Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM – Pemerintah Kabupaten Bangka Barat membentuk 66 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai langkah memperkuat ekonomi desa sekaligus mendorong hasil pertanian dan perikanan lokal masuk ke rantai distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sebanyak 66 KDKMP yang telah berbadan hukum itu terdiri dari 60 koperasi desa dan 6 koperasi kelurahan. Pembentukannya mengacu pada SK Satgas Nomor 188.45/186/DKUP/2025 serta Peraturan Bupati Nomor 31 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Bupati Bangka Barat Markus, SH mengatakan pembentukan koperasi tersebut bukan sekadar memenuhi target administrasi, tetapi menjadi langkah memperkuat keterlibatan masyarakat desa dalam rantai ekonomi daerah.
“Kita memiliki banyak potensi pangan lokal, mulai dari sayur, ikan hingga hasil pertanian lainnya. Tetapi masyarakat masih mengeluhkan bahwa produk mereka belum dilibatkan secara maksimal. Ini yang harus kita dudukkan bersama,” kata Markus di Gedung OR I Kantor Bupati Bangka Barat, Senin (25/5/2026).
Menurut Markus, pemerintah menerima berbagai laporan dari kelompok tani dan pelaku usaha lokal yang mengaku kesulitan memasukkan hasil produksi mereka ke dalam rantai distribusi kebutuhan program MBG maupun SPPG.
Salah satu yang menjadi sorotan ialah kelompok petani sayur di Desa Belo Laut dan Air Putih. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan, hasil panen masyarakat disebut belum terserap secara optimal.
“Kalau petani kita sudah menanam, nelayan kita sudah melaut, tetapi hasilnya tidak masuk ke rantai distribusi daerah sendiri, maka ada persoalan yang harus diperbaiki. Pemerintah tidak ingin masyarakat hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri,” ujarnya.
Pemkab Bangka Barat saat ini juga mulai memetakan potensi unggulan di sejumlah desa untuk dijadikan basis usaha KDKMP.
Di Desa Air Putih, masyarakat mengembangkan sektor hidroponik, peternakan sapi, perikanan hingga perkebunan. Sementara Desa Belo Laut dikenal sebagai sentra hortikultura dengan komoditas cabai besar, sawi, kangkung, tomat dan terung.
Sedangkan di Desa Air Limau, warga mulai mengembangkan peternakan telur puyuh, budidaya ikan air tawar dan laut serta hortikultura cabai sebagai penopang ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah menilai persoalan utama desa selama ini bukan hanya produksi, tetapi juga lemahnya akses pasar dan ketergantungan petani terhadap tengkulak.
Karena itu, KDKMP diarahkan bukan hanya menjadi koperasi simpan pinjam, melainkan lembaga ekonomi desa yang mampu membeli hasil petani, mengelola distribusi hingga membuka akses pemasaran yang lebih luas.
“Tujuan akhirnya adalah bagaimana ekonomi desa bergerak dari bawah. Jangan sampai program besar berjalan, tetapi masyarakat lokal tidak merasakan manfaat langsung,” kata Markus.
Melalui pemetaan potensi desa dan penguatan koperasi, Pemkab Bangka Barat berharap hasil produksi petani, nelayan dan peternak lokal dapat terserap lebih maksimal dalam kebutuhan pangan daerah, termasuk mendukung program MBG dan SPPG. (BELVA)

