Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM – Sungai Butun di Desa Tugang, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, bukan sekadar aliran air yang membelah hutan dan perkebunan warga. Bagi masyarakat setempat, sungai tersebut merupakan bagian dari sejarah panjang desa, sumber mata pencaharian nelayan udang, sekaligus ruang hidup satwa liar yang kini semakin sering bersinggungan dengan manusia.
Dalam beberapa tahun terakhir, nama Sungai Butun berulang kali muncul dalam berbagai peristiwa yang menyita perhatian publik. Mulai dari serangan buaya terhadap nelayan pencari udang hingga kasus hilangnya warga yang memicu operasi pencarian gabungan di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Butun.
Rangkaian peristiwa itu memunculkan pertanyaan yang kini menjadi perbincangan warga, apakah Sungai Butun sedang mengalami perubahan yang membuat konflik antara manusia dan satwa liar semakin sering terjadi?
Tokoh masyarakat Desa Tugang menyebut Sungai Butun memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan desa.
“Dulu sebelum jalan darat berkembang seperti sekarang, sungai menjadi jalur utama masyarakat. Orang pergi ke kebun, mencari ikan, mengangkut hasil panen, semuanya melalui sungai. Kalau sungai ini hilang, hilang juga sebagian sejarah Tugang,” katanya kepada wartawan, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, hampir seluruh keluarga di Desa Tugang memiliki hubungan erat dengan Sungai Butun.
Sebagian menjadi nelayan ikan, pencari udang, pencari kepiting, hingga petani yang memanfaatkan sumber air sungai untuk kebutuhan perkebunan.
“Kami dibesarkan oleh sungai ini. Dari kecil mandi di sini, belajar mendayung di sini, mencari makan juga dari sini. Sungai Butun bukan hanya aliran air, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Hingga saat ini, aktivitas mencari udang masih menjadi salah satu pekerjaan yang dilakukan masyarakat di sepanjang Sungai Butun.
Sejak dini hari, sejumlah nelayan sudah turun ke sungai membawa bubu dan peralatan tangkap tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Seorang nelayan setempat mengatakan hasil udang Sungai Butun dahulu dikenal cukup melimpah.
“Kalau dulu satu malam pasang bubu bisa dapat banyak. Hasilnya cukup untuk kebutuhan keluarga beberapa hari. Banyak orang menggantungkan hidup dari udang sungai,” katanya.
Namun aktivitas tersebut bukan tanpa risiko.
Para nelayan harus memahami pasang surut air, kondisi cuaca, hingga titik-titik tertentu yang dianggap berbahaya.
“Kami selalu diajarkan menghormati sungai. Jangan merusak alam dan jangan sembarangan. Ada aturan tidak tertulis yang diwariskan orang tua kami,” ujarnya.
Kekhawatiran masyarakat mulai meningkat setelah peristiwa meninggalnya seorang nelayan pencari udang bernama Jaka pada 2024.
Saat itu korban dilaporkan hilang ketika mencari udang seorang diri di Sungai Butun. Setelah dilakukan pencarian oleh tim gabungan dan masyarakat, korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan diduga menjadi korban serangan buaya.
Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi warga.
“Kami mencari dari pagi sampai malam. Semua berharap beliau ditemukan selamat. Banyak warga yang ikut menangis karena beliau dikenal baik dan sudah lama mencari udang di sungai ini,” kata seorang warga yang ikut dalam pencarian.
Menurut warga lainnya, keberadaan buaya sebenarnya bukan hal baru di kawasan Sungai Butun.
“Dari dulu memang ada cerita soal buaya. Orang tua kami selalu mengingatkan agar berhati-hati kalau turun ke sungai, terutama malam hari,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah warga mengaku dalam beberapa tahun terakhir kemunculan buaya semakin sering terlihat.
“Kadang hanya terlihat matanya di permukaan air. Kadang terlihat seluruh badannya saat berada di tepi sungai. Kalau sudah begitu kami langsung menjauh,” kata seorang nelayan.
Konflik Manusia dan Buaya Kian Dekat
Masyarakat Desa Tugang memahami bahwa Sungai Butun merupakan habitat alami buaya muara.
Karena itu, sebagian warga menilai konflik yang terjadi tidak bisa dilihat semata-mata sebagai persoalan satwa liar menyerang manusia.
“Dulu orang tua selalu bilang sungai ini bukan hanya milik manusia. Ada makhluk lain yang hidup di dalamnya. Kami diajarkan untuk menghormati alam,” kata seorang warga lanjut usia.
Namun perubahan lingkungan dan meningkatnya aktivitas masyarakat di sekitar sungai dinilai ikut memperbesar peluang terjadinya konflik.
“Sekarang aktivitas masyarakat semakin banyak. Kebun juga makin dekat dengan sungai. Mungkin karena itu manusia dan buaya semakin sering bertemu,” ujarnya.
Kekhawatiran warga kembali muncul setelah hilangnya Kamaludin, seorang petani yang pergi ke kebun di sekitar kawasan Sungai Butun pada Rabu (3/6/2026).
Kabar hilangnya pria tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh desa.
Tim SAR, aparat keamanan, pemerintah desa dan warga kemudian melakukan pencarian di kawasan hutan dan sepanjang aliran sungai.
“Tidak ada yang bisa tidur nyenyak. Semua ikut mencari dan berharap ada kabar baik. Saat ada warga hilang, seluruh desa ikut merasakan kehilangan,” kata seorang warga.
Di sisi lain, keluarga korban hanya bisa menunggu perkembangan pencarian.
“Yang paling berat itu menunggu. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi tetap berharap ada keajaiban,” ujar kerabat korban.
Meski berbagai peristiwa tragis terjadi, masyarakat Tugang mengaku tidak pernah memandang Sungai Butun sebagai musuh.
Bagi mereka, sungai tersebut tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau orang hanya membaca berita soal buaya, mungkin mereka menganggap sungai ini menakutkan. Padahal sungai ini sudah memberi makan banyak keluarga selama puluhan tahun,” kata seorang pemuda desa.
Senada dengan itu, seorang ibu rumah tangga mengaku masih sering menghabiskan waktu di tepian sungai.
“Saya lahir di sini, anak-anak saya juga besar di sini. Memang ada rasa takut setelah banyak kejadian, tapi sungai ini tetap bagian dari hidup kami,” ujarnya.
Kini, di tengah aliran air yang tampak tenang, Sungai Butun menyimpan dua wajah sekaligus.
Di satu sisi, sungai itu tetap menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Desa Tugang. Namun di sisi lain, berbagai peristiwa yang terjadi menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dan alam memerlukan keseimbangan yang terus dijaga.
“Kami hanya ingin Sungai Butun tetap menjadi sumber kehidupan, bukan sumber ketakutan,” kata seorang warga sambil memandang aliran sungai yang perlahan bergerak menuju muara.
Ucapan itu menjadi gambaran harapan masyarakat Tugang agar Sungai Butun tetap menjadi warisan kehidupan bagi generasi mendatang, bukan sekadar dikenang karena deretan tragedi yang pernah terjadi. (BELVA)


