyarakat bisa kembali bekerja. Yang penting masyarakat bisa mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Harapan itu menunjukkan bahwa persoalan tambang di Kampak memiliki wajah yang berlapis. Di satu sisi, ada kebutuhan ekonomi warga. Di sisi lain, ada DAS yang perlu dijaga dan aturan yang harus dipatuhi.
Bagi warga, pekerjaan menjadi alasan utama mengapa aktivitas tambang dinilai penting. Penghasilan yang diperoleh tidak hanya untuk pekerja, tetapi juga disebut berdampak pada aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar.
Mereka berharap penyelesaian persoalan tambang rajuk tower di DAS Kampak tidak berhenti pada soal boleh atau tidaknya aktivitas berlangsung. Kepentingan masyarakat yang membutuhkan pekerjaan juga diminta masuk dalam pembahasan.
Warga berharap ada solusi yang mampu mempertemukan kebutuhan mencari nafkah dengan perlindungan lingkungan serta kepatuhan terhadap aturan pertambangan.
Sebab, bagi masyarakat Kampak, tambang bukan hanya tentang timah yang diambil dari bumi. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, tempat ibadah yang disebut menerima manfaat, serta kehidupan masyarakat yang terus berjalan di sekitar kawasan DAS. (Belva)


