BANGKA BARAT, TARGETKRIMINAL.COM — Hentakan drumband SD Negeri 15 Tempilang mengiringi pembukaan Piala HAORNAS Kecamatan Tempilang 2026, Selasa (6/10/2026). Di lapangan yang sama, puluhan anak sekolah dasar bersiap membawa nama sekolah mereka ke arena pertandingan.
Sebanyak 45 tim putra dan putri tingkat SD se-Kecamatan Tempilang ambil bagian dalam turnamen sepakbola mini yang digelar Kelompok Kerja Guru (KKG) Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) Kecamatan Tempilang tersebut.
Turnamen berlangsung mulai 6 hingga 13 Oktober 2026 dan resmi dibuka Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yusderahman.
Namun, Piala HAORNAS Tempilang tidak hanya tentang mengejar gol, mengumpulkan poin atau mengangkat trofi. Di balik kompetisi antarsekolah itu, tersimpan agenda yang lebih panjang untuk membangun karakter sekaligus membuka ruang untuk menemukan bibit-bibit atlet dari bangku sekolah dasar.
Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yusderahman menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, kompetisi olahraga pelajar harus terus diberi ruang sebagai bagian dari pembinaan generasi muda.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan HAORNAS Kecamatan Tempilang tahun 2026. Kegiatan positif seperti ini harus tetap dilaksanakan sebagai wadah pembinaan olahraga pelajar,” ujar Yusderahman.
Pesan itu kemudian diarahkan langsung kepada para pemain muda yang berada di hadapannya.
“Untuk anak-anak hebat Bangka Barat, ingatlah olahraga bukan hanya tentang menang dan menjadi juara. Olahraga mengajarkan kita disiplin, kerja keras, sportivitas, keberanian dan pantang menyerah,” katanya.
Bagi anak-anak, lapangan sepakbola bukan hanya tempat mengejar kemenangan. Di sana mereka belajar menghadapi tekanan, menghormati lawan, menerima keputusan wasit, bekerja sama dan bangkit setelah mengalami kekalahan.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Yusderahman mengajak seluruh pihak menjadikan olahraga sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia Bangka Barat.
“Mari kita bangun generasi Bangka Barat yang sehat, kuat, berkarakter, berprestasi dan berdaya saing,” ajaknya.
Piala HAORNAS Tempilang mengusung tema “Bersama Kita Wujudkan Generasi Sehat, Aktif dan Berprestasi.”
Tema tersebut sejalan dengan pesan kegiatan, “Olahraga Satukan Kita Menuju Indonesia Maju.”
Ketua Panitia Pelaksana, Sopan Sopian, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang bukan sekadar menjadi kompetisi, melainkan ruang untuk menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap olahraga.
“Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kecintaan peserta didik terhadap olahraga, mengembangkan bakat sepakbola, meningkatkan kebugaran, serta menanamkan sportivitas, disiplin, kerja sama, tanggung jawab dan fair play,” ujar Sopian.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia, guru dan kepala sekolah se-Kecamatan Tempilang yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada panitia, guru-guru serta kepala sekolah se-Kecamatan Tempilang yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini,” katanya.
Panitia juga menempatkan turnamen tersebut sebagai ruang untuk menjaring bibit atlet potensial dari Kecamatan Tempilang.
Artinya, pertandingan selama sepekan itu diharapkan tidak berhenti pada siapa yang menjadi juara.
Anak-anak yang memperlihatkan kemampuan terbaik selama pertandingan diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pembinaan berikutnya.
Piala HAORNAS Tempilang mempertandingkan dua kategori, yakni sepakbola mini putra dan putri.
Kehadiran kategori putri menjadi bagian penting dalam membuka ruang pembinaan yang lebih luas.
Sebab, bakat olahraga tidak mengenal satu jenis kelamin. Prestasi juga tidak selalu lahir dari anak yang sejak awal dianggap paling menonjol.
Kadang, kemampuan justru muncul setelah seorang anak mendapatkan kesempatan.
Ia mencoba.
Ia berlatih.
Ia bisa saja gagal.
Kemudian kembali mencoba.
Proses semacam itulah yang membuat kompetisi olahraga pelajar memiliki arti lebih besar daripada sekadar hasil akhir.
Materi publikasi turnamen mencantumkan ketentuan kelahiran peserta, yakni 1 Juli 2013. Ketentuan tersebut menjadi bagian dari pengaturan kelompok usia agar kompetisi berlangsung lebih terarah.
Setiap pemain juga diwajibkan terdaftar secara resmi pada sekolah masing-masing dan hanya boleh terdaftar pada satu tim.
Peserta wajib menggunakan perlengkapan olahraga yang sesuai serta menjunjung tinggi sportivitas.
Aturan tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun, dari aturan itulah anak-anak belajar bahwa pertandingan mempunyai batas, hak, kewajiban dan tanggung jawab.
Mereka belajar bahwa kemenangan tetap memiliki aturan.
Kekalahan bukan alasan untuk kehilangan rasa hormat kepada lawan.
Panitia menyiapkan penghargaan bagi juara I hingga IV serta pencetak gol terbanyak pada kategori putra dan putri.
Tetapi piala hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan.
Piala bisa disimpan di lemari sekolah.
Medali bisa tergantung di kamar.
Foto kemenangan bisa menjadi dokumentasi bertahun-tahun.
Namun disiplin tidak bisa dipajang.
Sportivitas tidak bisa digantung di dinding.
Kepercayaan diri tidak dapat dihitung hanya dari jumlah medali.
Kemampuan bekerja sama pun tidak selalu terlihat dari tabel klasemen.
Nilai-nilai itu tumbuh melalui proses.
Karena itu, lapangan sekolah di Tempilang dapat menjadi titik awal pembentukan generasi yang aktif, sehat dan berkarakter.
Di sinilah peran guru PJOK menjadi penting.
Guru tidak hanya mengajarkan bagaimana menendang bola, mengoper, menjaga posisi atau memahami strategi permainan.
Guru juga dapat mengenali anak yang memiliki koordinasi tubuh baik, daya tahan tinggi, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan maupun keberanian mengambil keputusan.
Anak yang terlihat potensial jangan berhenti pada sertifikat.
Ia perlu diarahkan menuju latihan.
Anak yang kalah jangan berhenti pada kekalahan.
Ia perlu diberi kesempatan untuk berkembang.
Sekolah yang belum memiliki prestasi juga tidak seharusnya kehilangan semangat untuk kembali membangun tim.
Piala HAORNAS Tempilang dijadwalkan berakhir pada 13 Oktober.
Namun, apabila turnamen ini ingin menjadi bagian dari pembinaan olahraga pelajar, pekerjaan penting justru dimulai setelah pertandingan berakhir.
Siapa yang akan membina pemain potensial?
Bagaimana sekolah melanjutkan latihan?
Apakah kompetisi antarsekolah dapat digelar secara berkala?
Bagaimana fasilitas olahraga dapat terus diperbaiki?
Bagaimana anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi tetap mendapatkan kesempatan yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk mengurangi arti sebuah turnamen.
Sebaliknya, pertanyaan itu penting agar kegiatan olahraga mempunyai umur lebih panjang daripada jadwal pertandingan.
Proposal KKG PJOK Tempilang telah menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari pembinaan dan pengembangan olahraga peserta didik.
Tantangannya tentang bagaimana semangat tersebut diteruskan menjadi pembinaan yang berkelanjutan.
Sebab, atlet tidak lahir dari satu pertandingan.
Atlet tumbuh dari latihan yang konsisten, pendampingan, fasilitas, kompetisi dan lingkungan yang mendukung.
Pembukaan Piala HAORNAS Tempilang dihadiri Wakil Bupati Bangka Barat, Kapolsek Tempilang, Kasi Kesmas Kecamatan Tempilang, Kabid PO Disdikpora Bangka Barat, Koordikpora Kecamatan Tempilang, kepala sekolah dasar se-Kecamatan Tempilang serta tamu undangan lainnya.
Kemeriahan pembukaan semakin terasa dengan penampilan drumband SD Negeri 15 Tempilang.
Setelah seremoni selesai, lapangan kembali menjadi milik anak-anak.
Bola akan bergulir.
Kaki-kaki kecil akan berlari.
Ada yang mencetak gol.
Ada yang gagal.
Ada yang menang.
Ada pula yang harus menerima kekalahan.
Tetapi semuanya membawa pulang pengalaman.
Sebab pembangunan sumber daya manusia tidak selalu dimulai dari proyek besar.
Kadang ia bermula dari seorang guru yang mengajak anak berolahraga.
Dari sekolah yang menyediakan lapangan.
Dari orang tua yang memberi kesempatan anak berlatih.
Dari teman satu tim yang mengajarkan arti kerja sama.
Dari wasit yang mengajarkan bahwa aturan berlaku bagi semua.
Dari seorang anak yang, meski kalah hari ini, tetap ingin bermain lagi besok.
Itulah makna terdalam dari Piala HAORNAS Tempilang.
Prestasi tanpa karakter dapat kehilangan arah.
Persahabatan tanpa sportivitas dapat rapuh.
Olahraga tanpa pembinaan hanya akan menjadi pertandingan yang selesai ketika peluit panjang berbunyi.
Sebaliknya, jika olahraga digunakan untuk membangun kesehatan, disiplin, keberanian, kerja sama dan karakter, maka lapangan kecil di Tempilang dapat menjadi bagian dari investasi besar bagi masa depan Bangka Barat.
Satu bola mungkin hanya bergerak selama pertandingan.
Namun nilai yang ditanamkan melalui olahraga dapat bergerak jauh lebih lama untuk mengikuti seorang anak hingga dewasa, memasuki dunia kerja, membangun keluarga dan kelak ikut menentukan arah daerahnya.
Karena itu, Piala HAORNAS Tempilang 2026 bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.
Ia tentang menanam manusia sebelum memanen prestasi.
Dari lapangan sekolah yang sederhana, sebuah perjalanan besar bisa dimulai untuk membangun generasi Bangka Barat yang sehat, aktif, berkarakter dan berprestasi.
Penulis: Belva Al Akhab


