PANGKALPINANG, TARGETKRIMINAL.COM — Suasana laut yang gelap di Perairan Pantai Pukan, Kabupaten Bangka, berubah menjadi medan penyelamatan pada Minggu (9/8/2026) dini hari.
Di tengah ombak besar, tim Basarnas harus berpacu dengan waktu untuk menjangkau KM Nadira yang mengalami kebocoran dan kandas. Kapal tersebut bahkan sudah hampir dipenuhi air laut ketika tim penyelamat berhasil merapat.
Dua awak kapal, Herman (30) dan Saroni (30), menjadi prioritas utama dalam operasi tersebut.
Peristiwa bermula ketika KM Nadira, kapal dengan ciri khas warna merah, krem, dan putih, bertolak dari Pelabuhan Jelitik, Kabupaten Bangka, Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.
Kapal itu berlayar menuju Pantai Sampur, Kabupaten Bangka Tengah, untuk mengantar ponton.
Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi keadaan darurat sekitar pukul 02.40 WIB.
Kebocoran terjadi di tengah perjalanan. Air laut mulai masuk ke badan kapal.
Menyadari situasi semakin berbahaya, nakhoda mengambil keputusan cepat. KM Nadira dikandaskan di sekitar Perairan Pantai Pukan, pada titik koordinat perkiraan 2°02’22.1″S 106°11’44.0″E.
Keputusan itu diambil untuk menjaga keselamatan awak kapal.
Informasi kemudian disampaikan kepada Polairud dan diteruskan ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Pangkalpinang.
Tidak lama berselang, operasi penyelamatan dimulai.
Satu Tim Rescue Basarnas bersama Anak Buah Kapal (ABK) KN SAR Karna diberangkatkan menuju lokasi. Tim menggunakan sekoci untuk mendekati KM Nadira yang telah kandas.
Tetapi laut tidak memberikan jalan yang mudah.
Ombak besar membuat pergerakan sekoci menjadi sulit. Tim harus melakukan manuver di tengah kondisi perairan yang kurang bersahabat.
Dalam perjalanan tersebut, sekoci yang membawa personel Rescue bahkan sempat ikut kandas.
Situasi kritis itu berhasil diatasi dengan cepat. Personel di lapangan kembali mengendalikan sekoci dan melanjutkan perjalanan menuju KM Nadira.
Saat akhirnya berhasil mendekati kapal, kondisi yang mereka temukan jauh lebih mengkhawatirkan.
KM Nadira sudah hampir sepenuhnya dipenuhi air laut.
Tanpa membuang waktu, tim Rescue bergerak melakukan evakuasi. Herman dan Saroni dipindahkan dari kapal menuju sekoci.
Keduanya berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Sejumlah peralatan dan barang berharga milik mereka juga berhasil dibawa bersama.
Komandan Tim (Dantim) Basarnas, Gitri Prima, mengatakan kondisi gelombang menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi.
“Proses evakuasi cukup menantang karena kami harus berhadapan dengan ombak yang besar, bahkan sekoci kami sempat kandas,” ungkap Gitri Prima.
Menurutnya, kondisi KM Nadira saat tim berhasil merapat sudah sangat memprihatinkan.
“Saat tim berhasil merapat, kondisi kapal korban sudah sepenuhnya kemasukan air. Alhamdulillah, fokus utama kami membuahkan hasil dan kedua korban berhasil kami evakuasi ke sekoci dalam keadaan selamat beserta barang-barang berharganya,” ujarnya.
Gitri menegaskan, keselamatan jiwa menjadi prioritas dalam operasi tersebut. Sementara kondisi kapal yang kandas akan ditangani secara terpisah.
“Untuk status kapal KM Nadira yang kandas dan dipenuhi air, nantinya akan dilakukan penarikan secara mandiri oleh rekan-rekan mereka. Tugas kami fokus pada operasi penyelamatan dan memastikan keselamatan nyawa korban,” tambahnya.
Setelah berhasil keluar dari lokasi, Herman dan Saroni dibawa menuju Dermaga PTS Pangkalbalam.
Di dermaga, keduanya kemudian diserahkan kepada pihak keluarga masing-masing dalam keadaan selamat.
Operasi SAR pun dinyatakan selesai.
Pelayaran KM Nadira yang dimulai dari Pelabuhan Jelitik berubah menjadi perjuangan panjang melawan kebocoran dan ombak besar. Kapal memang harus kandas dan nyaris dipenuhi air laut.
Namun, di tengah situasi yang serba genting itu, misi utama Basarnas berhasil dituntaskan menemukan dua awak kapal berhasil diselamatkan dan kembali ke daratan dalam keadaan selamat. (Belva)


